AGAMA KEBENCIAN
Menarik mengamati kelakuan dua orang dari dua keyakinan yang berbeda yang akhir-akhir ini masuk ke ranah hukum, yakni Muhammad Kece dan Yahya Waloni. Muhammad Kece dilaporkan karena diduga penistaan terhadap simbul-simbul agama Islam dan Yahya Waloni diperkarakan karena melecehkan dogma-dogma agama Kristiani dengan mengatakan Kitab Injil itu palsu dll.
Memang kedua orang tersebut tidak bisa dikatakan representasi dari kedua institusi agama tersebut, namun berulangnya saling berujar kebencian antara kedua umat agama tersebut menarik untuk direnungi. Mengapa Islam maupun Kristen yang secara historis dan geneologis berasal dari sumber yang sama yakni Nabi Ibrahim di sepanjang peradabannya justru saling membenci bahkan berkonflik. Bagaimana teologi kebencian itu dilestarikan hingga kini bahkan direproduksi berlipat ganda oleh media berbasis online di era sekarang ini.
Sebenarnya fenomena membenci kepada umat beragama lain bukan hanya monopoli antara Islam dan Kristen saja, di India kebencian juga terbangun dalam komunitas umat Hindu terhadap Islam di Kashmir, di Myanmar umat Buddha terhadap komunitas Islam Rohingya, dan lain sebagainya. Walaupun di masing-masing negara memiliki varian variable yang berbeda-beda akan tetapi nuansa kebencian agama acapkali menyembul di tengah konflik-konflik setempat.
Untuk merespon fakta kebencian antara kedua belah pihak itu biasanya masing-masing institusi membela diri dengan nada difensif bahwa agamanya mengajarkan tentang kesantunan dan keluhuran seperti bahwa dalam jargon agama Islam ada ajaran tentang rahmatan lil’alamin, lakum dinukum waliyadin, dan seterusnya. Demikian halnya dogma Kristiani diproklamirkan sebagai agama penuh kasih sayang, damai, dan lain sebagainya. Demikian halnya di Hindu dan Buddha komunitas pemeluknya membela diri dengan mengatakan bahwa keyakinannya mengajarkan tentang kesucian dan menahan diri dari nafsu amarah, dll.
Untuk menjaga kesucian dan marwah agamanya masing-masing semua institusi agama tersebut masih menambah argument apologis bahwa kalaupun ada salah satu anggota ummatnya merendahkan dan menistakan kelompok lain itu adalah karena oknumnya dan bukan kesalahan agama itu sendiri. Begitulah pembelaan diri yang sering kali berkumandang.
Sikap apologis dengan menarik garis batas antara pemeluk dengan agamanya bisa dianalisis melalui dua sudut pandang, yaitu perspektif essensialisme dan konstruktivisme. Dalam perspektif essensialisme kebenaran itu otonom dan permanen dalam institusi atau organisasi dan terpisah dengan orang per orang yang menjadi anggotanya, sehingga jika ada kesalahan atau keburukan yang dilakukan oleh pemeluk sebuah agama maka itu ditimpakan pada oknumnya sementara institusi agama berada dalam kebenaran abadi.
Dalam perspektif konstruktivisme, kebenaran adalah proses dialektika dinamis antara subyek dengan institusi. Manusia sebagai subyek adalah hasil konstruksi dari institusi itu sendiri. Kesadaran seseorang tidak bisa lepas dari relasi kuasa dengan institusi di luar dirinya. Karena itu bagaimana sebuah kesadaran itu dibentuk bukanlah entitas tersendiri yang otonom namun sebagai hasil proses dialektika terus menerus antara eksternalisasi, obyektivasi, dan internalisasi. Lebih jauh proses ini kemudian didekonstruksi ulang dalam lingkaran dialetika terus menerus yang sangat ditentukan oleh relasi kuasa, media, dan representasi kepentingan.
Kesalahan atau keburukan yang dilakukan oleh anggota sebuah organisasi, apalagi ini terjadi berulang kali dan terpola, maka tidak bisa hanya dijelaskan sebagai permasalahan oknum semata. Ada sejumlah pertanyaan kritis yang bisa diajukan, seperti bagaimana sejarah sebuah konsep teologis itu dibangun? Adakah secara tersurat dalam kitab suci memang ada ajaran yang mengandung ujaran kebencian terhadap kelompok lain? Bagaimana proses sosialisasi dan komunikasi pesan ajaran itu disampaikan kepada khalayak pengikutnya? Bagaimana metode tafsir terhadap sebuah dalil untuk konteks kehidupan umat yang berjarak jauh dengan sumber aslinya (baik secara tempat maupun waktu)?
Dari perspektif konstruktivisme maka fenomena ujaran kebencian dan penistaan antar agama tampilnya Yahya Waloni, Muhammad Kece, Ust Abdul Somad, Felix Siauw, Jozeph Paul Zhang yang heboh di dunia maya akhir-akhir ini adalah episode sambungan dari pemeran-pemeran sebelumnya. Dan jika institusi agama tidak kunjung memiliki keberanian mendekonstruksi dogma-dogma bekunya dengan perspektif kritis, maka tinggal nunggu waktu akan hadir nama-nama baru untuk melanjutkan cerita bersambung, yakni mereproduksi kebencian dan penistaan.
Untuk memutus mata rantai reproduksi teologi kebencian ini saatnya semua pihak jujur pada diri sendiri dan mengalihkan energinya lebih pada bagaimana kehadiran agama memberi manfaat untuk kehidupan nyata. Jika hal itu tidak kunjung bisa dilakukan oleh institusi agama maka saatnya institusi sosial di luar agama, terutama negara, menjadi pihak yang sah menegakkan ketertiban umum dengan segenap perangkat yang dimilikinya.
#Bilik.Renung.Episode_270821 ditulis oleh Saifudin Zuhri#
0 comments:
Posting Komentar