MANUSIA SEDANG MENCARI FORMULA BAGAIMANA HIDUP BERSAMA
Semua makhluk hidup memiliki caranya sendiri bagaimana mempertahankan hidup dan kehidupannya. Berkumpul atau mengikat dalam kebersamaan adalah salah satu cara bagaimana sebuah spesies mempertahankan eksistensinya dari berbagai ancaman. Pada zaman Paleolitikum manusia hidup berkelompok untuk menghadapi ganasnya alam semesta dan memenuhi kebutuhan hidupnya dengan berburu. Pada abad pertengahan feodalisme menjadi sistem sosial yang memposisikan bangsawan sebagai elit yang mendominasi dalam hidup berkelompok. Era teokrasi hidup bersama dibangun di atas panji-panji keyakinan firman tuhan (agama).
Di era modern peradaban manusia didasarkan pada ikatan konsensus sebagai kontrak hidup bersama, sejak itulah nation-state terlahir yang pada akhirnya melabeli identitas kelompok manusia dalam garis teritori dan administrasi. Dalam diksi konstitusi Republik Indonesia negara diwajibkan melindungi segenap tumpah darah warganya. Era postmodern dimana neoliberalisme semakin merajalela dan menggurita jagat dunia menjadikan manusia melabeli eksistensinya berdasar budaya pop yang diintrodusir oleh merk-merk dagang korporasi kapitalisme global. Era revolusi industry 4.0 secara cepat manusia digroup-groupkan berdasar keanggotaan kelompok virtual.
Dan ketika pandemic melanda dunia akankah manusia dikelompok berdasar parameter kesehatan, vaksin, dan gejala-gejala biologis badan manusia. Di tengah manusia sejagat dilanda kepanikan dan kebingungan bagaimana bertahan hidup di tengah ganasnya serbuan virus corona tiba-tiba dunia dikagetkan dengan menyeruaknya Taliban di Afghanistan yang tiba-tiba muncul menjungkalkan sistem hidup berkelompok atas nama negara modern yang disponsori negara-negara Barat. Taliban yang mengusung panji keyakinannya unjuk kekuatan bahwa mereka juga berhak memproklamirkan sistem hidup bersama menurut versinya, walau ke depan akan diuji daya tahan dan kehandalannya di tengah masyarakat dunia yang sistem berbangsa dan bernegaranya dibangun di atas kontrak sosial yang bernama demokrasi.
Dari rentetan sejarah panjang peradaban manusia mempertahankan hidupnya, terlihat bagaimana manusia hidup berkelompok dengan berbagai argumentasi yang beragam dan dinamis. Sistem mana yang akan mampu bertahan akan ditentukan kemampuan masing-masing sistem bisa beradaptasi dengan situasi yang berkembang. Indonesia sebagai bangsa “bentukan” dan terus proses “menjadi” daya tahannya akan ditentukan imajinasi-imajinasi tentang masyarakat adil dan makmur berdasar Pancasila yang baru saja kita rayakan ulang tahunnya yang ke-76. Dirgahayu republikku….
#bilikrenungeps62
Penulis oleh: saifudin zuhri
Pada tangga : 11/11/11
0 comments:
Posting Komentar