MATA RANTAI YANG HILANG
MATA RANTAI YANG HILANG.
Oleh Saifudin Zuhri.
Ada berbagai pola perjalanan peradaban umat manusia, ada yang polanya menyambung, zig zag, patah-patah, dan terputus sama sekali. Apa yang ada hari ini akan menggambarkan bagaimana pola hubungan dengan masa lalu. Salah satu cara untuk mengukurnya adalah seperti apa persepsi dan perlakuan orang yang hidup di masa kini dalam melihat artefak peninggalan sejarah masa lalu.
Jika realita kehidupan sekarang ini, seperti pranata sosial, sistem keyakinan, produk-produk budaya material ada titik-titik persamaan dengan nilai-nilai masa lalu berarti ada benang merah yang menyambungkan dengan peradaban masa lalu. Namun jika apa apa yang ada hari ini berbeda atau bahkan baru sama sekali bisa jadi telah terjadi peristiwa yang membuat pola hubungannya zigzag, patah-patah, bahkan terputus sama sekali. Artinya pernah terjadi “sesuatu” dengan peradaban terakhir yang pernah disaksikan manusia, entah karena bencana alam atau peristiwa sosial lainnya, seperti peperangan, konflik, pemusnahan, penghangusan, dan lain sebagainya.
Kemarin 16 Mei 2022 adalah peringatan Tri Suci Waisak 2566 Buddha Era (BE) atau tahun 2022. Setelah 2 tahun tidak ada ritual dan seremoni perayaan karena masa Pandemi Covid 19 prosesi ritual tersebut diadakan kembali. Prosesi pawai dari candi Mendut hingga di plataran candi Borobudur membawa api suci, air berkah dan hasil alam. Dalam arak-arakan pawai tersebut diikuti berbagai majelis Buddha di Indonesia, seperti Walubi, Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi), dan lain sebagainya.
Pagi-pagi saya persiapkan meluncur ke kompleks candi Borobudur untuk menyaksikan langsung bagaimana suasana dan atmosfir perayaan hari suci ummat Buddha tersebut. Sejak jam 07.00 WIB pagi masyarakat dari berbagai penjuru sudah menyemut di sekitar lokasi. Selain ummat Buddha sendiri juga banyak ummat lain yang turut turun ke jalan, ada ummat Kristiani yang saya temui dan banyak ummat Muslim yang berbaur dengen mereka semua.
Ketika arak-arakan mulai datang dan menyusur di sepanjangan jalan dari candi Mendut hingga plataran candi Borobudur ada beberapa hal menarik yang saya amati dan renungkan, di antaranya adalah :
1) Selain mengusung api suci, air berkah, dan hasil bumi terdapat sebuah mobil yang dihias dengan burung Garuda Pancasila yang diiringi oleh puluhan bendera merah putih yang dibawa pengawalnya. Simbul-simbul negara itu begitu menyatu dalam harmoni ritual yang sebenanrnya milik agama. Dari fenomena ini bisa kita petik bahwa komunitas Buddha sangat merghargai dan tahu bagaimana cara berterima kasih pada bangsa dan negara ini. Walaupun ini adalah prosesi keagamaan yang ditonjolkan bukan hanya simbul-simbul agama namun juga sistem sosial yang menjamin hidup kebersamaan dalam kebhinekaan, yakni negara.
2) Di antara barisan pawai itu juga terdapat gunungan hasil-hasil bumi yang diusung secara rapi dan indah, seperti padi, sayur-sayuran dan buah-buahan. Walaupun di antara buah-buah yang disusun adalah mungkin buah import (seperti terlihat buah apel dari Swiss bukan apel Malang) akan tetapi semuanya menggambarkan masyarakat agraris yang mencintai dan mengapresiasi hasil bumi negeri sendiri.
3) Di antara kerumunan massa itu banyak terdapat orang berjilbab sebagai salah satu simbul umat Islam, entah hanya sekedar menonton atau bahkan masuk dalam barisan arak-arakan menuju prosesi acara di candi Borobudur. Satu hal yang salut adalah ummat Buddha tidak merasa sinis atau risih dengan keberadaan ummat lain di samping mereka. Betapa toleransi bukan sekedar wacana namun perilaku nyata.
4) Di sepanjang perjalanan yang ada adalah keheningan dan kekhidmatan. Tidak ada teriakan dan kebisingan yang menyuarakan nama-nama tuhan atau dewa pujaan mereka. Barangkali keyakinan adalah soal hati dan privacy sehingga tidak perlu dilengkingkan melalui pengera-pengeras suara yang membahana yang dipaksakan masuk ke semua gendang telinga.
5) Setelah sampai di plataran Candi Borobudur tubuhku terpaku di depan kemegahan salah satu 7 (tujuh) keajaiban dunia yang dititipkan di bumi nusantara ini. Dalam benak pikirangku kurenungi bagaimana sejarah pembangunan candi termegah ini. Melihat ukuran dan detail relif di dinding-dinding candi yang begitu rumit dan indah pastilah semua ini tidak dibuat dalam semalam sebagaimana didongengkan dalam mitos candi Prambanan yang menjadi tetangga sebelahnya.
Bangunan dengan arsitektur indah dan canggih ini pasti dibuat dalam sebuah sistem kekuasaan yang kuat, sistem kepercayaan yang dalam dan dipeluk oleh mayoritas warga sekitar, sumber daya manusia yang mumpuni, pengetahuan dan estetika perbatuan yang canggih, dan lain sebagainya. Segera muncul beberapa pertanyaan yang mengundang rasa penasaranku, seperti kemana komunitas pendukung karya peradaban megah ini? Mengapa mereka punah dan digantikan dengan komunitas Muslim yang sekarang menjadi populasi mayoritas di sekitar candi Borobudur? Apakah mereka lenyap karena bencana alam, wabah, atau ada peristiwa-peristiwa sosial politik yang menjadi penyebabnya? Mengapa ada semacam mata rantai yang hilang antara peradaban candi Borobudur dengan realitas kehidupan masyarakat saat ini dalam berbagai aspeknya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut melahirkan berbagai teori yang dikemukakan para ahli.
Terlepas dari sistem keyakinan yang berbeda dengan apa yang saya peluk, pertanyaan-pertanyaan tersebut penting untuk diajukan untuk mengkritisi terhadap paradigma dan peradaban yang sedang berlangsung. Memang masing-masing agama memiliki sejarahnya sendiri, namun mempertanyakan sejarah masa lalu berguna untuk mengkritisi fakta hari ini sekaligus mempertanggung jawabkan peradaban yang sedang kita bangun.
Selamat hari Waisak 2566 Buddha Era (BE), tahun 2022. Semoga damai di hati damai di bumi.
#bilik.renung.episode_170522#
0 comments:
Posting Komentar