CUBITAN KECIL TERHADAP KAPITALISME
Ada beberapa cerita kecil yang aku kais dari fenomena yang mengemuka di kota kecilku Yogyakarta sejak pandemic Covid 19 melanda dunia, tak terkecuali kota gudeg ini. Mas-mas dan mbak-mbak cantik menjajakan Pizza Hut di tepi jalan lengkap dengan kostum korps Pizza Hut dan sepeda motor dengan box khasnya. Sang penjaja ada yang melambai-lambaikan tangan kepada orang-orang yang lewat di jalan atau sekedar memampang tulisan promo harga yang dibanting murah untuk mempersuasi pembeli. Cara menjual yang dipakai pekerja Pizza Hut ini meniru-meniru cara yang dipakai para PKL yang selama ini menjadi strategi pemasarannya, yakni menempati ruang kecil tepi jalan (tak jarang di atas trotar pejalan kaki), harga murah, dan menggunakan komunikasi langsung kepada pelanggannya.
Di hari yang lain saya makan di sebuah warung angkringan, sebuah tempat makan khas di sudut-sudut kota pelajar ini. Ngangkring bukan hanya untuk makan, sambil menikmati bungkusan nasi kucing dan lauk pauk sederhana dengan gaya makan angkat kaki satu di kursi kayu panjang para pelanggan ngobrol ngalor ngidul membahas apa saja tanpa mengenal batas kelas sosial dan atribut status apapun. Di tengah keriangan ngobrol itu sang penjual cerita bahwa warungnya baru saja pindah dari halaman parkir sebuah kafe terkenal dimana ia mencoba mengais rejeki luberan dari pengunjung kafe yang rata-rata berkantong tebal itu sambil sesekali nyambi jasa parkir. Ia pindah karena kafe yang menjadi tempat mengais rejeki bertahun-tahun itu akhirnya bangkrut dan tutup total karena pandemic yang tak kunjung pasti kapan berhenti. Penjual angkring itu merasa bersyukur bisa bertahan di tengah sulitnya ekonomi jika dibandingkan dengan bos kafe dimaksud. “urip ki wang sinawang mas…” begitu ungkapan singkatnya namun maknanya begitu mendalam.
Sebuah peristiwa di suatu pagi yang cerah juga saya saksikan, salah satu mall mewah di Yogyakarta yang sudah tutup berbulan-bulan seiring dengan pemberlakuan PPKM akhirnya diijinkan buka dengan berbagai ketentuan prokes ketat. Namun dengan dibukanya mall tersebut tak serta merta membuat masyarakat ramai berbondong-bondong mengunjungi mall sebagaimana dahulu kala. Walau mall sudah dibuka namun banyak tenant yang masih tutup dan sepi pengunjung. Untuk sekedar bertahan hidup manajemen sebuah korporasi yang menjadi salah satu tenant mall tersebut membuat sebuah cara penjualan dengan mengeluarkan barang dagangannya di belakang mall dan dicentelkan di pagar untuk dijajakan kepada masyarakat yang ramai di pasar tradisional yang kebetulan berada tepat di belakang mall tersebut. Para SPG seksi, cantik, dan wangi itu memanggil-manggil pengunjung pasar tradisional supaya tertarik untuk membeli barang-barang yang biasanya dipajang di etalase mewah di dalam mall.
Hari-hari ini jalan kecil masuk ke kampungku juga semakin ramai dengan para PKL dan warung-warung kelontong yang menjual sembako dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Dulu sebelum pandemic tetangga saya untuk sekedar membeli pasta gigi dan mie instan bergaya pergi ke mall karena merasa lebih keren dan tempatnya sejuk bersih, namun masa pandemic ini cukup membeli di warung sebelah. Selain itu semakin banyak warung-warung yang menjual sayur, rempah, empon-empon dan berbagai hasil pertanian ramai dikunjungi pembeli ibu-ibu rumah tangga dan anak-anak kos.
Dari berbagai cerita kecil terpapar di atas ada banyak hal yang bisa dipetik di masa pandemi ini. Selama ini kapitalisme global memang menjadi mesin pertumbuhan ekonomi dengan berbagai gemerlap gaya hidup yang ditawarkan. Masyarakat pun hanyut dalam arus besar yang seakan tak bisa dibendung itu. Tak peduli dari kelas sosial ekonomi apapun semuanya tak sadarkan diri tenggelam dalam arus gaya hidup modern yang hakikatnya semakin melipatkgandakan keuntungan pemodal (kaum kapitalis) yang tampil bak hantu globalisasi.
Pandemi global ini memaksa berbagai korporasi besar itu untuk tunduk pada sistem sosial yang hakikatnya lebih asli dan seimbang dengan budaya bangsa ini. Pada dasarnya masyarakat kita adalah masyarakat komunal, agraris, dan ndeso. Masa pandemi ini orang dipaksa membeli apa yang perlu dibeli, berkomsumsi sebatas apa yang memang benar-benar dibutuhkan, bukan apa yang diinginkan dan hasrat. Proses jual beli pun buka hanya bertujuan pertukaran namun adalah interaksi sosial yang penuh makna. Di masa pandemi ini saya menyaksikan dengan mata kepala bagaimana kecongkakan kapitalisme yang selama ini jumawa dan seakan tak terkalahkan tunduk dan mengemis pada habitat kita yang sesungguhnya, yaitu guyub rukun dan sederhana. Semoga ini menjadi momentum bagi bangsa ini untuk merumuskan ulang peta jalan pembangunan ke depan.
#bilikrenungeps63
Penulis oleh: saifudin zuhri
Pada tangga : 26/08/21
0 comments:
Posting Komentar