Piknik Lo Kurang Jauh Bro..._
Oleh Saifudin Zuhri.
Penolakan pihak imigrasi Singapura kepada Ustadz Abdul Somad (UAS) untuk masuk ke negara dengan ikon kepala singa itu melahirkan reaksi beragam dari khalayak di Indonesia bahkan media internasional. Bagi para pendukung UAS penolakan itu dianggap sebagai pelecehan, diskriminatif, dan bagian dari syndrome Islamphobia yang karena itu mereka protes keras kepada otoritas Singapura dan menuntut untuk memberi penjelasan dan bahkan permintaan maaf.
Sementara bagi non pendukung UAS tindakan pemerintah Singapura bisa dipahami dan bahkan menyetujuinya. Melalui kedubes Singapura di Jakarta menjelaskan bahwa dasar penolakaan UAS adalah penceramah agama ini terpindai sebagai penceramah yang masuk kategori ekstrim yang sering menyebarkan ujaran kebencian, segregasi, dan fejoratif terhadap ummat agama lain melalui mimbar-mimbar ceramahnya. Penolakan itu sebagai implementasi hukum dan konstitusi Singapura yang memang tidak bisa ditawar-tara lagi dalam menindak tegas setiap paham agama yang terindikasi mengganggu kohesi social dan kedamaian antar ummat beragama, bahkan baru tahap apriori sekalipun. Begitulah hukum dan konstitusi di SIngapura.
Menarik untuk merenungkan kasus tersebut di atas. Bukan karena sosok kontroversial dan nyentrik semacam UAS dan fanatisme pemujanya, namun fenomena tersebut menjadi persoalan krusial dan fundamental menyangkut bagaimana posisi agama dalam negara dan pergaulan global. Apa perbedaan posisi agama dalam stuktur ketatanegaraan antara Indonesia dengan negara-negara lain? Bagaimana implikasinya? Mengapa ada kesan ummat Islam di Indonesia bagai katak dalam tempurung dalam pergaulan global terkait identitas agama?
Bermula dari revolusi industri di Perancis dan beberapa negara lainnya di Eropa, seperti Inggris, Italia, Jerman, dan Rusia, kemudian berkembang menjadi revolusi politik dan pada akhirnya merubah secara fundamental struktur sistem bernegara. Setelah revolusi politik itu kohesi sosial dan sistem ketatanegaraan tidak lagi diatur oleh feodalisme dan dogma agama yang sebelumnya sangat membelenggu. Negara sepenuhnya diatur oleh hukum positif yang diproduksi melalui mekanisme demokrasi dan konstitusional.
Sejak saat itu era feodalisme telah berakhir dan institusi agama harus menyingkir dari public domain termasuk politik dan hanya disisakan ruang untuk hal-hal private. Agama tidak boleh lagi mencampuri urusan politik, hukum, ekonomi, ilmu pengetahuan dan hal-hal yang terkait dengan pengelolaan ruang publik dan kohesi sosial. Perilaku warga negara termasuk interaksi sosialnya sepenuhnya akan diatur oleh hukum positif negara. Agama hanya terkait urusan-urusan pribadi yang terkait dengan hubungan transcendental sesuai keyakinan masing-masing.
Ada pemilahan tegas antara public domain dan private domain. Secara konseptual prinsip tersebut disebut dengan istilah sekulerisme. Sekularisme adalah sebuah ideologi yang menyatakan bahwa sebuah institusi atau badan negara harus berdiri terpisah dari agama atau kepercayaan. Sekularisme bertujuan menjalankan urusan-urusan manusia berdasarkan pertimbangan sekuler dan naturalistik. Bahkan perilaku individu sekalipun yang berimplikasi terhadap ruang public dan interaksi dengan orang lain diatur melalui hukum-hukum positif. Demikian halnya kekuasaan politik juga diproses melalui mekanisme sosial demokratis, bukan berdasar deontologi dogma agama.
Walaupun konteks sejarah sekulerisme tersebut terjadi di Eropa namun seiring dengan kolonialisme dan juga globalisasi pada akhirnya menjadi model dan rujukan negara-negara lain di dunia, begitu juga Negara Kesatuan Republic Indonesia. Sebagai mantan negara jajahan konseptualisasi negara-bangsa (nation-state) Indonesia sedikit banyak mengadopsi konsep dan sistem ketatanegaraan negara-negara penjajahnya.
Namun demikian mempertimbangkan geopoltitik bangsa ini yang berbasis pada negara kepulauan, keragaman, dan pengaruh sejarah pra kolonial, maka rekonstruksi sistem ketatanegaraan pasca proklamasi kemerdekaan ada perbedaan signifikan dengan mainstream negara sekuler Barat. Perbedaan cukup signifikan adalah posisi agama dalam negara. Jika di negara sekuler Barat agama bisa dikeluarkan dari negara namun tidak demikian halnya untuk konteks Indonesia.
Walaupun Indonesia bukan negara agama (teokrasi) namun entitas agama memiliki pengaruh sangat kuat dalam rekonstruksi konsep bernegara, sejak dari perumusan dasar negara, hukum, hingga lembaga-lembaga negara. Di antara agama-agama yang diakui di Indonesa, Islamlah yang paling krusial ketika menyinggung hubungan antara agama dan negara. Bukan hanya karena secara internal agama Islam memang kaya dengan dogma-dogma tentang kekuasaan, peran sejarah umat Islam dan tokoh-tokohnya dalam melawan penjajah yang kebetulan tidak beragama Islam merupakan konstribusi yang kemudian ditagih untuk mendapat konpensasi ketika negara ini merdeka. Walhasil entitas agama Islam mendapat posisi cukup strategis dalam kehidupan sosial dan bahkan dalam institusi negara.
Tidak akan ditemukan di negara lain bagaimana bebasnya komunitas umat Islam begitu mudah mendirikan masjid di mana saja lengkap dengan toa pengeras suaranya. Tidak akan ditemukan di negara manapun umat Islam begitu leluasa menjalankan ibadahnya di trotoar jalan bahkan di tengah jalan sekalipun. Begitu juga tidak akan ditemukan mimbar-mimbar agama digunakan para penceramahnya untuk menyitir ayat-ayat mengkafir-kafirkan ummat lain dan merendahkan kelompok lain yang tidak sepaham. Tidak akan ditemukan di negara manapun penceramah agama dengan seenaknya menghardik dan mencaci maki pemimpin negaranya sendiri. dan tidak akan ditemukan unggahan di media social orang-orang yang dijuluki ustadz, imam besar, habib dll yang dengan bebas membuat konten bernarasi kebencian dan penghinaan.
Di tengah uforia kebebasan mengatasnamakan agama itu anda juga tidak akan temukan negara se-insecure pemerintah Indonesia dalam menindak orang-orang yang sudah kadung mendapat stereotype julukan-julukan suci itu. Negara ini penuh keraguan, minder, serba salah, dan blunder ketika berhadapan dengan hal-hal yang sudah dijustifikasi atas nama agama. Itu semua bermula dari genealogi negara bangsa ini yang sudah terjadi sejak awal pembentukannya.
Namun yang harus disadari adalah Indonesia tidak hidup sendirian. Di era globalisasi sekarang ini antara negara bahkan warga negaranya bisa saling melintas batas antar teritori negara lain. Dalam pergaulan global itulah aturan antar negara berlaku. Masing-masing negara memiliki aturan yang harus ditaati, sebagaimana masing-masing rumah punya etiket yang harus dihormati bagi setiap tamu yang datang. Aturan-aturan itu tentu saja berbeda-beda tergantung latar belakang sejarah dan kondisi geopolitik negara masing-masing.
Kejadian memalukan UAS dan reaksi fans setianya bagai katak dalam tempurung. Kebebasan berekspresi dan keleluasaan menggunakan identitas agamanya yang selama ini dinikmati di negeri ini membutakan mata bahwa di planet bumi ini juga ada orang lain, negara lain, ummat lain, yang tidak bisa dipaksakan untuk sepaham dengannya. Piknik lo kurang jauh broo…..
#bilik.renung.episode_220522#
Sabtu, 21 Mei 2022
Jumat, 20 Mei 2022
PANDEMI YANG TERKENDALI DAN PEMBELAJARAN YANG TERABAIKAN.
on Mei 20, 2022
with
Tidak ada komentar
PANDEMI YANG TERKENDALI DAN PEMBELAJARAN YANG TERABAIKAN.
Oleh Saifudin Zuhri.
Pesta pora perayaan hari raya yang menghadirkan jutaan pemudik, konon tidak kurang 85 juta orang, telah usai. Di tengah pandemi Covid-19 yang belum usai ada perasaan was-was menerka resiko mudik jutaan orang ke kampung-kampung halaman, apalagi ada pelonggaran protokol kesehatan. Namun setelah perayaan itu usai kekhawatiran meledaknya kembali covid-19 tidak terjadi. Hingga hari ini data Covid 19 relatif terkendali, dari laporan gugus Covid 19 datanya cenderung semakin menurun.
Data Covid 19 di Indonesia yang terkendali itu berbanding terbalik dengan data penyebaran covid 19 di beberapa negara lain yang justru meningkat dan mengkhawatirkan, seperti di Korea Utara, Korea Selatan, Taiwan, Jepang, China, dan beberapa negara di Eropa. Melihat perbandingan data tersebut menarik untuk diajukan pertanyaan; apa penyebabnya? Apa persepsi warga Indonesia sendiri terhadap terkendalinya covid-19? Sejauhmana kemampuan belajar masyarakat dalam memetik hikmah Covid 19? Sejauhmana pengetahuan dan kapasitas masyarakat dalam merawat kesehatannya sendiri? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang hendak dibahas dalam tulisan pendek ini.
Belum lama ini pemerintah mengumumkan pelonggaran penggunaan masker di ruang-ruang publik dan pelonggaran protokol kesehatan dalam perjalanan. Kebijakan pelonggaran itu diambil pemerintah didasarkan pada data penurunan paparan virus Covid-19. Data tersebut bisa disimpulkan sementara bahwa penanganan pandemi Covid 19 di Indonesia relatif terkendali dan berhasil, bahkan bisa dikatakan terbaik jika dibandingkan dengan negara-negara tersebut di atas.
Jika dirunut ke belakang, keberhasilan pengendalian pandemi ini bukan terjadi dengan sendirinya. Ada sejumlah proses dan bentuk-bentuk kebijakan yang bisa menjelaskan keberhasilan tersebut. Kecepatan pemerintah memesan vaksin dan manajemen distribusinya, ketepatan mengambil langkah PSBB dan PPKM daripada lock dawn, aplikasi Peduli Lindungi, dan penegakan protocol kesehatan di ruang-ruang publik adalah daftar kebijakan pemerintah yang layak diapresiasi dan senyatanya berhasil. Proses dan kebijakan tersebut menjadi premis empiric yang bisa diuji secara ilmiah atas simpulan bahwa penanganan pandemic di Indonesia berhasil.
Namun demikian, premis tersebut tidak serta merta dipahami khalayak banyak. Terdapat berbagai persepsi yang muncul di masyarakat dalam menilai kenyataan menurunnya pandemic Covid 19, sejak dari yang bernada ignoren, mispersepsi, hingga narasi negatif. Ignorensi itu terlihat dari sikap acuh dan abai masyarakat atas proses yang telah dilalui sehingga keberhasilan sekarang ini tidak mampu dipahami kausalitasnya dengan proses-proses itu dan terjadi begitu saja.
Kelompok yang mispersepsi membangun pandangan bahwa pandemic Covid 19 terkendali karena faktor-faktor di luar kontrol manusia, seperti keyakinan bahwa apapun adalah takdir, nasib, blessing in disguise, atau diyakini faktor kekuatan gaib atau mistik yang sulit dijelaskan secara rasional.
Bagi kelompok oposan penurunan data covid 19 di negeri ini ditanggapi secara minor dan bernada penyangkalan dengan mengkontruksi narasi negatif, seperti tuduhan bahwa pandemic Covid 19 hanyalah akal-akalan bisnis vaksin di lingkaran kekuasaan. Paling banyak mendapat tuduhan adalah sang Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Indonesia yang sekaligus coordinator PPKM Darurat Jawa –Bali, Bapak Luhut Binsar Pandjaitan.
Keragaman persepsi dan sikap masyarakat terhadap fakta penurunan pandemi ini menggambarkan ada keragaman pola pikir dan tingkat ilmu pengetahuan yang beragam dalam kelompok-kelompok sosial di masyarakat. Dalam pada itu, jenis persepsi itu akan terkorelasi dengan hikmah apa yang mampu dipetik oleh masing-masing kelompok.
Terlepas dari keragaman tersebut di atas, semestinya pandemi global yang melanda dunia ini bisa dipetik hikmahnya secara produktif dan konstruktif. Pandemi ini memberi pelajaran banyak hal dalam kehidupan manusia, baik sebagai individu maupun sosial. Ketidakmampuan mengkorelasikan antara hasil dan proses dan mengabaikan usaha-usaha empirik yang terukur membawa bangsa ini menyia-menyiakan kesempatan untuk belajar.
Pembelajaran yang kemarin sempat digiatkan walau terpaksa akan dilupakan kembali. Para pejabat publik malas untuk melatih diri bagaimana menjadi pelayan rakyat yang trengginas dan ikhlas, para peneliti dan akademisi berhenti melanjutkan menemukan vaksin yang diproduksi negeri sendiri, agama kembali kehilangan sentuhan rasionalitasnya, dan para orang tua mulai pasrah bongko'an pendidikan putra putrinya kepada sekolah dan les private.
Kemana gerangan orang-orang yang dulu sadar membudayakan hidup bersih, kemana gerangan orang-orang yang dulu tiba-tiba gemar berolah raga dan berjemur di pagi hari, dan kemana gerakan makan sayur, buah, minum empon-empon, dan lain-lain sebagainya. Semua pelajaran baik sebagai hikmah pandemi itu sekarang dilupakan dan diabaikan.
dan ketika suatu hari musibah sejenis ini datang lagi (semoga tidak) lagi-lagi bangsa ini menjadi pasar untuk menjajakan apa saja kemudian antar anak bangsa ini saling berseteru, menghujat, atau lari dari kenyataan dan kembali hanya mengandalkan ratapan do'a-do'a.
#bilik. renung.episode_200522#
Senin, 16 Mei 2022
MATA RANTAI YANG HILANG
on Mei 16, 2022
with
Tidak ada komentar
MATA RANTAI YANG HILANG.
Oleh Saifudin Zuhri.
Ada berbagai pola perjalanan peradaban umat manusia, ada yang polanya menyambung, zig zag, patah-patah, dan terputus sama sekali. Apa yang ada hari ini akan menggambarkan bagaimana pola hubungan dengan masa lalu. Salah satu cara untuk mengukurnya adalah seperti apa persepsi dan perlakuan orang yang hidup di masa kini dalam melihat artefak peninggalan sejarah masa lalu.
Jika realita kehidupan sekarang ini, seperti pranata sosial, sistem keyakinan, produk-produk budaya material ada titik-titik persamaan dengan nilai-nilai masa lalu berarti ada benang merah yang menyambungkan dengan peradaban masa lalu. Namun jika apa apa yang ada hari ini berbeda atau bahkan baru sama sekali bisa jadi telah terjadi peristiwa yang membuat pola hubungannya zigzag, patah-patah, bahkan terputus sama sekali. Artinya pernah terjadi “sesuatu” dengan peradaban terakhir yang pernah disaksikan manusia, entah karena bencana alam atau peristiwa sosial lainnya, seperti peperangan, konflik, pemusnahan, penghangusan, dan lain sebagainya.
Kemarin 16 Mei 2022 adalah peringatan Tri Suci Waisak 2566 Buddha Era (BE) atau tahun 2022. Setelah 2 tahun tidak ada ritual dan seremoni perayaan karena masa Pandemi Covid 19 prosesi ritual tersebut diadakan kembali. Prosesi pawai dari candi Mendut hingga di plataran candi Borobudur membawa api suci, air berkah dan hasil alam. Dalam arak-arakan pawai tersebut diikuti berbagai majelis Buddha di Indonesia, seperti Walubi, Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi), dan lain sebagainya.
Pagi-pagi saya persiapkan meluncur ke kompleks candi Borobudur untuk menyaksikan langsung bagaimana suasana dan atmosfir perayaan hari suci ummat Buddha tersebut. Sejak jam 07.00 WIB pagi masyarakat dari berbagai penjuru sudah menyemut di sekitar lokasi. Selain ummat Buddha sendiri juga banyak ummat lain yang turut turun ke jalan, ada ummat Kristiani yang saya temui dan banyak ummat Muslim yang berbaur dengen mereka semua.
Ketika arak-arakan mulai datang dan menyusur di sepanjangan jalan dari candi Mendut hingga plataran candi Borobudur ada beberapa hal menarik yang saya amati dan renungkan, di antaranya adalah :
1) Selain mengusung api suci, air berkah, dan hasil bumi terdapat sebuah mobil yang dihias dengan burung Garuda Pancasila yang diiringi oleh puluhan bendera merah putih yang dibawa pengawalnya. Simbul-simbul negara itu begitu menyatu dalam harmoni ritual yang sebenanrnya milik agama. Dari fenomena ini bisa kita petik bahwa komunitas Buddha sangat merghargai dan tahu bagaimana cara berterima kasih pada bangsa dan negara ini. Walaupun ini adalah prosesi keagamaan yang ditonjolkan bukan hanya simbul-simbul agama namun juga sistem sosial yang menjamin hidup kebersamaan dalam kebhinekaan, yakni negara.
2) Di antara barisan pawai itu juga terdapat gunungan hasil-hasil bumi yang diusung secara rapi dan indah, seperti padi, sayur-sayuran dan buah-buahan. Walaupun di antara buah-buah yang disusun adalah mungkin buah import (seperti terlihat buah apel dari Swiss bukan apel Malang) akan tetapi semuanya menggambarkan masyarakat agraris yang mencintai dan mengapresiasi hasil bumi negeri sendiri.
3) Di antara kerumunan massa itu banyak terdapat orang berjilbab sebagai salah satu simbul umat Islam, entah hanya sekedar menonton atau bahkan masuk dalam barisan arak-arakan menuju prosesi acara di candi Borobudur. Satu hal yang salut adalah ummat Buddha tidak merasa sinis atau risih dengan keberadaan ummat lain di samping mereka. Betapa toleransi bukan sekedar wacana namun perilaku nyata.
4) Di sepanjang perjalanan yang ada adalah keheningan dan kekhidmatan. Tidak ada teriakan dan kebisingan yang menyuarakan nama-nama tuhan atau dewa pujaan mereka. Barangkali keyakinan adalah soal hati dan privacy sehingga tidak perlu dilengkingkan melalui pengera-pengeras suara yang membahana yang dipaksakan masuk ke semua gendang telinga.
5) Setelah sampai di plataran Candi Borobudur tubuhku terpaku di depan kemegahan salah satu 7 (tujuh) keajaiban dunia yang dititipkan di bumi nusantara ini. Dalam benak pikirangku kurenungi bagaimana sejarah pembangunan candi termegah ini. Melihat ukuran dan detail relif di dinding-dinding candi yang begitu rumit dan indah pastilah semua ini tidak dibuat dalam semalam sebagaimana didongengkan dalam mitos candi Prambanan yang menjadi tetangga sebelahnya.
Bangunan dengan arsitektur indah dan canggih ini pasti dibuat dalam sebuah sistem kekuasaan yang kuat, sistem kepercayaan yang dalam dan dipeluk oleh mayoritas warga sekitar, sumber daya manusia yang mumpuni, pengetahuan dan estetika perbatuan yang canggih, dan lain sebagainya. Segera muncul beberapa pertanyaan yang mengundang rasa penasaranku, seperti kemana komunitas pendukung karya peradaban megah ini? Mengapa mereka punah dan digantikan dengan komunitas Muslim yang sekarang menjadi populasi mayoritas di sekitar candi Borobudur? Apakah mereka lenyap karena bencana alam, wabah, atau ada peristiwa-peristiwa sosial politik yang menjadi penyebabnya? Mengapa ada semacam mata rantai yang hilang antara peradaban candi Borobudur dengan realitas kehidupan masyarakat saat ini dalam berbagai aspeknya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut melahirkan berbagai teori yang dikemukakan para ahli.
Terlepas dari sistem keyakinan yang berbeda dengan apa yang saya peluk, pertanyaan-pertanyaan tersebut penting untuk diajukan untuk mengkritisi terhadap paradigma dan peradaban yang sedang berlangsung. Memang masing-masing agama memiliki sejarahnya sendiri, namun mempertanyakan sejarah masa lalu berguna untuk mengkritisi fakta hari ini sekaligus mempertanggung jawabkan peradaban yang sedang kita bangun.
Selamat hari Waisak 2566 Buddha Era (BE), tahun 2022. Semoga damai di hati damai di bumi.
#bilik.renung.episode_170522#
Sabtu, 14 Mei 2022
PIKNIK LAGI, PIKNIK LAGI
on Mei 14, 2022
with
Tidak ada komentar
PIKNIK LAGI, PIKNIK LAGI_
Oleh Saifudin Zuhri.
Rasanya belum lama libur lebaran berlalu, di akhir pekan ini masyarakat kembali hiruk pikuk memadati tempat-tempat pariwisata. Lihatlah bagaimana jalan-jalan menuju obyek-obyek piknik itu macet dan mengular panjang menandakan melonjaknya pengunjung di long weekend ini. Menarik untuk mencermati mengapa kebutuhan piknik menjadi konsumsi baru dalam budaya masyarakat sekarang ini? Apakah kebutuhan berwisata tersebut menjadi indikator naiknya kesejahteraan masyarakat atau hanya hasrat konsumtif semata?
Jika ditelusur awal mula lahirnya kebutuhan konsumsi piknik sebenarnya dilatari oleh adanya waktu jeda dalam konteks masyarakat industri. Kala itu seiring laju industrialisasi di Eropa dan Amerika yang didukung oleh temuan-temuan mesin produksi yang semakin canggih mendorong adanya urbanisasi ke pusat-pusat industri yang ada di perkotaan. Disinilah para pekerja (terutama kaum kapitalis) bisa mengakumulasi keuntungan sehingga surplus. Peningkatan pendapatan dan tersedianya waktu luang karena semakin efektifnya cara-cara kerja menjadi momentum untuk digunakan berpiknik. Dengan demikian aktivitas piknik kala itu merupakan akibat peningkatan kesejahteraan.
Dalam perspektif Sosiologi Ekonomi fenomena piknik masuk dalam bahasan tentang masyarakat konsumen dan gaya hidup. Masyarakat Konsumen adalah sebuah masyarakat yang cenderung diorganisasikan di seputar konsumsi ketimbang produksi barang dan jasa. Implikasi dari masyarakat konsumen ini cenderung menjadikan sebuah konsumsi sebagai parameter untuk mengukur derajat sosial seseorang.
Secara sosiologis masyarakat konsumen terlahir di era post modernisme dimana nilai tukar telah bergeser menjadi nilai tanda. Bukan lagi berdasarkan pada kegunaan suatu barang atau harga barang tapi berdasar nilai prestise dan makna simbolis. Komoditas menjadi suatu bangunan dalam hubungan sosial masyarakat. Kehidupannya merupakan kumpulan kode, tanda dan objek yang berada di sekelilingnya. Komoditas menjadi kepentingan yang memediasi hubungan antar manusia. Pentingnya kode atau tanda dalam interaksi social inilah yang menjadikan orang lebih memburu kode-kode tersebut karena akan menentukan eksistensinya daripada nilai guna.
Meminjam konsep yang dikemukakan oleh Baudrillard bahwa konsumsi membutuhkan manipulasi simbol-simbol secara aktif. Dalam kondisi semacam ini maka yang dikonsumsi bukan lagi use atau exchange value, melainkan “symbolic value”, maksudnya orang tidak lagi mengkonsumsi objek berdasarkan karena kegunaan atau nilai tukarnya, melainkan karena nilai simbolis yang sifatnya abstrak dan terkonstruksi.
Piknik sudah menjadi budaya pop yang dikonsumsi oleh masyarakat sekarang ini. Massifitas penggunaan media online dengan perangkat smart phone yang melekat di tangan setiap individu menjadi pintu masuk banjir bandang iklan yang pada akhirnya mengkonstruksi selera konsumsi. Viralnya sebuah obyek wisata baru atau kuliner baru karena unggahan di media sosial akan menjadi kode-kode baru yang diburu khalayak karena menentukan jarak kapasitas seseorang dengan kode-kode yang dikonstruksi.
Persolannya adalah ketika hasrat untuk piknik tidak didukung oleh kemampuan ekonomi seseorang. Maraknya piknik di hari-hari libur lebih sebagai fenomena pop culture yang dikontruksi oleh kepentingan kapitalis. Memang di satu sisi piknik bisa memutar roda ekonomi dan itu dibutuhkan di tengah situasi keterpurukan ekonomi akibat dampak pandemic Covid 19. Industri pariwisata memang memiliki mata rantai ekonomi yang bersifat synergistic consumption sehingga memberdayakan unit-unit bisnis lain, seperti perhotelan, jasa transportasi, jasa event organizer, kuliner, dan lain-lain.
Akan tetapi di sisi lain keranjingan masyarakat untuk berpiknik ria tanpa mempertimbangkan daya mampu ekonominya akan berakibat pada kesenjangan antara keinginan dan kemampuan. Dalam istilah Marx, ketika mode of consumption tidak berbanding lurus dengan mode of production akan berujung pada alienasi para pekerja yang secara structural subordinatif dari penguasa-penguasa ekonomi besar.
Jadi gimana, mau piknik kemana kita? Jawabannya adalah “boleh silahkan berpiknik, tapi juga dilihat isi dompet kita masing-masing”, hehehe……..
#bilik.renung.episode_150522#
Jumat, 13 Mei 2022
KELUARGA DAN BERNEGARA
on Mei 13, 2022
with
Tidak ada komentar
KELUARGA DAN BERNEGARA.
Oleh Saifudin Zuhri.
Semua bangsa di dunia memiliki sejarah dalam membangun sistem negaranya, baik sebagai antithesis terhadap sitem sebelumnya maupun sintesis dari sistem yang telah establish dalam tata kehidupan bersama. Lahirnya nation state di Eropa merupakan antithesis terhadap feodalisme yang kala itu diikat berdasar supremasi kelas bangsawan dan dogmatism agama. Berbeda dengan konteks Indonesia, negara bangsa yang digagas dan diperjuangkan para pahlawan. Nation state Indonesia adalah antithesis terhadap kolonialisme bangsa Eropa (Belanda) dan Jepang.
Namun demikian dalam proses nation and character building ada entitas yang berbeda dalam anasir pembentuk negara bangsa, yakni posisi institusi keluarga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam sejarah Eropa institusi keluarga mengalami transformasi dalam proses demokrasi sehingga ikatan keluarga tidak menjadi variable yang menentukan dalam rancang bangun kekuasaan. Prinsip-prinsip demokrasi, seperti kesetaraan, persamaan, dan egaliterianisme menjadi pelebur kasta keluarga bangsawan yang dulu dibanggakan dan mengendalikan kekuasaan. Seiring dengan menguatnya demokratisasi kala itu mampu mengguncang institusi keluarga sehingga ada fenomena anggota keluarga justru keluar dari struktur keluarganya yang dulu dinikmatinya.
Berbeda halnya dengan posisi institusi keluarga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Kontruksi negara modern yang dibangun oleh founding father’s bangsa ini memasukkan keluarga sebagai unsur penting, bahkan dalam konstitusi kekeluargaan menjadi asas dalam fundamental ekonomi, politik, dan budaya. Sebagaimana tertuang dalam Pasal 33 ayat (1) UUD 1945 menegaskan bahwa “Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.” Makna yang terkandung dalam ayat tersebut sangat dalam yakni sistem ekonomi yang dikembangkan seharusnya tidak basis persaingan serta atas asas yang sangat individualistik.
Fakta pengaruh hubungan kekeluargaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara itu mempengaruhi dalam penyelenggaraan kekuasaan (politik). Sebagai contoh partai politik sebagai infrastruktur politik dalam sistem demokrasi mestinya menjadi pintu masuk dalam proses konversi kekuasaan dari pemegang kedaulatan, yakni rakyat. Dalam mesin partai untuk mendapatkan pemimpin atau wakil rakyat akan diseleksi berdasar kompetensi yang fair dan terbuka. Namun pada kenyataannya mekanisme tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya. Institusi partai politik justru ditunggangi kepentingan institusi keluarga. Untuk melanggengkan pengaruh sebuah trah keluarga banyak partai politik yang membangun tradisi oligarkhi, yaitu dominasi sebuah trah dalam menentukan arah partai politik.
Fenomena pengaruh keluarga juga terjadi pada birokrasi. Dalam suksesi kepemimpinan kepada daerah (gubernur, bupati, walikota, bahkan lurah) diwariskan menurut garis silsilah keluarga walaupun tetap melalui mekanisme demokrasi yaitu pemilihan. Namun karena besarnya sumber daya yang dimiliki keluarga incumbent memiliki potensi lebih besar untuk hegemonik dan akhirnya meraih kemenangan. Fenomena tersebut tercermin dari adanya dinasti kekuasaan di beberapda daerah yang berasal dari satu keluarga.
Di partai politik fakta dinasti keluarga bisa dilihat di PDIP dengan trah Soekarno, di Demokrat dengan trah Susilo Bambang Yudhoyono, di PKB walaupun tidak ada satu trah yang dominan namun kasta kiai juga mendominasi dalam arah partai, begitu juga di partai-partai lain. Sedangkan di birokrasi kita bisa saksikan bagaimana jabatan kepala daerah yang dijabat oleh Bapaknya kemudian dilanjutkan pada periode berikutnya oleh istri, anak, atau sanak saudaranya.
Aroma dinasti keluarga itu juga sudah mulai tercium dalam kontestasi Pilpres 2024. Walaupun masih dua tahun lagi namun ambisi trah-trah dominan sulit disembunyikan. Puan Maharani, anak dari ketua umum PDIP Megawati Soekarnoputri terkesan dipaksakan dalam bursa Pilpres 2024 walaupun dalam berbagai survei elektabilitasnya kalah jauh jika dibandingkan dengan Ganjar Pranowo sebagai kader militan PDIP. Demikian halnya AHY sebagai anak pertama SBY juga dipoles dengan duplikasi gaya bicaranya dengan sang ayah untuk diprospek dalam kontestasi menjadi orang nomer satu di negeri ini. Selain kedua figur tersebut silsilah keluarga juga bisa ditelusur dari elit partai atau birokrat yang juga menampakkan hasrat kuasanya, seperti Prabowo Subiyanto, Muhaimin Iskandar, Erlangga Hartarto, dan Erick Tohir.
Anis Baswedan walaupun tidak berasal dari trah penguasa sebelumnya, namun melihat gelagat ambisinya, gesture politiknya, dan cara pandang ideologisnya nampaknya potensial memupuk dan menumpuk pengaruh kasta keluarganya (minimal kelompok pendukungnya yang rasis) dalam menancapkan kuku-kuku kekuasaan jika sudah berada di genggamannya.
Pengaruh institusi keluarga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sepanjang sesuai dengan mekanisme demokrasi sebenarnya tidak ada yang salah, apalagi terdukung oleh faktor historis, kultur, dan bahkan konstitusional, namun ketika ikatan keluarga itu mengabaikan kompetensi, kapabelitas, dan trust publik akan berakibat pada pelestarian oligarkhi yang akan menciderai prinsip-prinsip demokrasi itu sendiri.
#bilik.renung.episode_130522#
Senin, 09 Mei 2022
INFRASTRUKTUR
on Mei 09, 2022
with
Tidak ada komentar
INFRASTRUKTUR
Oleh saifudin Zuhri
Ada sebuah diksi popular dalam kebijakan pembangunan yang sering dikomunikasikan oleh pemerintah sekarang ini, yaitu infrastruktur. Seringnya diksi tersebut menegaskan tentang kharakter dan model pembangunan yang hendak diseriusi dan menjadi fokus program kerja presiden Jokowi pada periode akhir kekuasaannya.
Dipilihnya infrastruktur ini dilatarbelakangi adanya fakta bahwa sudah puluhan tahun Indonesia merdeka pembangunan di bidang insfrastruktur begitu tertinggal, bahkan jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga semacam Malaysia, Thailand, dan Singapura. Di negara-negara tersebut pembangunan Infrastruktur melaju cepat, terutama fasilitas publik seperti jalan tol, alat transportasi publik, pelabuhan, bandara, dan berbagai fasilitas umum lainnya yang sesuai dengan kebutuhan geopolitik dan geostrategik negara yang bersangkutan.
Pada kasus jalan tol jika dibandingkan dengan era sebelumnya, di masa pemerintahan Jokowi pembangunan jalan tol berbeda secara signifikan. Berikut data yang bisa dipaparkan: pada era Orde Baru yang berkuasa 32 tahun hanya mampu membangun jalan tol 490 km. Era Presiden Habibie selama Mei 1998 hingga Oktober 1999, terdapat 7,2 km, era Presiden Abdurrahman Wahid, sebanyak 5,5 km dan 34 km tambahan tol di zaman Presiden Megawati, dan di era Susilo Bambang Yudhoyono berhasil membangun tol sepanjang 212 km. Pada era Jokowi sejak 2015 hingga November 2021, sudah berhasil menyelesaikan pembangunan tol sepanjang 1.556 km.
Itu baru pada pembanguna infrastruktur transportasi, belum di sektor energi, pengairan, sarana olah raga, gedung, dan lain-lain. Ada beberapa pertanyaan yang diajukan untuk menganalisis fenomena dimaksud; yaitu apa sesungguhnya pengertian infrastruktur ? Mengapa ada perbedaan signifikan laju pembangunan infrastruktur antara era sebelum Jokowi? apa implikasi bagi perikehidupan berbangsa dan bernegara?
Pengertian infrastruktur bisa dirujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang dipadankan dengan kata prasarana. Menurut Gregory Mankiw (2003) dalam Teori Ilmu Ekonomi, infrastruktur artinya wujud modal publik (public capital) yang terdiri dari jalan umum, jembatan, sistem saluran pembuangan, dan lainnya, sebagai investasi yang dilakukan oleh pemerintah. Secara umum, arti infrastruktur seringkali dikaitkan struktur fasilitas dasar untuk kepentingan umum.
Dalam bahasan filsafat penjelasan tentang infrastruktur intens dibahas oleh Karl Marx. Infrastruktur dan juga suprastruktur adalah konsep digunakan oleh Marx dengan Marxisme untuk membedakan dasar-dasar perubahan tatanan sosial yang penting, terutama dalam analisis kelas.
Berbeda dengan superstruktur yang berada pada ranah non-materi, infrastruktur bagi Karl Marx mengacu pada sumber daya antara lain: kondisi produksi (iklim, sumber daya alam), alat-alat produksi (alat, mesin) dan hubungan produksi (kelas sosial, dominasi, keterasingan dan upah dsbnya). Dalam pandangan Marx superstruktur menjadi subordinasi dari infrastruktur. Artinya infrastruktur walaupun bersifat fisik atau materi lebih suprematif dan berpengaruh terhadap kesadaran imajinatif seperti ide-ide, gagasan, lembaga-lembaga politik, hukum, bahkan agama.
Kebijakan Jokowi fokus pada pembangunan infrastruktur bisa dipahami dari konsep Marxian tersebut di atas. Untuk menjawab pertanyaan kedua mengapa pembangunan infrastruktur di era Jokowi begitu semarak bisa ditelusur dari skema pembiayaannya. Sumber pendanaan infrastruktur tidak melulu dari APBN tetapi bersifat terbuka bahkan dengan sistem konsorsium. Konsorsium adalah pembiayaan bersama suatu proyek atau perusahaan yang dilakukan oleh dua atau lebih bank atau lembaga keuangan lainnya.
Sistem ini memang beresiko terutama terhadap sisi kedaulatan negara, karena tak terhindarkan andil investor baik dari korporasi nasional maupun internasional. Namun di sisi lain sistem ini akan menjamin lebih cepat direalisasi dan meringankan beban APBN yang terbatas sehingga bisa dialokasikan ke sektor lain. Keterbukaan terhadap investor (terutama asing) inilah yang menyebabkan hadirnnya korporasi transnasional dari negara-negara lain , seperti China, Singapura, Jepang, USA, Rusia, dan lain-lain.
Walhasil pembangunan infrastruktur di era Jokowi berjalan jauh lebih cepat, merata, dan spektakuler. Fakta ini secara tidak langsung memberi perimbangan terhadap kesadaran superstruktur yang selama ini lebih menjadi mainstream dalam membangun mental spiritual dan rasa kebangsaan.
Pembangunan jalan-jalan yang menembus isolasi suku-suku pedalaman di Papua memberi bukti nyata kehadiran negara daripada hanya indoktrinasi nasionalisme Indonesia yang secara kebudayaan memang berjarak dan senjang dengan Indonesia bagian tengah dan barat. Begitu juga mulusnya jalan tol dan berbagai infrastruktur lainnya secara senyap menjadi kontra narasi yang selalu nyinyir. Para penghujat pembangunan infrastruktur itu diam-diam juga menikmatinya walau dengan malu-malu.
Bangsa ini memang terlalu banyak pidato, khutbah, ceramah, agitasi, dan narasi yang menguras energi.
#bilik.renung.episode_060522#
KETIKA PERAYAAN TELAH USAI
on Mei 09, 2022
with
Tidak ada komentar
KETIKA PERAYAAN TELAH USAI
Oleh Saifudin Zuhri
Terbayar sudah hasrat bang Thoyib yang selama ini tertahan. Masa penantian 2x puasa dan 2x lebaran bukanlah waktu yang singkat untuk sebuah rasa rindu yang terpendam. Ijin pemerintah untuk mudik dan berbagai pelonggaran yang diberikan di masa masih pandemic ini menjadi momentum bagi kaum urban yang selama ini merantau di kota-kota besar berjumpa dengan sanak saudara di kampung halaman.
Ada berbagai record dicatat mudik tahun ini, sejak dari jumlah orang yang mencapai lebih dari 85 juta, jumlah kendaraan yang melintas, panjang jalan tol yang dilalui, dan lain sebagainya. Namun ada berbagai fenomena menarik untuk diamati. Fenomena itu penting karena mudik adalah realita sosial yang menggambarkan banyak hal, sejak dariperilaku budaya masyarakat, perubahan sosial, hingga cerminan kebijakan pemerintah.
Besarnya antusiasme masyarakat untuk mudik tertunjang oleh terpenuhinya berbagai prasyarat mudik, seperti pengendalian pandemic Covid 19 di Indonesia yang relatif baik dan ketersediaan infrastruktur transportasi, seperti tersambungnya jalan tol di pulau Jawa dan Sumatera, tol laut, dan hadirnya beberapa bandara baru di berbagai daerah di Indonesia. Terpenuhinya prasyarat kelancaran mudik tersebut tak dipungkiri menjadi faktor utama mengapa besarnya jumlah pemudik yang mencapai 85 juta lebih itu relatif lancar jaya.
Selain kelancaran arus mudik menarik untuk diamati bagaimana berbagai perubahan sosial mudik. Perubahan itu meliputi beberapa hal berikut: pertama, bertambahnya jumlah mobil sebagai alat transportasi pemudik. Walaupun sepeda motor masih banyak, namun bertambahnya jumlah mobil, terutama type MPV, mendorong perluasan mobilitas mudik yang biasanya lebih banyak stay at home di desa setempat mulai pada H+2 aktivitas berpindah ruang ke obyek-obyek pariwisata. Inilah yang menjadi penyebab fenomena berjubelnya pengunjung di tempat-tempat pariwisata setelah lebaran.
Perubahan sosial yang kedua adalah perilaku budaya masyarakat. Mudik yang secara filosofis dan kebudayaan adalah kembalinya kaum urban ke habitat aslinya sebagai orang desa (baik dalam pengertian ruang dan tradisi), oleh karena proses gerusan modernitas di kota dan berbagai pengaruh gerakan transnasional menjadikan kaum urban mengalami berbagai perubahan, baik dalam cara pandang, tata nilai, maupun ekspresi gaya hidupnya.
Apalagi di kalangan melinial dan zenial, ada persepsi yang jauh berbeda di generasi ini. Anak-anak yang dilahirkan di perkotaan itu memandang desa adalah tempat asal orang tuanya yang secara tradisi berbeda dengan gaya hidup mereka. Generasi ini tidak mempunyai memory apapun tentang desa yang karena itu pula mereka tidak terikat dengan norma-norma setempat. Berbeda dengan orang tuanya yang masih mememiliki nostalgia dengan desa yang menjadi bagian dalam sejarah hidupnya dan terpatri di hatinya. Perbedaan persepsi tentang mudik tersebut terlihat dari sikap acuh dan ignoren anak-anak generasi millennial dan zenial terhadap atmosfir suasana mudik di kampung halaman orang tuanya.
Perubahan sosial ketiga adalah dinamika di desa itu sendiri. Seiring dengan terbukanya aksessibilitas desa dengan kehadiran berbagai perangkat tekonologi, terutama alat komunikasi dan transportasi menjadikan desa sangat terbuka terhadap paparan nilai-nilai baru yang diintrodusir dari pengendali utama globalisasi, yaitu kapitalisme global. Budaya konsumerisme, hedonisme, dan gaya hidup modern menjadi preferensi dalam mengkonsumsi budaya baru (terutama pop culture). Walaupun pengaruhnya tak sebesar di perkotaan, sistem sosial di desa sedikit banyak mengalami perubahan juga.
Apapun perubahan sosial sebagaimana dipaparkan di atas adalah bagian salah satu sisi wajah kaum urban, akan tetapi pada sisi-sisi yang lain tetap saja ada nilai-nilai yang establish sulit tergoyahkan, seperti nilai kekeluargaan, patron klien, dan komunalisme.
Dan tidak terasa bang Thoyib sudah memasuki H+5 lebaran, itu artinya perayaan telah usai. Rasa rindu yang membuncah itu terobati sudah. Walau ada berbagai catatan yang berubah dari kampung halamannya, namun itu takkan mampu menghapus kenangan masa kecilnya di desa ini. Dan kenangan itu pula yang hendak dilestarikan dari generasi ke generasi keturunannya.
Sudah saatnya bang Thoyib kembali ke kota, kembali menjadi mesin-mesin produksi di kota-kota besar dengan menjalani peran sebuah profesi. Sesampainya di kota nanti dimensi sebagai manusia dan makhluk otonom harus segera ditanggalkan dan berganti dengan baju-baju profesi dimana ia menjadi salah satu skrup dalam alat-alat produksi yang meng-alienasi-nya namun mau tidak mau harus ditaatinya.
Selamat jalan bang Thoyyib, hati-hati di jalan, dan sampai jumpa di mudik tahun depan.
#bilik.renung.episode_050522#
0 (NOL)
on Mei 09, 2022
with
Tidak ada komentar
0 (NOL)
Edisi Ramadhan
_Oleh Saifudin Zuhri_
Di dalam matematika ada sebuah angka yang bilangannya tidak bernilai namun sangat berkuasa terhadap bilangan berapapun. Bilangan angka dimaksud yakni adalah 0 (nol). Angka 0 dikalikan berapapun hasilnya tetap 0. Namun ketika angka 0 ini digunakan sebagai angka penambah (+) atau pengurang (-) maka hasilnya tidak merubah apapun.
Angka 0 sebagai pengkali memiliki kuasa yang menihilkan segalanya. Itu artinya angka 0 begitu suprematif terhadap bilangan angka berapapun, sehingga menjadikan angka-angka lain berapapun jumlah bilangannya menjadi tak bernilai dan meaningless. Angka 0 (nol) adalah angka yang membawa pada titik dimana apa yang “ada” menjadi “tiada”. Namun ketika angka 0 menjadi bilangan penambah dan pengurang maka angka ini tidak menambah apapun terhadap diri atau subyek angka yang ditambah maupun dikurangi.
Semacam rumus matematika di atas akan digunakan sebagai alat analisis terhadap eksistensi manusia, tepatnya filsafat manusia. Atau dengan kata lain apa makna dan misteri di balik bilangan angka 0 (nol) itu?
Manusia adalah makhluk paling misterius sekaligus genius. Misteri manusia terletak pada rumitnya mendefiniskan dirinya sendiri, terdapat berlapis-lapis dimensi yang coba dideskripsikan untuk memberi gambaran siapa hakikat manusia. Terdapat berbagai teori yang dikemukakan berbagai ahli untuk mencoba mengkonseptualisasi manusia. Para ahli psikologis melahirkan berbagai aliran , seperti psikoanalisa, behaviorisme, humanisme, dan transpersonal. Sementara para filosuf juga melahirkan berbagai perspektif tentang manusia, seperti materialisme, idealisme, vitalisme, dan eksistensialisme. Sejauh apapun yang dikemukakan dalam berbagai aliran tersebut tetap saja manusia menyimpan misteri.
Manusia juga makhluk paling cerdas di antara berbagai makhluk lainnya. Kecerdasan itu terbukti dengan adanya peradaban yang terus berkembang di sepanjang sejarah manusia. Akal atau rasio itulah potensi dasar yang membuat manusia begitu manusia istimewa dengan ciptaan Tuhan lainnya dan karena itu pula dia berhak menyandang predikat kholifatullah (wakil Tuhan) di muka bumi ini.
Pemberian mandat sebagai kholifatullah itu diikuti dengan penganugerahan sebagian sifat-sifat Tuhan kepada manusia, seperti kemampuan mencipta, berkuasa, mengetahui, dan lain sebagainya. Dengan bekal potensi tersebut manusia mampu melakukan pengembaraan jauh dari tempat asal jiwanya. Inilah kisah yang dimetaforkan dalam Al Qur’an dengan kisah pengusiran Adam dan Hawa dari syurga.
Namun demikian sejauh apapun pengembaraan itu dilakukan suatu saat pasti terhenti dan saatnya kembali pulang. Agama adalah salah satu sumber yang memberi peta jalan untuk pulang. Peta jalan itulah yang dikontruksi dalam berbagai bentuk sya’riah dan ritus peribadatan, seperti sholat, puasa, dan haji. Puasa merupakan ritus yang mentransformasi penunainya dalam nilai esensial sebagai manusia semata di hadapan Tuhannya. Predikat sosial apapun yang disandang dalam perjalanan pengembaraannya adalah bunga-bunga dalam kehidupan yang suatu saat pasti akan gugur akan harus digugurkan untuk kemudian kembali ke fitrah jatidirinya sebagai manusia semata. Puasa adalah angka 0 (nol) yang menihilkan keramaian dalam kesunyian ilahi.
Derajat, jabatan, profesi, kelas sosial, dan attribute apapun harus dinolkan di titik ketiadaan. Apa yang selama ini dipersepsikan “ada” sesungguhnya “tidak ada”. “Sejatine ora ono opo-opo, sing ono kuwi dudu”, artinya sesungguhnya tidak ada apa-apa, yang ada ini sebenarnya bukan. Itulah kalimat piwulang yang begitu dalam dan bermakna.
Sungguh tepat pilihan istilah yang popular untuk merepresentasikan makna hari raya Idul Fitri dengan “minal’aidin wal faizin”. Kalimat ini merupakan kreatifitas bangsa ini membangun maknanya sendiri, bahkan dari negeri asal agama inipun (Arab) tak punya perbendaharaan kata itu. Secara etimologis “minal ‘aidin” berarti sebuah pengharapan untuk kembali, yakni kembali ke nilai asali yang fitri. Sedangkan “faizin” berarti kemenangan, yakni menang atas diri sendiri yang mampu menembus batas yang manusia buat-buat sendiri.
#bilik.renung.episode_010522#
BUKBER, HAMPERS, DAN GAYA BERAGAMA KELAS MENENGAH
on Mei 09, 2022
with
Tidak ada komentar
BUKBER, HAMPERS, DAN GAYA BERAGAMA KELAS MENENGAH
Edisi Ramadhan
Oleh Saifudin Zuhri
Ada fenomena baru yang beberapa tahun belakangan ini semakin ramai kala Ramadhan tiba, yakni fenomena “bukber”. Bukber adalah singkatan dari dua kata “buka bersama”, sebuah aktivitas berbuka puasa yang dikemas dalam acara gathering anggota kelompok yang terikat dalam berbagai bentuk komunitas, seperti rekan sekantor, reuni sekolah, teman sehobby, sosialita, dan lain-lain. Tempat acara bukber itu biasanya mengambil tempat mewah dan enak, seperti buffee hotel berbintang, resto, atau kuliner yang sedang viral. Untuk menambah nuansa elit, bergaya, dan terkesan kompak tidak jarang dalam undangan sudah disosialisasikan untuk menggunakan dresscode dengan warna yang telah disepakati anggota komunitas.
Ketika menjelang senja dekat dengan waktu berbuka, undangan bukber itu datang dengan stylish busana mewah lengkap dengan aseories sejak dari make-up glowing, perhiasan, sepatu, dan tas branded yang selalu diposisikan di depan. Di meja-meja bundar itu sudah terhidang berbagai menu makanan prasmanan yang beragam dari chef professional.
Sambil menunggu buka tiba tidak lupa untuk foto selfie bersama dengan pose bibir tersenyum manis, tas berada di posisi depan, dan sepatu yang diperlihatkan merknya walau kain menjuntai hingga mata kaki. Mereka saling berceloteh tentang cerita sukses dirinya atau keluarganya hingga ghibah sesama mereka yang kebetulan tidak hadir. Ketika adzan maghrib berkumandang sebagai tanda buka puasa terlebih dahulu aktifitas utama adalah memfoto makanan yang ada di hadapannya supaya bisa segera diunggah di media-media sosial mereka. Memfoto makanan lebih didahulukan sebelum menyantap makanan daripada berdoa dan dan merenungi makna puasa yang baru saja ditunaikannya.
Dalam suasana bukber seperti itu jangan berharap ada perenungan hikmah puasa bagaimana rasa lapar yang diderita kaum miskin papa tanpa jeda, padahal syari’ah agama mengajarkan hanya 1 bulan puasa saja. Dalam suasana penuh kenikmatan itu agak susah merohanikan aktivitas makan dan minum supaya menjadi pilihan sadar yang ilahi. Bagi mereka puasa bukanlah ibadah sunyi untuk menjalin keintiman dengan Sang Khalik, namun menjadi media baru untuk aktualisasi diri dan ekspresi gengsi.
Cerita dari tetangga sebelah lain lagi walau dengan esensi yang sama. Di sebuah kompleks perumahan nan mewah ada sebuah tradisi baru yang mewarnai suasana Ramadhan di kalangan kelas social ekonomi mapan ini, yakni saling berkirim hampers antar penghuninya. Setelah hampers sampai di pintu rumah tak lupa sang penerima harus segera mengunggah dan ditag ke jaringan media sosial group mereka sehingga secara tidak langsung menuntut untuk saling berbalas kiriman.
Sebenarnya saling memberi (giving) antar tetangga merupakan tradisi lama yang secara sosiologis memang menjadi budaya masyarakat komunal yang selalu berbagi. Namun yang menggelikan adalah munculnya tradisi baru untuk diunggah me media social sebagai ritual baru, sebagaimana menu bukber yang difoto-foto sebelum dimakan, bahkan hingga lupa berdoa sebelum menyantapnya.
Inilah fenomena baru dalam perilaku kelas menengah di Indonesia. Apapun bisa menjadi media untuk unjuk eksistensi diri dan flexing tentang status sosialnya. Bahkan ibadah puasa Ramadhan dengan berbagai amalan sunnah yang melingkupinya yang hakikatnya didisain oleh Allah sendiri sebagai ibadah paling sunyi dan intim (bilik.renung.episode_030422), pun dikomodifikasi oleh kelas menengah menjadi bagian dari cara gaya beragama baru yang penuh glowing dan glamour.
#bilik.renung.episode_290422#
RELIGIOSITAS MUDIK; Mudik dalam Persepektif Agama
on Mei 09, 2022
with
Tidak ada komentar
RELIGIOSITAS MUDIK
Mudik dalam Persepektif Agama
Oleh Saifudin Zuhri
Tidak ada bangsa manapun yang begitu terbuka terhadap nilai-nilai baru dari luar (termasuk agama) tapi di sisi lain juga begitu kreatif bernegosiasi sehingga nilai-nilai baru itu yang alih-alih ditelan mentah-mentah namun justru dilakukan komodifikasi sesuai dengan nilai asali budayanya. Itulah bangsa Indonesia.
Tradisi mudik lebaran adalah bukti keberhasilan negosiasi penduduk lokal terhadap imperasi norma agama. Genealogi bangsa agraris-maritim yang menjunjung tinggi komunalisme (kebersamaan) termanifestasi dalam tradisi mudik yang menyemai dalam akulturasi harmonis antara anjuran agama untuk saling memaafkan di hari fitri dengan kegemaran berkumpul masyarakat komunal.
Secara istilah mudik berasal dari bahasa Jawa yang terdiri dari dua kata “mulih” (artinya pulang) dan “dilik” (artinya sebentar). Merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mudik artinya pulang ke kampung halaman. Dikutip dari Surat Edaran Nomor 13 Tahun 2021, mudik adalah kegiatan perjalanan pulang ke kampung halaman selama bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Secara substantif arti mudik betitik temu dengan istilah “religi” yang berasal dari bahasa Latin “religare” yang berarti “berarti “perbuatan bersama dalam ikatan mengasihi”.
Konteks mudik yang terkait dengan momentum bulan suci Ramadhan dan Idul Fitri memiliki makna spiritual dari sekedar pulang kampung. Mudik bukan hanya peristiwa budaya, namun menyiratkan makna kembalinya nilai-nilai kefitrahan dalam diri manusia untuk kembali dipulangkan ke tempat asalnya.
Dalam konsepsi Islam pada dasarnya manusia itu fitroh atau suci. Kesucian ini didasarkan pada sebuah keyakinan bahwa ketika ruh ditiupkan oleh Tuhan ke janin (sebagaimana termaktub dalam QS. Al-A’raf: 72) pada dasarnya berasal dari Allah dan akan kembali ke Allah. Karena itu ketika orang meninggal dunia diucapakan kalimat “innalillah wainna ilaihi roji’un” (sesungguhnya kita semua milik Allah dan kepada-Nya kita akan dikembalikan).
Seiring dengan pertumbuhan anak manusia menjadi dewasa maka akan berkembang potensinya untuk mengembara (merantau) semakin jauh, baik dalam pengertian fisik maupun rohani. Dalam pengembaraan itu akan banyak aral melintang yang menghalangi perjalanan. Dalam menghadapi aral melintang itu aka ada berbagai kemungkinan bagi sang pengembara; ada yang tetap eling lan waspodo dengan asal mula keberadaannya sehingga tetap ingat jalan untuk kembali, namun juga tidak sedikit yang terlena sehingga semakin jauh dari nilai-nilai asali sebagai hamba Allah.
Mudik adalah semacam rekayasa budaya untuk mengembalikan manusia ke nilai-nilai asali dari sejauh apapun dia pergi. Dalam mudik sang pengembara diingatkan kembali jati dirinya sebagai manusia ciptaan Tuhan yang harus kembali kepada-Nya. Noda dosa dan khilaf yang mengotori di sepanjang perjalanan hidupnya diberi momentum untuk disucikan kembali melalui perajutan kembali tali sillaturrahmi antar sesama manusia.
Kampung halaman yang menjadi tempat kembali bagaikan rahim seorang ibu yang melahirkan anak kandungnya. Kampung sebagai tempat kelahiran bukan sekedar ruang fisik nama sebuah desa, namun adalah suasana batin yang masih murni. Karena itu kerinduan para pemudik terhadap kampung halaman adalah juga kerinduan terhadap kesucian batinnya sendiri yang dulu masih besih dan belum banyak dosa yang menodai ruhnya hingga nyaris lupa jalan pulang.
Nantikan saja berbagai upload status media sosial ketika kaum urban itu sudah mudik di tanah kelahirannya nanti, akan banyak berkonten tentang kenangan masa kecil mereka yang masih lugu, suci, dan lurus lengkap dengan background tempat-tempat dimana dulu berbolang ria bersama kawan-kawan lama di desa . Itulah masa-masa indah yang dirindukannya.
#bilik.renung.episode_280422#
KHONG GHUAN DAN RENGGINANG; Mudik dalam Perspektif Ekonomi
on Mei 09, 2022
with
Tidak ada komentar
KHONG GHUAN DAN RENGGINANG
Mudik dalam Perspektif Ekonomi
Oleh Saifudin Zuhri
Kebjakan pembangunan yang bias kota dan memarginalkan desa menyebabkan ketimpangan ekonomi antara masyarakat rural dan urban tak terhindarkan. Menyemutnya orang-orang desa merantau ke kota-kota besar merupakan akibat dari menumpuknya gula-gula di perkotaan. Realitas seakan membenarkan semboyan “ada gula ada semut”. Walaupun akhir-akhir ini arah kebijakan pembangunan direorientasikan ke pedesaan dengan indikator meningkatnya alokasi dana desa yang begitu besar, namun pengaruh globalisasi dan modernisasi tetap saja menjadikan desa suborditaf dari kota baik dalam pengertian produksi, distribusi, bahkan konsumsi.
Terutama pada sector konsumsi desa telah dieksploitasi secara habis-habisan. Bagimana tidak, di desa yang mood of production berbasis pada cara-cara kerja tradisional namun sektor mood of consumption sudah berubah ke arah masyarakat konsumen dan bergaya hidup modern. “Kegedhen empyak kurang cagak”, besar pasak daripada tiyang. Istilah itulah untuk membari gambaran gamblang bagaimana ketimpangan antara pendapatan dengan pengeluaran.
Selain peningkatan alokasi dana desa yang cukup signifikan, penggalakan pembangunan insfrastruktur yang dilakukan pemerintahan sekarang di pedesaan yang berorientasi pada peningkatan produksi juga sudah sedemikian lebih progresif jika dibandingkan dengan era sebelumnya, seperti pembangunan akses jalan, bendungan, irigasi, dan lain-lain. Namun semua itu tidak secara otomatis mampu memangkas ketimpangan antara kota dan desa. Desa tetap saja tertinggal, miskin, dan terpinggirkan. Mengapa hal ini tetap terjadi?
Upaya pemerintah memberdayakan desa patut diapresiasi, namun ada satu hal yang perlu dikritisi dan bukan hanya tanggung jawab pemerintah namun menuntut keterlibatan masyarakat yakni tentang budaya konsumerisme dan gaya hidup yang sudah kadung merasuki ke tulang sumsum masyarakat desa. Besarnya pengaruh globalisasi dan ketamakan kapitalisme global telah menjadikan warga desa sebagai obyek perluasan pasar korporasi kapitalis.
Fakta itu bisa dilihat bagaimana pola konsumsi warga desa yang sudah berubah, sejak dari makanan, fashion, hiburan, perabotan rumah tangga, dan alat transportasi dan komunikasi menjadi lebih konsumtif, hedonis, dan menjadikan gaya hidup modern sebagai transetternya. Memang masih tersisa kearifan lokal yang coba dipertahankan namun perubahan lebih massif tak kuasa dibendung.
Dalam situasi seperti ini lagi-lagi warga desa memiliki fungsi laten dalam perantauannya. Sektor produksi yang coba ditingkatkan warga desa dengan menukar tenaganya dengan upah murah mampu menghasilkan uang. Walaupun pada akhirnya uang yang dikumpulkan itu muaranya untuk konsumsi namun setidaknya mudiknya mereka ke kampung halaman mampu mendistribusikan rejeki ke pedesaan. Bersamaan dengan arus mudik yang terjadi bukan hanya mobilisasi manusia secara massal ke pedesaan namun juga mengalirkan dana dari kota ke desa.
Para ekonom memprediksi perputaran uang dari aktivitas mudik pada periode Lebaran 2022 tembus Rp 8.000 triliun. Angka itu tercatat tumbuh 4,26 persen dibanding perputaran uang pada bulan-bulan biasanya, yakni Rp7.672,4 triliun berdasarkan data Bank Indonesia (BI). Angka itu diperoleh dari perhitungan total pemudik lebaran tahun ini yang disurvei Kementerian Perhubungan mencapai 80-an juta orang, baik lewat perjalanan darat, udara, maupun laut. Jika benar prediksi tersebut maka akan memberikan dampak besar terhadap perputaran uang di daerah.
Prediksi angka tersebut cukup fantastis bukan hanya dari jumlah namun secara fungsi juga positif untuk memeratakan ekonomi ke pelosok desa. Walapun pada akhirnya mengalirnya dana tersebut bermuara pada sector konsumtif namun setidaknya orang desa mampu menjadi subyek walau sementara dan semu.
Lain dari itu, nilai kearifan local yang masih tersisa mampu mengembalikan uang sebagai alat tukar semata untuk mengembalikan posisi komoditas budaya sebagai nilai tertingginya. Uang bisa dicari namun kekeluargaan, kebersamaan, persaudaraan, dan perkumpulan tidak dapat dipertukarkan dengan apapun termasuk uang. Ada sebuah adagium kearifan local yang berbunyi “tuno sathak bathi sanak”, yang artinya kurang lebih; rugi secara finansial tidak apa-apa namun mendapatkan ganti untung berupa rekatnya persaudaraan.
Karena itu jangan heran jika nanti biscuit Khong Ghuan bersanding harmonis dengan rengginang, bahkan kalengnyapun kadang bergantian isi, roti rukun berdampingan dengan jadah, cucur, marning, madu mongso, wajik, manggleng, ongol-ongol, nogosari, dan lain-lain. Begitu juga mobil avanza, xenia, livina, jazz, yaris, expander, innova, pajero dan lain-lain dipaksa parkir di halaman rumah tabon simbah yang sebenarnya tidak dikonstruksi untuk garasi.
Begitulah bangsa ini membuat orkestra kehidupan yang begitu indah dan warna warni. Walau perlu waspada dengan kalimat penutup: “pulang kece balik memble”.
#bilik.renung.episode_270422#
PEMILIIK KEDAULATAN ITU PULANG KE HABITATNYA; Mudik dalam Perspektif Politik
on Mei 09, 2022
with
Tidak ada komentar
PEMILIIK KEDAULATAN ITU PULANG KE HABITATNYA;
Mudik dalam Perspektif Politik
Oleh Saifudin Zuhri
Desa di Indonesia memiliki sejarah panjang dan berpengaruh terhadap konstruksi negara bangsa ini, sejak dari ideologi, pandangan hidup, kebudayaan, sistem ekonomi, sistem politik, hingga ketatanegaraan. Secara sosiologis desa bukan sekedar teritori adminsitratif yang berada di sebuah wilayah yang minim infrastruktur modern dan jauh dari gemerlap gaya hidup kosmopolit. Desa adalah sebuah habitus dan entitas sosial yang menggambarkan nilai budaya, norma, dan sistem kepercayaan.
Meminjam kategorisasi type masyarakat yang dikemukakan sosiolog Emile Durkheim menjadi dua type yaitu masyarakat mekanik dan organik, maka masyarakat desa adalah bertype makanik. Salah satu tanda tipe masyarakat mekanik adalah pola relasi yang didasarkan pada kesadaran kolektif (collective consciousness) sebagai komunitas yang terikat oleh norma yang diturunkan dari lingkungan hidup di desa. Nilai-nilai kebersamaan dan kekeluargaan menjadi dasar dalam membangun interaksi antar anggota masyarakat, bahkan dalam bekerja pun tak perlu melihat pembagiannya berdasar spesifikasi tertentu. Desa adalah sebuah miliu dimana komunitasnya melestarikan habitat budayanya.
Besarnya jumlah masyarakat desa di Indonesia menandakan bahwa arah bangsa ini ditentukan oleh orang-orang desa. Di tangan merekalah kedaulatan itu berada. Memang kebisingan politik praktis yang banyak diintrodusir oleh masyarakat urban (kota) diorientasikan untuk pemusatan kekuasaan dengan menjadikan konstituen di desa sebagai obyek untuk mobilisasi suara, namun para politisi lupa bahwa orang desa mempunyai parameter tersendiri untuk menentukan siapa yang dianggap layak menerima mandat kedauluatan yang ada di genggamannya.
Bagi orang desa menjatuhkan pilihan-pilihan politik tidaklah sepenuhnya bersifat rasional instrumental. Pilihan politik akan berbanding lurus dengan dengan keterwakilan batin dan budayanya. Silahkan para politisi yang nyaman hidup di kota itu membuat berbagai akrobat pencitraan, agitasi, dan bahkan provokasi di berbagai media yang begitu massif dan bising, namun keteguhan identitas pedesaan takkan tergoyahkan.
Barangkali terdapat beberapa kasus di sebuah desa seorang figur politik sukses memobilisasi suara dengan uang (money politic) , janji-janji manis, dan isu-isu bernuansa SARA yang seakan-akan menjadi atribut identitas masyarakat desa. Namun ketika dihadapakan pada pilihan yang menentukan jati diri dan eksistensi warga desa maka pilihan akan tetap dijatuhkan pada siapa yang mampu menggaransi rasa tentram dan nyaman orang desa.
Orang desa memiliki radar super sensitif untuk mendeteksi siapa yang berhak menerima wahyu cokroningrat kekuasaan. Parameter untuk menentukan tidak melulu berdasar instrumen kasat mata dari pajangan baliho di pinggir-pinggir jalan yang menampilkan wajah-wajah tersenyum yang dibuat-buat. Radar dengan presisi tinggi itu juga mampu mendeteksi mana slogan kata-kata berbisa. Serbuan agitasi bertubi-tubi bahkan hoax di media sosial takkan menggoyahkan nurani. Diamnya orang desa (sillent majority) bukannya tidak berprinsip, namun sebuah strategis cerdas supaya tidak mudah diterka lawan.
Kebijakan pembangunan selama ini memusat di kota. Lihatlah bagaimana insfrastruktur menumpuk di berbagai sudut kota. Peredaran uang 70% beredar di perkotaan. Sementara desa dibiarkan miskin dan termarginalisasi dalam proses-proses pembangunan. Desa dibiarkan dalam kesendiriannya mengembangkan dirinya. Desa adalah laksana ibu kandung bagi pemilik suara. Banalitas politik orang-orang kota memang sempat menyandra perhatian dan mempesona orang-orang desa, namun kenakalan itu usai ketika berjumpa dalam pelukan bunda di desa.
Realita masyarakat desa di atas menjadi penjelas mengapa “politik aliran” di Indonesia yang dikemukakan oleh para ahli, seperti Ruth McVey, Clifford Geertz, dan Herbert Feith tak tergoyahkan dalam lanskap politik di Indonesia hingga kini. Walau pekembangan terkini faktor uang dan ideologi agama menjadi variable yang mempengaruhi namun tidak bisa mengegser varibel penentunya, yakni desa dengan segala isinya.
Kepulangan mudik lebaran sederet nama seperti bang Thoyib, kang Samuri, pak Jumadi, mas Joko, mang Ujang, pakdhe Gito, Brodin, Wahyu, Susilo, Supardi, mbok Sutiyem, mbokdhe Markonah, dik Sri, Wati, Endang, mereka adalah prajurit desa untuk bertarung di medan “perang” kota demi sesuap nasi namun tak pernah ingkar janji dengan suara hati nurani.
#bilik.renung.episode_260422#
KEHADIRAN YANG TAK TERGANTIKAN; Mudik dalam Perspektif Budaya
on Mei 09, 2022
with
Tidak ada komentar
KEHADIRAN YANG TAK TERGANTIKAN
Mudik dalam Perspektif Budaya
Oleh Saifudin Zuhri
Tatapan bang Thoyib di senja itu menerawang jauh memandangi sang mentari yang beranjak sirna di ufuk barat langit Jakarta. Walau langit ibukota kala senja tak selalu jingga, keteguhan hati dan fikiran pria paroh baya itu mampu menembus batas cakrawala menjadi seolah jingga walau tak peduli itu sebuah ilusi. Rindu yang terpendam itu tak kuasa dibendung lagi walau raga yang menopangnya tak sekuat ketika pertama kali menginjakkan kakinya di tanah para jawara.
Ya dua tahun sudah bang Thoyib memendam perih tak bisa berjumpa dengan sanak saudara dan sawah ladangnya di desa. Datangnya pagebluk bernama asing Covid-19 itu bukan hanya telah menyirnakan ribuan nyawa dan mengacaubalaukan periok nasinya, namun yang lebih menikam ulu hatinya adalah dirampasnya paugeran budaya adiluhung yang selama ini membuatnya kuat bertahan di tengah kerasnya ibu kota.
Budaya adiluhung yang sudah lama tertanam dalam benak jiwanya itu tidak lain adalah tradisi “berkumpul”. Walau “berkumpul” adalah sebuah kata sederhana namun nilai inilah yang memuncaki hierarkhi kebutuhan dasar manusia Jawa (dan juga bangsa ini pada umumnya), selain sandang, pangan, dan papan. Tidak berlebihan jika ada adagium dalam masyarakat Jawa “mangan ora mangan, sing penting kumpul”. Maksud dari semboyan tersebut adalah bahwa makan atau tidak itu tidak penting, yang terpenting adalah bisa berkumpul.
Berkumpul adalah sebuah energi yang bisa mengalahkan segalanya. Rasa takut bisa sirna dan rasa lapar bisa tak terasa ketika manusia bersatu padu dalam kebersamaan bukan atas nama apapun namun sebagai manusia semata. Tradisi bekumpul tidak sekedar bertemu namun lebih dari itu adalah berjumpa. Ada perbedaan antara keduanya; bertemu cukup ditandai dengan terkoneksinya antar dua orang atau lebih dalam sebuah proses pertukaran kepentingan, sementara berjumpa adalah kehadiran dengan segenap keterlibatan jiwa dan raga.
Di genggaman tangan bang Thoyib memang ada telpon pintar yang bisa mempertemukan kepentingannya dengan berbagai pihak termasuk sanak saudaranya. Kecanggihan teknologi itu memang bisa mengkoneksikan handai tolan dan bahkan bisa menggambarkan suasana desanya dalam tangkapan kamera. Namun kehadiran takkan pernah bisa digantikan oleh apapun dan siapapun. Berjumpa mensyaratkan kehadiran yang akan menumpahkan sejuta makna yang takkan dapat terwakili oleh teknologi.
Walau smartphone menyajikan sejumlah aplikasi yang dapat menampilkan gambar diri, namun takkan pernah bisa mewakili tatapan mata, getaran suara yang masuk ke rongga dada, dan pelukan raga yang begitu hangat. Tidak ada yang sanggup menjadi delegasi suara hati kecuali oleh dirinya sendiri yang hadir tanpa kompromi. Nuansa batin itu begitu kompleks, rumit, dan dalam sehingga tak ada kata yang sanggup mengemasnya kecuali oleh perjumpaan.
Penantian panjang bang Thoyib untuk berjumpa dengan sanak saudara dan desanya sudah membayang ketika pemerintah memperlonggar mudik lebaran tahun ini. Kerinduan tampil sebagai manusia biasa, sebagai sanak saudara, dan sebagai warga desa dalam sebuah perjumpaan adalah panggilan hati nurani. Di kota mesin-mesin produksi dan birokrasi telah menggilas hati nurani dalam beribu wajah penuh hipokrisi. Memang dalam kota kosmopolit tersedia banyak predikat untuk disandang sejak dari birokrat, professional, pegawai kantoran, pedagang, buruh, pembantu rumah tangga, hingga pengimis dan pengamen. Namun diam-diam semua warga kota dan kaum urbannya memendam rasa rindu terhadap hati nuraninya sendiri.
Dan ketika senja mulai sirna dan lampu-lampu ibu kota mulai bercahaya, bang Thoyib membalikkan tubuhnya melangkah ke pasar membeli sekaleng biscuit Khong Ghuan untuk dibawa pulang ke kampung halamannya. Dia tahu bahwa roti yang dibelinya itu sebenarnya juga tersedia di Indomart dan Alfamaret yang berjejer di kota kecil kecamatannya, namun maknanya berbeda ketika sekaleng biscuit legendaris itu dibawa langsung menyertai kehadirannya.
Demikian halnya sanak saudanya yang setia menunggu di desa. Kehadiran pahlawan keluarga ini dinantikan bukan karena uang dan oleh-oleh yang dibawanya, namun lebih dari itu yang dibutuhkan adalah penawar rasa rindu yang terdalam untuk berkumpul sebagai sesama saudara sedarah dan sedesa.
Hati-hati di jalan ya bang Thoyib……….
#bilik.renung.episode_250422#
MUDIK, MUDIK, MUDIK
on Mei 09, 2022
with
Tidak ada komentar
MUDIK, MUDIK, MUDIK
Edisi Ramadhan
Oleh Saifudin Zuhri
Bang Thoyyib yang sudah 2x puasa dan 2x lebaran tak pulang-pulang itu akhirnya berbegas menyiapkan segala sesuatunya karena nampaknya lebaran tahun ini akan bisa merenda kerinduan yang lama membuncah untuk berjumpa dengan sanak keluarga tercinta dan suasana kampung halaman yang sudah lama tak disambanginya.
Mudik ya mudik, itulah fenomena khas dan kreatif bangsa ini yang menyiratkan banyak makna. Mudik bisa ditinjau dalam berbagai perspektif, sejak dari perspektif budaya, ekonomi, politik, dan agama. Meninjau mudik dari berbagai sudut pandang akan bisa memotret mudik secara lebih utuh dan bukan sekedar peristiwa pergerakan massal manusia dari berbagai kota-kota besar di Indonesia ke perdesaan.
Antusiasme kaum urban yang begitu besar untuk mudik tahun ini diperkirakan mencapai angka 85 juta manusia. Jumlah pergerakan massa yang begitu besar dari kota-kota yang menjadi pusat perputaran uang itu bakal menyemuti jalan-jalan menuju daerah masing-masing. Walaupun infrastruktur jalan tol, jalan arteri, dan jalan-jalan desa sudah dibangun, membludaknya jumlah pemudik akan menyebabkan barisan kendaraan mengular dimana-mana. Bahkan kondisi keuangan yang menipis sebagai dampak keterpurukan ekonomi akibat pandemic Covid 19 tak menghalangi barisan para pemudik mengurungkan hasratnya. Mengobati rasa rndu yang membuncah mengalahkan segalanya.
Ada makna-makna di balik mudik. Bukan sekedar perjalanan pulang, bukan sekedar antrian kendaraan, namun mudik mewakili batin kaum urban yang menggambarkan bagaimana kharakter masyarakat kita, kebijakan pembangunan ekonomi negeri ini, kualitas berpolitik, hingga perjalanan spiritual kaum urban. Mudik adalah momentum akbar yang dikontruksi secara kreatif bangsa ini sekaligus sebagai potret diri bangsa ini.
Dalam episode empat hari kedepan penulis akan menuangkan refleksi dari bilik renung yang akan dirangkai dalam empat tulisan berseri dengan berbagai sudut pandang berikut: seri 1) mudik dari perspektif budaya; 2) mudik dari perspektif ekonomi; 3) mudik dari perspektif politik; dan 4) mudik dari perspektif spiritual. Semoga bermanfaat.
(bersambung….)
#bilik.renung.episode_240422#
NEGARA, PASAR, DAN MINYAK GORENG
on Mei 09, 2022
with
Tidak ada komentar
NEGARA, PASAR, DAN MINYAK GORENG
(Edisi Ramadhan)
Oleh Saifudin Zuhri
Labilnya harga dan persediaaan minyak goreng di pasaran mengakibatkan kegaduhan di masyarakat. Fenomena ini sekaligus mengesankan bahwa betapa carut marutnya tata niaga salah satu kebutuhan pokok masyarakat yang selama ini lepas dari intervensi negara. Berbeda dengan jenis kebutuhan pokok lain, seperti beras dan gula yang dikelola oleh Bulog, minyak goreng selama ini tersembunyi di bawah bayang-bayang praktik kartel dan mafia yang begitu menggurita sejak dari hulu dan hilir.
Gonjan-ganijing minyak goreng ini memunculkan sejumlah pertanyaan evaluatif bagaimana peran negara di tengah sistem pasar bebas? Siapa sesungguhnya pemain hakiki dari tata niaga minyak goreng selama ini? Sejauhmana masyarakat memahami fenomena tersebut dalam konteks kehidupan bernegara?
Sebagai negara yang sedikit banyak menerapkan nilai-nilai sistem demokrasi liberal, kebebasan pasar merupakan konsekwensi logis dalam sistem perekonomiannya. Hal ini dikarenakan pasar merupakan derivasi dari nilai-nilai kebebasan yang menjadi prinsip dasar dalam demokrasi. Kebebasan pasar ini dibangun di atas asumsi bahwa pasar mampu memediasi konflik kepentingan secara fair dan terbuka. Dalam pasar terdapat hukum-hukum abadi laisssez faire yang memberi kesempatan seluruh subyek. Walupun di dalam pasar ada factor the invisible hand namun justru karena itulah semua subyek yang terlibat memiliki kesempatan yang sama untuk bersaing sehingga bisa meningkatkan produktivitas. Asumsi positif terhadap pasar tersebut dikemukakan pandangan-pandangn Max Weber dan Adam Smith.
Walaupun asumsi positif tersebut dalam perkembangannya terjadi distorsi karena pada akhirnya pasar dimonopoli oleh subyek yang memiliki capital besar, namun liberalisasi pasar ini seakan menjadi postulat dalam merumuskan posisi dan peran negara. Dalam sistem pasar bebas akan terjadi deregulasi, debirokratisasi, dan privatisasi yang dengan demikian akan terjadi minimalisasi peran negara. Pasar pada akhirnya akan dimonopoli oleh kaum kapitalis yang menguasai alat-alat produksi dan distribusi. Untuk menancapkan kuku-kuku monopoli di pasar secara lebih dalam ini kaum kapitalis akan berkongkalingkong dengan pemegang kebijakan supaya lebih berpihak pada keuntungan pemodal, terjadilah apa yang disebut dengan sistem kartel. Kartel adalah sekelompok produsen pasar independen yang bekerja sama satu sama lain untuk meningkatkan keuntungan dan mendominasi pasar.
Dalam kasus minyak goreng yang terjadi akhir-akhir ini bisa dilihat dari spektrum di atas. Indonesia sebagai penghasil bahan baku minyak goreng (CPO) terbesar di dunia dan juga negara eksportir terbesar, memiliki pengaruh besar terhadap pasar internasional. Sejumlah negara tergantung dengan eksport dari Indonesia yang karena itu komoditas eksport ini bernilai sangat strategis.
Kebijakan pemerintah yang baru saja diumumkan langsung oleh Presiden Jokowi merupakan bentuk intervensi terhadap pasar. walaupun hal ini menciderai hukum pasar bebas, namun hal ini diperlukan karena mengguritanya sistem kartel dan bobroknya aparatur sehingga mudah disuap untuk mengatur kran kuota eksport demi keuntungan segelintir produsen dan distributor. Jika tidak dilakukan intervensi maka berakibat pada masyarakat yang mestinya mendapat perlindungan. Dengan demikian dilihat dari perspektif utilitarian secara etik kebijakan pemerintah mengintervensi tata niaga minyak goreng bisa dibenarkan.
#bilik.renung.episode_230422#
UTOPIA KHILAFAH DAN IMAGINED COMMUNITIES
on Mei 09, 2022
with
Tidak ada komentar
UTOPIA KHILAFAH DAN IMAGINED COMMUNITIES
(Edisi Ramadhan)
Oleh Saifudin Zuhri
Tidak ada agama manapun yang jika membahas hubungan antara agama dan negara (kekuasaan) begitu bersemangat, emosional, dan seakan tak pernah habis energinya, selain agama Islam. Atau dengan kalimat lain, tidak ada agama manapun yang begitu rumit menarik garis batas antara private domain dan public domain. Walaupun secara konseptual ada upaya pemilahan dua jenis hubungan itu, yakni hablum-minallah dan hablum-minannas, namun tetap saja di tingkat implementasi saling berkelindan. Inilah yang menyebabkan jenis-jenis ibadah yang semestinya ranah private tak terhindarkan juga bersinggungan dengan ruang publik.
Baru-baru ini ada sekelompok orang Islam kembali menawarkan proposal khilafah dalam pengelolaan kekuasaan, bahkan dengan percaya diri menantang pemerintah untuk berdebat dalam simposium nasional. Fenomena semacam ini sebenarnya bukan hal baru dalam sejarah bernegara di Indonesia, bahkan jika ditelaah dalam sejarah panjang perjalanan peradaban Islam sendiri, persoalan kekuasaan sudah lama mewarnai di sepanjang sejarahnya hingga hari ini. Oleh sebab itu ada sejumlah pertanyaan yang muncul; apakah memang ada konsep kekuasaan dalam Islam? Jika ada, bagaimana konsep sistem ketatanegaraan yang ditawarkan Islam? Bagaimana relevansinya untuk konteks Indonesia?
Ada tidaknya konsep kekuasaan (negara) dalam Islam ditentukan dimensi ontologisnya, apakah kekuasaan dalam pengertian substantif atau bentuk. Dalam pengertian substantif bisa diafirmasi bahwa memang ada. Hal ini bisa dilihat dari indikasi adanya norma-norma dalam Islam (yang dirujuk dari Al Qur’an dan Hadist) yang membahas tentang kekuasaan, seperti pemimpin harus adil dan amanah, musyawarah sebagai cara pengambilan keputusan, dan lain-lain.
Sedangkan jika dilihat dari dimensi bentuk formal kekuasaan maka sangat bersifat debateable (khilafiah) dan multitafsir. Tidak ditunjuknya secara definitif siapa yang menggantikan Nabi Muhammad dalam memimpin ummat kala itu bahkan hingga beliau wafat adalah bukti bahwa Rasulullah sendiri tidak pernah memberi konsep kekuasaan (apalagi negara) secara rinci, jelas, dan gamblang bagaimana bentuk pemerintahan Islam. Wacana itu dibiarkan terbuka dan menjadi bola liar di kalangan para sahabat kala itu.
Biasanya yang menjadi rujukan pengusung proposal khilafah selalu prototype sejarah khilafah sepeninggal nabi, sejak dari Kholafaurroyidin, Umayyah, Abbasiyah, hingga Turki Ustmani. Namun mereka lupa bahwa di sepanjang perjalanan sistem-sistem khilafah itu dipenuhi dengan berbagai intrik politik yang berdarah-darah dan bahkan barbarian. Jika prototype sejarah khilafah tersebut dijadikan rujukan akan berakibat bukan hanya nilai moral yang patut dipersoalan, namun juga bagaimana relevansinya untuk konteks kekinian.
Yang perlu digarisbawahi adalah sebuah sistem itu dibentuk sebagai respon terhadap realitas sosial dimana habitatnya berada. Pada prototype Khulafaurrasyidin, yang secara berurutan dipimpin oleh Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali, kondisi geopolitik kekuasaan belumlah sekompleks sekarang. Secara cakupan teritorial kekuasaan khilafah zaman itu hanya meliputi wilayah jazirah Arab, itupun tidak seluruhnya. Itu artinya identitas kewargaan (lebih tepatnya keummatan) didasarkan pada entitas yang relatif homogen dan terbatas. Demikian halnya struktur ekonomi yang begitu penting dalam menopang sebuah kekuasaan juga dibangun atas prinsip pertukaran sederhana, manual, dan tradisionil.
Dalam penyelenggaraan kekuasaan (terutama suksesi kepemimpinan) tidak dapat dilepaskan dari budaya Arab yang sangat dideterminasi sistem tribalisme (‘ashobiyah). Dalam sistem ini otoritas elit klan patriarkhis begitu dominan dalam mengkoersi anggota masyarakat termasuk perbudakan. Ketegangan bahkan baku bunuh antar suku sudah menjadi tradisi. Peperangan adalah cara bagaimana kekuasaan diraih.
Pada era khilafah Dinasti Umayyah dan juga Abbasiyah memang scope kekuasaan mengalami perluasan, baik secara territorial maupun unsur kewargaannya menjadi relatif heterogen, namun jika dibandingkan dengan situasi saat ini dimana globalisasi sudah sedemikian massif tetap saja tidak sekompleks sekarang. Semenjak runtuhnya Turki Ustmani sebagai sistem kekholifahan terakhir dan disusul dengan lahirnya sistem nation-state sebagai antitesisnya, maka kompleksitas bernegara tak terhindarkan. Di tengah kompleksitas dan heterogenitas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara inilah kemudian melahirkan tatanan baru dalam pengelolaan kekuasaan.
Jika hari ini ada kelompok yang bernostalgia dan berimajinasi menghidupkan kembali sistem khilafah bukan hanya problematik di intenal konsep Islam sendiri, namun proposal itu nampaknya tidak meyakinkan sebagai sintesa yang handal dalam mengobati kekecewaan dan kegagalan bangsa ini dalam dalam bernegara.
Memang bangsa inipun sebuah imajinasi jika meminjam istilah Anderson tentang imagined communities, namun setidaknya imajinasi yang dibangun oleh negara-bangsa ini melibatkan seluruh anasir bangsa ini sebagai subyek yang terlibat dalam proses pembentukannya. Sementara imajinasi yang dibangun oleh pengusung khilafah merupakan sebuah dogma utopia yang sulit diterjemahkan dalam langkap hidup bernegara saat ini, bahkan tingkat RT sekalipun.
#bilik.renung.episode_220422#
KARTINI YANG MENEMBUS BATAS KEGELAPAN
on Mei 09, 2022
with
Tidak ada komentar
KARTINI YANG MENEMBUS BATAS KEGELAPAN
(Edisi Ramadhan)
Oleh Saifudin Zuhri
“Habis gelap terbitlah terang”, hasil goresan tinta emas Kartini itu menggambarkan kemampuan menembus batas struktur patriarkhi yang begitu kuat kala itu. Patriarki adalah sebuah sistem sosial yang memposisikan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan mendominasi dalam peran kepemimpinan politik, otoritas moral, hak sosial dan penguasaan properti. Dalam struktur keluarga, figur bapak memiliki otoritas terhadap perempuan, anak-anak, dan harta benda.
Walaupun konteks yang dihadapi Kartini adalah struktur patriarkhis namun apa yang dilakukannya bisa menginspirasi gerakan di berbagai sistem sosial lainnya, seperti politik, pendidikan, budaya, bahkan agama. Hakikat gerakan Kartini adalah bagaimana menembus batas struktur yang menindas nilai-nilai kemanusiaan dan membelenggu kebebasan manusia itu sendiri. Pembatasan sejarah Kartini hanya pada persoalan gender akan mereduksi esensi dari pemikiran besar yang digagas oleh Kartini.
Manusia memang makhluk ambigu, di satu sisi kebutuhan untuk bertahan dan berkembang mendorong manusia untuk membuat struktur sosial, namun pada gilirannya struktur itu pula yang membelenggu manusia untuk berkembang. Ketika struktur sosial tersosialisasi dalam jangka panjang dan akhirnya mapan maka akan menjadi sangkar besi yang menghegemoni struktur kesadaran individu yang menjadi anggota masyarakat tersebut.
Ada beragam struktur yang diciptakan manusia untuk himpunan sosialnya seperti sistem politik, ekonomi, sosial budaya, hingga struktur kesadaran individu seperti cara pandang, keyakinan (agama), ideologi, dan lain-lain. Kesemua struktur itu akan dipertahankan terutama oleh kelompok dominan untuk menjamin kemapanannya. Jika tidak ada upaya pengkritisan (biasanya lama-lama menjelma jadi gerakan pemberontakan) maka struktur itu akan menjadi sangkar besi yang membelenggu kebebasan manusia sendiri.
Manusia selain berdimensi sebagai makhluk sosial sehingga terikat oleh sistem struktur yang ada adalah juga berdimensi makhluk individu sehingga berpotensi memiliki otonomi untuk mengembangkan diri. Dari individu yang otonom inilah yang akhirnya menjadi inisiator (agency) perubahan masyarakatnya. Struktur patriakhi yang kala itu memaksa Kartini menaati apa yang menjadi perintah bapaknya akhirnya didobrak walau dengan goresan-goresan tinta di secarik kertas yang dilayangkan sahabatnya di negeri kincir angin sana. Walau pada akhirnya Kartini tetap saja menjalani hidup nyatanya dalam struktur patriarkhi namun secara pemikiran Kartini mampu menembus batas kegelapan strukturnya sendiri.
Pada konteks kekinian ruh Kartini ini mestinya menginspirasi kita semua untuk punya keberanian mengkritisi kembali struktur di sekitar hidup kita bahkan dalam struktur kesadaran kita; adakah pemikiran, sistem sosial, pranata, dan apapun yang kita yakini dan taati selama ini membuat kita tampil sebagai manusia atau justru membelenggu kita dalam bungkus-bungkus yang kita buat sendiri?
Untuk konteks puasa Ramadhan, ada pertanyaan kritis yang dianalogikan dari semangat Kartini di atas, yaitu mampukah kita menembus struktur norma puasa itu sendiri, seperti menahan makan, minum, seks, dan sejumlah asesories bulan Ramadhan seperti ibadah taraweh, tadarus Al-qur’an, buka puasa bersama, mudik lebaran, dll. Jika para shoimin merasa sudah selesai dengan itu semua maka sejatinya masih terperangkap dalam struktur yang membelenggunya. Makna sejati puasa adalah ketika mampu menembus batas dirinya sendiri dan norma-norma puasa itu sendiri untuk kemudian selebihnya diserahkan pada Tuhan. Itulah keikhlasan.
“Selamat HARI KARTINI, habis gelap terbitlah terang”
#bilik.renung.episode_210422#
FIRMAN TUHAN YANG TAK PERNAH BERHENTI
on Mei 09, 2022
with
Tidak ada komentar
FIRMAN TUHAN YANG TAK PERNAH BERHENTI
(tulisan ini dibuat untuk memperingati Nuzulul Qur’an)
(Edisi Ramadhan)
Oleh Saifudin Zuhri
Firman Tuhan termediasi dalam dua bentuk, yakni ayat-ayat qouliyah dan ayat-ayat kauniyah. Yang pertama adalah firman Tuhan yang termaktub dalam kitab suci dan yang kedua berupa hukum-hukum Allah yang menempel pada realita semesta alam dengan segala kehidupan di dalamnya. Instrumen untuk memahami makna dari ayat-ayat qouliyah adalah keyakinan dalam hati bahwa ayat-ayat itu adalah kebenaran dan petunjuk dari Tuhan sesembahannya, selain itu cara untuk mengetahui pengetahuan dari setiap kalimat, kata, bahkan huruf dalam kitab suci itu adalah dengan ilmu tafsir.
Sedangkan pada ayat-ayat kauniyah menuntut proses manusiawi dengan menggunakan potensi akal yang telah dianugerahkan Sang Maha Pencipta kepada makhluk (sekaligus kholifah) yang bernama manusia. Manusia yang hidup di planet bumi ini digelarkan realita alam semesta yang dapat dilihat oleh mata dan dirasakan dalam kehidupan nyata, baik yang berdimensi mikro-kosmos (jagat cilik, yakni tubuh manusia itu sendiri) atau berdimensi makro-kosmos (jagat gede, yakni alam raya). Mikro-kosmos dan makro-kosmos yang berjalan begitu tertib merupakan manifestasi dari kehadiran Tuhan di dunia. Untuk menangkap kehadiran Tuhan dalam konteks aya-ayat kauniyah ini adalah dengan mengoptimalkan penggunaan akal manusia, yang akhirnya melahirkan ilmu pengetahuan.
Kedua bentuk firman Tuhan ini mestinya bersubstansi sama karena berasal dari sumber yang sama, yakni Tuhan itu sendiri. Namun pada kenyataannya ada kesan bahwa hubungan antar keduanya bersifat hierarkhis bahkan konfliktual. Kesan hierarkhis ini tercermin dengan menempatkan ayat-ayat qouliyah lebih tinggi daripada ayat-ayat kauniyah sehingga firman-firman Tuhan dalam kitab suci harus lebih diutamakan daripada temuan-temuan akan fikiran manusia sebagai hasil penelitian terhadap hukum-hukum alam.
Ada juga yang memperhadapkan antara qouliyah dengan kauniyah secara vis a vis, artinya kebenaran yang diyakini dari kitab suci (walaupun sebenarnya adalah tafsir) merupakan kebenaran mutlak, sementara kebenaran yang diproses dari akal manusia dianggap tidak benar dan ditolak. Ilmu pengetahuan yang diproduk akal manusia dituduh sebagai kebenaran sementara, duniawi, dan tidak hakiki.
Ada kecenderungan ummat Islam lebih konsen pada ayat-ayat qouliyah. Sementara ayat-ayat kauniyah disepelekan dan diabaikan. Kecenderungan ini terlihat dari indikator betapa bersemangatnya umat Islam dalam membaca (tadarus/tilawah) ayat-ayat suci Al Qur’an bahkan banyak tahfidz qur’an didirikan, namun di sisi lain sangat malas bekerja keras memeras otak membangun ilmu pengetahuan yang bersumber dari penelitian terhadap hukum-hukum alam semesta dan kejadian-kejadian di dalamnya dimana Kehadiran Tuhan terjelma dalam ciptaan-Nya.
Ketidakseimbangan telaah terhadap ayat-ayat qouliyah dan kauniyah inilah barangkali yang menyebabkan keterbelakangan ummat ini dalam peradaban modern.
#bilik.renung.episode_200422#
INSECURE DUNIA PENDIDIKAN INDONESIA
on Mei 09, 2022
with
Tidak ada komentar
INSECURE DUNIA PENDIDIKAN INDONESIA
(Edisi Ramadhan)
Oleh Saifudin Zuhri
Kehebohan dunia pendidikan kembali mengemuka ketika salah seorang guru besar dari universitas ternama di Derah Istimewa Yogyakarta UGM membuat kegaduhan di media sosial terkait komentarnya terhadap kasus pengeroyokan Ade Armando beberapa waktu yang lalu. Walau sang profesor itu berdalih komentarnya sebagai guyonan (bercanda) namun kuat dugaan yang bersangkutan terindikasi terpapar virus paham radikalisme. Fenomena semacam ini sebenarnya bukan hanya di UGM, jauh sebelumnya di beberapa kampus favorit di Indonesia, seperti IPB, ITB, dan UI juga terindikasi terpapar virus radikalisme bahkan masuk dalam struktur kampus tersebut.
Di IPB penangkapan dosen Institut Pertanian Bogor berinisial AB yang diduga menyimpan puluhan bom molotov, yang siap diledakkan saat unjukrasa Aksi Mujahid 212 di Jakarta pada tahun 2019, keresahan alumni ITB hingga berkirim surat ke rektorat karena maraknya gerakan radikalisme di kampus ITB, dan struktur kampus UI yang menjadi ajang rebutan pengaruh antara kelompok nasionalis dengan paham radikal juga acap kali terjadi. Yang telah disebutkan itu adalah contoh dari daftar panjang radikalisme yang sudah masuk ke dunia Pendidikan tinggi di Indonesia. Hasil survei Setara Institut tahun 2019 menemukan bukti bahwa setidaknya ada 10 perguruan tinggi di Indonesia yang terindikasi tertpapar paham radikalisme.
Membaca data dan kasus di atas memunculkan sejumlah pertanyaan sebagai berikut: mengapa dunia pendidikan tinggi yang asumsinya menjadi lembaga pencerahan dan pencerdasan justru menjadi tempat subur berkembangnya virus radikalisme? Masyarakat kampus yang dibangun atas tradisi ilmiah sehingga semestinya mengedepankan cara berpikir rasional, logik, dan membebaskan dari belenggu dogmatic tapi justru dengan mudah menerima paham radikal yang notabene irasional, emosional, dan anti peradaban? Apakah ini peristiwa ideologis dan politis semata atau ada persoalan yang jauh lebih mendasar dalam membangun paradigma keilmuan?
Peradaban modern dilahirkan dari proses tesis antithesis antara cara berpikir irasional yang kala itu diintrodusir dari mistisisme, feodalisme dan juga dogma agama abad pertengahan didekonstruksi dengan tesa baru berupa cara berpikir rasional. Semakin menguatnya cara berpikir rasional ini kemudian melahirkan Abad Pencerahan (Renaissance) dimana akal sehat mendapat posisi terhormat dari dimensi manusia sehingga melahirkan ilmu pengetahuan modern hingga hari ini. Lembaga pendidikan adalah kristalisasi cara berpikir ilmiah ini. Perguruan tinggi menjadi habitus dalam pengembangan ilmu pengetahuan untuk membangun peradaban umat manusia.
Bahwa kemudian tiba-tiba di perguruan tinggi menjadi habitus untuk persemaian paham radikalisme, sungguh menjadi fenomena kontradiktif dengan hakikat dasar dari masyarakat ilmiah ini. Itu semua tidak terjadi dengan sendirinya. Ada proses panjang yang dimulai sejak dari jenjang pendidikan di level PAUD, TK, SD, SMP, dan SMA. Lihatlah bagaimana sejak dini akal sehat ini ditundukkan oleh dogma keyakinan dalam melihat realita kehidupan dan alam semesta ini. Sangat popular di salah satu syair lagu TK bahwa pelangi itu lebih banyak dijelaskan sebagai ciptaan tuhan daripada dikenalkan proses hukum-hukum alamnya.
Demikian halnya pada jenjang Pendidikan berikutnya, pembelajaran tentang logika, matematika, fisika, biologi dan sejumlah jenis pengetahuan ilmiah lainnya akan terkalahkan oleh adagium yang bernada spekulatif dan mistik, seperti keyakinan tentang takdir, nasib, keberuntungan, bejo, dan lain-lain.
Itulah mengapa ilmu pengetahuan yang diajarkan di perguruan tinggi tak secara otomatis terkorelasi dengan realitas masyarakat. Ilmu alam dan turunannya akan kalah dengan mitos, ilmu ekonomi akan kalah dengan "rejeki ada yang mengatur", ilmu rekayasa cuaca kalah pamor dengan mbak Rara sang pawang hujan, ilmu politik akan kalah populer dengan demo jalanan nan barbar.
#bilik.renung.episode_190422#
BALADA NEGERI DUM-DUMAN
on Mei 09, 2022
with
Tidak ada komentar
BALADA NEGERI DUM-DUMAN
Edisi Ramadhan
Oleh Saifudin Zuhri
Genealogi bangsa Indonesia memang unik, bahkan ketika merdeka menjadi nation-state modern sekalipun jenis kebangsaan kita adalah “bangsa bentukan”. Bangsa bentukan adalah bangsa yang kelahirannya melalui proses, dinamis, dan keberadaannya tergantung dengan eksistensi negara itu sendiri. Sebagai bangsa bentukan maka imajinasi menjadi sumber inspirasi dalam mengkontruksi kesadaran apa yang disebut bangsa, itulah yang oleh Benedict Anderson diistilahkan dengan “Imagined Communities”. Berbeda dengan jenis “bangsa alami” yang menjadi bangsa lebih karena factor genetik yang tidak membutuhkan proses penyadaran sebagai sebuah bangsa. Contoh dari bangsa alami adalah bangsa Arab, Yahudi, China, dan India.
Negara bangsa bentukan idealnya diselenggarakan secara impersonal sehingga ideologi negara, konstitusi, hukum, birokrasi, dan sistem ketatanegaraan lebih dominan daripada kehadiran personal. Namun pada praktiknya di negeri ini tampilnya sosok personal lebih menonjol daripada sistem itu sendiri. Personalisasi kehadiran negara ini pada akhirnya memposisikan sistem ketatanegaraan termasuk pelayanan publiknya tersubordinasi oleh performance individu pemegang kekuasaan.
Kehadiran negara dalam sosok personal dalam berbagai tingkatannya semakin mengentalkan pola hubungan patron-klien antara publik dengan penyelenggara kekuasaan. Hubungan patron-klien merupakan hubungan pertukaran antara dua orang yang melibatkan persahabatan instrumental dimana seorang individu dengan status sosio-ekonomi yang lebih tinggi (patron) menggunakan pengaruh dan sumberdaya yang dimilikinya untuk menyediakan perlindungan atau keuntungan bagi seseorang (masyarakat) yang lebih subordinatif. Pola hubungan ini walaupun bersifat vertikal atas-bawah namun kedua belah pihak bersimbiose mutualisme.
Dalam konteks politik pemegang kekuasaan sebagai patron miliki sumber daya kekuasaan untuk dialokasikan untuk menjamin stabilitas kekuasaannya, sementara bagi klien yakni publik yang dilayani membutuhkan perlindungan dan bantuan dari patron. Legitimasi dan citra pemerintah sebagai patron sangat ditentukan oleh intensitas dalam memberi atau membantu kepada warga negara, walau dalam bentuk simbolik sekalipun. Pola hubungan patron-klien inilah yang mendominasi dalam penyelenggaraan kekuasaan di negeri ini. Fenomena pola relasi patron-klien ini merupakan distorsi dan anomali di negara republik yang sudah sepakat menjadikan demokrasi sebagai sistem pengelolaan kekuasaan dan konstitusi sebagai kontruksi ketatanegaraan.
Menjelang libur lebaran 2022 pemerintah akan memberi paket bantuan sosial (bansos) kepada masyarakat dalam dua bentuk, yakni Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dan Bantuan Langsung Tunai (BLT) Minyak Goreng. Implementasi pola hubungan patron-klien bukan hanya dalam formula kebijakan namun dalam tindakan personal presiden Jokowi ketika berkunjung atau audiensi dengan masyarakat dengan memberi hadiah sepeda dalam sebuah acara atau melempar bingkisan dari dalam mobil kepresidenan kepada warga yang berjejer di tepi jalan menyambutnya penuh histeria dalam sebuah kunjungan.
Dalam tradisi masyarakat patron-klien semacam ini pemberian (dalam bahasa jawa disebut dengan dum-duman) adalah indikator utama yang bisa dijadikan alat ukur masyarakat menilai citra baik-buruknya pemerintah di mata masyarakat secara langsung dan sederhana. Bagi pemegang kekuasaaan tradisi dum-duman atau bagi-bagi ini dipelihara karena menjadi simbol efektif membangun citra dan bahkan legitimasi, sementara bagi masyarakat dum-duman ini menjadi simbul kehadiran negara sekaligus rejeki nomplok yang dengan gembira ria diterima.
#bilik.renung.episode_180422#
Minggu, 08 Mei 2022
ABSURDITAS DAN DRAMATURGI MIMBAR
on Mei 08, 2022
with
Tidak ada komentar
ABSURDITAS DAN DRAMATURGI MIMBAR
Edisi Ramadhsn
Oleh Saifudin Zuhri
Ada sebuah masjid di Yogyakarta yang begitu popular dan ikonik, bahkan sekarang menjadi tujuan wisata religi dari berbagai daerah. Rasa penasaran saya mendorong untuk mengadendakan berkunjung langsung ke masjid dimaksud. Apalagi di bulan Ramadhan ini ada event khusus dengan nama KRJ (Kampung Ramadhan Jogokariyan).
Sesampai di lokasi di ujung gang sudah dijejali pengunjung, di sepanjang jalan menuju masjid itu berjejer para pedagang menjajakan beraneka ragam makanan dan minuman menjelang buka puasa, walaupun disediakan makan buka puasa gratis, para penjual tetap sibuk meladeni ramainya pengunjung membeli dagangannya. Suasana begitu semarak dan meriah yang menggambarkan antusiasme masyarakat.
Setelah berbuka dan sholat maghrib kusengaja menunggu kumandang sholat isya dan tarweh. Tepat sesuai jadwal sholat Isya’ kumandang suara muadzin terdengar nyaring di toa masjid. Tidak ada yang berubah dari pengaturan volume suara toa masjid itu sebagaimana yang diatur melalui keputusan Kemenag tentang aturan pengeras suara di masjid.
Sebagaimana masjid-masjid lain di seluruh penjuru Jogja bakda Isya diadakan ceramah atau kultum (kuliah tujuh menit) kepada para jama’ah. Dalam ceramahnya sang khotib menyitir beberapa dalil dengan tafsir yang berusaha untuk dikontekstualisasi dengan kasus-kasus kekinian. Penceramah juga menyinggung isu-isu aktual semacam demo di Jakarta beberapa hari yang lalu dengan insiden pengeroyokan Ade Armando, menyinggung tentang tuntutan Jokowi mundur, harga minyak goreng, dan bahkan menyingggung isu global walau jauh di seberang sana yakni perang Rusia Ukraina.
Dengan gaya melucu sang penceramah jelas tidak bisa menutupi kemana kecenderungan ideologis dan afiliasi politiknya. Syahwat politik itu seakan tak tertahankan dalam sindiran-sindiran ceramahnya, sejak dari uangkapan sakarsis yang mensyukuri dan bergembira atas tragedi pengeroyokan Ade Armando, nyinyir terhadap kebijakan pemerintah yang menaikkan harga pertamax, tata niaga minyak goreng yang amburadul, hingga dukungan atas serangan Rusia terhadap Ukraina yang menurut persepsi penceramah karena banyak orang Yahudi di Ukraina.
Ada beragam respon jama’ah terhadap isi ceramah itu, sebagian ada yang manggut-manggut menunjukkan persetujuan dan dukungan atas pernyataan-pernyataan sang khotib, ada yang mengantuk, ada ada pula yang yang terkesima dan sesekali ikut tertawa karena mendengar retorika penceramah yang begitu lancar, lantang, dan terkadang mengundang gelak tawa. Namun tertawanya para jamaah bisa jadi bermakna ganda, ada yang tertawa karena memang satu frekuensi dengan sang penceramah, tapi juga tidak sedikit yang tertawa karena terstimulasi sampingnya tertawa, atau tertawa karena spontan bagai nonton sebuah drama di sebuah panggung.
Sejenak saya bertanya pada salah seorang yang duduk di sebelah saya darimana berasal, dalam rangka apa, dan dengan siapa datang jauh-jauh ke masjid ini. Dengan polos orang tersebut menjawab kalau bukan dari Jogja, datang dalam rangka rasa penasaran melihat berita viral tentang semaraknya KRJ di media sosial, sekaligus pingin jalan-jalan menikmati suasana ramadhan di kota Jogja.
Barangkali sang penceramah, pengurus masjid, dan jamaah yang satu frekuensi merasa bahwa tujuan dakwah telah berhasil, namun jangan lupa sebagian besar pengunjung mempunyai niat yang beragam. Sejumlah sindiran dan antipati terhadap pemerintah belum tentu diiyakan dan disetujui semua jama’ah. Para jama’ah punya logika sendiri ketika dihadapkan pada pilihan-pilihan krusial dalam hidup, seperti partai apa yang akan dipilih dalam pemilu nanti, siapa capres-cawapres yang diidolakan pada pilpres 2024. Bahkan jika ditanya apa kesan berkunjung ke KRJ bisa jadi manisnya kolak, beraneka ragam jenis makanan, harga yang murah, dan ramainya suasana pengunjung jauh lebih menyita perhatiannya daripada agitasi dari mimbar masjid itu sendiri.
Selain secara konten isi ceramah jika dikritisi bersifat absurd, bagi khalayak yang hadir bisa jadi memiliki kesadaran yang diendapkan dalam batinnya bahwa semua ini adalah drama, dan ketika masa pilihan itu tiba maka tetap saja pilihan akan dijatuhkan pada hal-hal yang menjamin eksistensi dan habitat budayanya. Itulah mengapa politik aliran seakan abadi di negeri ini, dan tetap saja sillent mayority tetap memegang kendali di negeri ini.
#bilik.renung.episode_170422#
MACAN TERNAK (EMAK-EMAK CANTIK PENGANTAR ANAK SEKOLAH)
on Mei 08, 2022
with
Tidak ada komentar
EMAK-EMAK CANTIK PENGANTAR ANAK SEKOLAH
(Edisi Ramadhan)
Oleh Saifudin Zuhri
Seperti biasanya di beberapa sekolah swasta favorit di kota ini pagi-pagi barisan emak-emak cantik itu mengantar buah hatinya masuk sekolah. Antrian panjang mobil-mobil bagus itu antri berjajar masuk ke halaman depan sekolah. Di dalam mobil mewah itu selain sang anak dan sopir pribadi turut serta sang bunda. Dari jenis mobil yang dikendarai, busana, dan asesories yang kenakan menggambarkan kelas sosial ekonomi yang disandang. Maklum emak-emak itu rata-rata bersuami orang mapan, seperti pegawai BUMN bonafit, pejabat ASN, dosen, TNI/POLRI, atau pebisnis sukses.
Sebagaimana biasanya emak-emak yang punya banyak waktu luang itu ngobrol ngalor-ngidul dengan sesama komunitas pengantar anak sekolah favorit berbasis Islam itu. Banyak tema yang keluar dari bibir emak-emak berlipstik branded itu, sejak dari pamer tas, model perhiasan terbaru yang baru saja dibeli, kabar destinasi wisata yang baru saja dikunjungi, kuliner lezat nan unik, pamer karir suaminya, hingga ghibah salah satu dari komunitas mereka yang kebetulan pagi itu tidak nongol batang hidungnya.
Waktu luang yang tersedia cukup banyak sambil menunggu anak selesai sekolah inilah sering muncul ide-ide untuk mengisinya dengan acara-acara kreatif. Salah satu kegiatan pengisi waktu luang itu adalah ajakan mengadakan semacam pengajian, kajian, tausiah, atau halaqoh. Kegiatan kajian rohani itu bisa diinisiasi salah satu dari mereka yang kebetulan memiliki literasi agama relatif lebih baik, atau dari agen gerakan tertentu yang memang mentarget komunitas semacam ini untuk melakukan tarbiyah. Dalam forum pengajian itu disampaikan ajaran-ajaran normatif untuk menanamkan cara pandang, norma, bahkan berperilaku menurut aturan ajran agama yang benar.
Indoktrinasi sistemik ini lambat laun mampu mengubah mindset emak-emak. Bagi mereka kegiatan ini selain mengisi waktu luang cukup mempesona karena banyak informasi baru tentang wawasan keagamaan dari penceramah, apalagi jika pengisinya adalah ustadz beken selebritis. Maklum latar belakang emak-emak ini secara agama adalah kurang begitu leterated karena berasal dari keluarga abangan sehingga ketika mendapat tausiah dari sang penceramah langsung menelan mentah-mentah dan menjadi semacam penawar dahaga di tengah gemerlap gaya hidup yang sudah terlewati kebutuhan primernya. Untuk menambah daya religi kegiatan ini terkadang diadakan gerakan sholat Dhuha berjama’ah, ya maklum bagi kelas sosial ini pada jam 9 atau 10 pagi yang lazim adalah jam kerja, digunakan untuk mengekspresikan ghirroh agama.
Dari kegiatan pengajian inilah akhirnya mengentalkan emak-emak cantik pengantar anak sekolah ini dalam sebuah group yang semakin solid untuk konsolidasi apa saja, sejak dari diseminasi informasi tugas sekolah, referensi less bagus, sosialisasi kebijakan sekolah, undangan rapat wali murid, dan lain sebagainya. Untuk tetap mengakomodasi hasrat gaya hidup emak-emak cantik ini tidak jarang juga sesekali diwarnai dengan arisan, kuliner bareng, atau sekedar jalan-jalan ke mall. Bagi emak-emak yang tidak bergabung dalam group ini akan mendapat pengucilan dan dianggap tidak gaul, tidak kompak. Implikasi lanjutannya bukan hanya emaknya namun sang buah hati anak akan didiskualifikasi dari pergaulan teman-teman sekolahnya. Apalagi jika sang emak dan anaknya dianggap tidak berhijrah dan menaati norma-norma sesuai indoktrinasi dalam halaqoh-halaqoh tarbiyah itu.
Seiring waktu intensitas pengajian dan komunikasi group medsos mereka mulai merubah (biasanya disebut dengan istilah hijrah) tentang cara pandang, perilaku, dan gaya hidup beragamanya. Jika sebelumnya tidak berhijab maka mulai mengenakannya, bagi yang sudah berhijab dengan jilbab biasa saja sebelumnya mulai menggantinya dengan hijab yang dianggap lebih syar’i. Demikian halnya cara pandang dan perilaku di medsos. Pengaruh afiliasi politik, ideologi, dan cara tafsir dalil-dalil agama yang dijejalkan secara intensif dan massif oleh para penceramah agama ini akhirnya juga mengubah secara signifikan, dan bahkan secara mengejutkan mampu bertolak belakang dengan ideologi institusi dimana suaminya bekerja.
Fenomena emak-emak cantik antar sekolah di atas menjadi penjelas mengapa akhir-akhir ini muncul hal aneh dan kontradiktif yang dilakukan istri-istri pada suami yang bekerja di BUMN, ASN, dosen, pebisnis, dan bahkan TNI/POLRI. Fenomena itu pula yang mengintrodusir Islam skriptualistik dan bahkan radikal masuk ke keluarga yang semula inklusif dan nasionalis menjadi ekskusif dan garang komentar-komentar di media sosial yang bernada pedas, nyinyir, dan antipati terhadap pemerintah. Semoga puasa Ramadhan kali ini menyadarkan kita semua, aminnn….
#bilik.renung.episode_160422#
MASJID MATARAMAN KINI
on Mei 08, 2022
with
Tidak ada komentar
MASJID MATARAMAN KINI
(Edisi Ramadhan)
Oleh Saifudin Zuhri
Kusengajakan sholat tarweh keliling dari masjid ke masjid di bulan Ramadhan tahun ini biar bisa kulihat dengan kasat mata warna warni masjid negeri ini. Pada sebuah masjid yang begitu historis membawa Islam ke pedalaman Jawa dan dari masjid ini pula menggambarkan bagaimana terjadi titik temu antara kekuasaan Jawa, tradisi lokal, dan Islam bertemu. Perjumpaan di titik yang sama ini karena masing-masing entitas (baik pemegang kekuasaan Jawa, pelaku tradisi, dan Islam) sama-sama memiliki kharakter yang toleran dan inkulsif. Dari sinilah lahir prototype Islam Jawa dan akhirnya menjadi agama mayoritas di pulau Jawa bahkan nusantara.
Ada yang mengejutkan ketika pada hari keduabelas Ramadhan di antara barisan shof sholat berjamaah tarweh di masjid dimaksud tepat di depan saya salah seorang jama’ah mengenakan kaos bertuliskan “Hidup Mulia atau Mati Syahid”. Kalimat di punggung kaos tersebut bisa dilihat dari beberapa sudut pandang.
Pertama; ini adalah fenomena baru bahwa telah terjadi pergeseran tipe (jama’ah) masjid dari yang tardisional ke kosmopolit bahkan eksklusif. Fenomena ini bahkan terjadi di masjid yang menjadi episentrum budaya Jawa. Masjid tradisional yang dulu berorientasi pada lokalitas sudah terilfiltrasi gerakan-gerakan transnasional yang diintrodusir ideologi pan Islamisme seperti ikhwanul muslimin, hizbut tahrir, al kaeda, mujahidin, ISIS dan semacamnya. Diksi “Hidup Mulia atau Mati Syahid” adalah tagline yang begitu popular di kalangan mujahid dalam gerakan-gerakan organisasi tersebut.
Kedua; bisa jadi sang pemakai kaos oblong tersebut tidak tahu menahu makna dan pesan dari tulisan di punggungnya. Dia mendapatkan mungkin secara gratis dari temanmya dan pada saat itu kaos itulah yang mungkin dianggap layak untuk dipakai sholat berjamaah di masjid itu. Walaupun sang pemakai juga mengenakan peci ala mujahidin Afghanistan atau Mesir, memakai kaos itu tak ubahnya kaos lain dengan tulisan iklan toko cat atau kaos gratis pembagian salah satu parpol pada pemilu yang lalu. Tidak seserius yang pertama. Begitulah biasanya masyarakat Jawa mataraman menetralisir keketatan norma.
Ketiga; mungkin yang aneh adalah penulis sendiri melihat kaos begitu saja kok dipersoalkan. “Gitu saja kok repot”, begitulah gumam Gus Dur yang dulu begitu popular.
#bilik.renung.episode_150422#