Kamis, 26 Agustus 2021

Bau konflik antar kelas mulai muncul

Bagaimana respon publik terhadap perkembangan penyebaran virus covid-19 mulai membelah masyarakat dalam dua kelas. Kelas pertama menginginkan memutus mata rantai dengan #dirumah.aja#. Sebuah diksi kelas menengah atas yg memandang virus ini lebih sbg persoalan kesehatan. Maklum kelas ini memiliki kemampuan bertahan hidup walau tinggal di rumah krn kapital yg dimiliki mencukupi bahkan walau scr fisik tinggal di rumah namun tabungan atau alat2 produksinya masih bisa berjalan. Tak khayal kelompok pertama ini teramat jengkel terhadap orang2 masih berkerumun di ruang2 publik. Sampai2 mengungkapkan kejengkelan itu dengan nada frustasi #Indonesia.terserah#. Kelas kedua merupakan kelas yg melihat virus corona dampaknya bukan hanya kesehatan namun terlebih adalah bagaimana bertahan hidup. Tidak keluar rumah atau keluar rumah adalah pilihan yg sama2 mempertaruhkan hidup mati. Keluar rumah berpotensi memperparah penyebaran virus, tinggal di rumah juga tak ada jaminan bisa bertahan hidup. Kelompok ini nekat keluar rumah bukan berarti tidak tahu resiko pandemic ini, namun apa boleh buat tidak ada pilihan. Begitulah satu2nya cara menjemput rejeki demi menyambung hidup keluarganya. Kedua kelompok di atas seakan menjadi segregasi kelas sosial bagaimana menyikapi kehidupan ini, maka klaim kebenaran terjadi antara dua kelas tersebut di atas. Namun masih ada dua kelompok lagi yg melampaui batas dari kedua kelompok di atas, yakni: 1) orang yg secara sosial-ekonomi mampu berada di rumah mamun masih saja keluyuran ke mall2 dan ruang publik lainnya yg tidak perlu. 2) orang yg secara sosial-ekonomi sulit bertahan hidup jika tidak bekerja di luar rumah namun mampu menahan diri tinggal di rumah demi memutus mata rantai penyebaran covid-19. Silahkan memilih broo....karena hidup ini pilihan. #bilikrenungeps11 Penulis oleh: saifudin zuhri Pada tangga : 11/11/11
Share:

0 comments:

Posting Komentar