Selasa, 31 Agustus 2021

PERPANJANGAN PPKM, WACANA MASUK SEKOLAH, DAN SENJAKALA NALAR SEHAT

Untuk kali kesekian PPKM diperpanjang lagi dan lagi. Dalam pengumuman perpanjangan PPKM yang disampaikan presiden langsung itu berbagai data disajikan. Dari sajian data tersebut rata-rata mengalami perbaikan kondisi pandemic covid 19 dengan indikator di berbagai daerah mengalami penurunan level PPKM dari 4 ke 3 dan bahkan beberapa daerah berhasil turun dari level 3 ke 2. Dalam pada itu secara kasat mata fakta-fakta penurunan covid 19 di lapangan juga terlihat, seperti tingkat hunian pasien covid di rumah sakit yang menurun, lalu lalang ambulan menyepi, dan petugas penggali kubur jenazah covid tak selelah sebelumnya. Seiring dengan penurunan level PPKM tersebut berbagai kebijakan pelonggaran dilakukan, sejak dari mulai dibukanya pusat perbelanjaan modern (mall), pariwisata, dan wacana sekolah secara luring. Seiring dengan itu semua geliat roda ekonomi mulai berputar, jalanan mulai ramai, dan masyarakat mulai bersungut-sungut bangun dari kejenuhan masa gabutnya. Fenomena tersebut memang menjadi kabar menggembirakan dan membangkitkan rasa optimisme masyarakat, namun ada sejumlah pertanyaan kritis layak diajukan, seperti apa penyebab utama penurunan data Covid 19? Apakah perilaku masyarakat parallel dengan kesadaran hukum kausalitas? Bagaimana persiapan lembaga pendidikan (terutama pendidikan dasar dan menengah) menyambut pembelajaran offline? Secara data statistic penurunan data penyebaran Covid 19 tidak dapat dilepaskan dari pemberlakuan rekayasa sosial yang bernama PPKM di beberapa daerah yang dikaterorikan zona merah dan hitam. Itu artinya pembatasan mobilitas warga menjadi factor penyebab (prima kausa) menurunnya data. Di sini berlaku hukum kausalitas sebab-akibat. Prestasi penurunan jumlah paparan Covid sebagai akibat dari sebab pembatasan pergerakan warga. Dengan demikian akan terjadi sebaliknya, jika semakin warga banyak bergerak maka covid 19 pun akan kembali naik. Hukum kausalitas tersebut mungkin gampang dipahami dalam tataran kognitif, namun belum terinternalisasi dalam kesadaran dan perilaku public. Lihatlah belum lama level PPKM diturunkan masyarakat sudah berbondong-bondong mengunjungi lokasi pariwisata, tempat-tempat public mulai ramai pengunjung. Abainya masyarakat dengan prokes adalah bukti bahwa Pandemi ini tidak menjadikan manusia tersadar dengan hukum-hukum dasar kausalitas. Menurunnya jumlah Covid 19 seakan tak terkait dengan sebuah upaya rekayasa sosial, namun dipersepsikan terjadi begitu saja. Bahkan pandemic global ini dipersepsikan sebagai takdir tuhan. Kalaupun ada berbagai upaya penanganan itu direduksi dan didifferensiasi sebagau urusan pemerintah semata. Dari sekian entitas sosial yang merespon menurunnya data pandemic, menarik mengamati respon dari lembaga pendidikan yang akan menyelenggarakan pembelajaran tatap muka. Rencana tersebut tentu disambut riang gembira para siswa dan wali murid yang telah sekian lama jenuh dengan pembelajaran online. Yang menarik untuk diamati adalah parameter yang digunakan dan bentuk antisipasi sekolah dalam menyambut kebijakan pembelajaran tatap muka. Sekolah meletakkan vaksin sebagai andalan pembentukan imun tubuh dan protocol kesehatan sebagai andalan penanggulangan penularan covid antar siswa. Karena itu sekolah sibuk mengadakan program vaksinasi dan pengadaan berbagai peralatan dan fasilitas pembelajaran bernuasa prokes, seperti tata ruang antar siswa yang berjarak, alat tester suhu tubuh, hand sanitizer, tempat cuci tangan, dan kewajiban memakai masker. Itu semua benar adanya dan harus. Namun untuk jangka panjang institusi pendidikan belum menjamah dimensi ontologis dan mendasar dari pandemic ini, yakni imun tubuh dan budaya hidup sehat. Dalam perspektif ilmu kesehatan imun tubuh dibentuk dari dua faktor, yaitu, pertama: proses panjang sejak dari gaya hidup, pola makan, pola istirahat; kedua, vaksin. Dari kedua faktor tersebut yang pertama mestinya menjadi perhatian institusi pendidikan, apalag tingkat sekolah dasar dan menengah dimana menjadi basis pembentukan imun tubuh manusia. Pada usia itulah masa keemasan umur manusia membentuk daya tahan tubuhnya, seperti pembentukan masa otot, kepadatan tulang, detak jantung, dan lain sebagainya. Penempaan fisik manusia terjadi di usia-usia tersebut. Jenis makanan apa yang dikonsumsi, bagaimana pola tidurnya, dan bagaimana gerak badannya menjadi investasi utama dalam membangun imun tubuh. Itu semua memang proses panjang namun itulah pondasi utama dalam membangun daya tahan tubuhnya ke depan. Melihat perkembangan situasi saat ini pendidikan jasmani menjadi sangat relevan untuk direvitalisasi dalam struktur kurikulum sekolah dasar dan menengah. Dulu waktu SD di dinding sekolah Inpres di kampung saya tertempel semboyan “Mensano Incorpore Sano”, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Olah raga yang selama ini dianggap pelajaran tambahan dan sampingan di sekolah mestinya diutamakan dalam program pendidikan, bahkan di masa pandemic ini mestinya ada gerakan berjemur pagi tiap hari di sekolah-sekolah sambil senam pagi sebagaimana masa lalu dengan senam SKJ yang begitu ikonik dan popular itu. Sekolah tidak hanya sibuk pengadaan tempat cuci tangan dan peralatan disinfektan yang memakan biaya berjuta-juta itu namun lupa untuk berkeringat menggerakkan tubuh mungil anak-anak yang malas bergerak karena kebanyakan main game online. Demikian halnya para guru pun juga harus ikut berolahraga supaya perut buncitnya tidak semakin maju karena menikmati kemakmuran dari tunjangan sertifikasi guru, dll. Sesekali sekolah mengadakan gerakan makan sayur dan buah untuk menetralisir toksin akibat budaya pop makan jungfood yang sudah melanda selera lidah anak-anak usia dini. Dalam menegakkan prokes sekolah harus menanamkan logika dasar dan nalar sehat bahwa kesehatan itu adalah hasil dari sebuah proses rasional. Rasionalitas harus ditanamkan dalam setiap aturan supaya anak dalam menaatinya bukan semata karena faktor deontologis namun sadar akan utilitasnya. Memakai masker bukanlah bagian dari atribut kewajiban sekolah sebagaimana memakai baju seragam yang akan dilepas ketika tidak sedang berada di lingkungan sekolah. Memakai masker adalah kebutuhan rasional yang bermanfaat untuk dirinya dan orang lain sehingga memakainya adalah tuntutan nalar sehat. Memakai masker juga bukan atas dasar ketakutan sebagaimana umumnya para pengendara mengenakan helm lebih akrena takut ditilang pak polisi ketimbang keadaran melindungi diri sendiri. Itulah rasionalitas yang harus mulai dibangun di tengah pandemic global ini. Kesadaran rasional ini menjadi kunci apakah bangsa ini berhasil keluar dari derita panjang ini hanya sebagai korban dan penonton atau mampu bertahan bahkan beranjak naik kelas menjadi bangsa yang berkeadaban dan berkemajuan. Mari bernostalgia senam SKJ diiringi musiknya yang khas dari tape jadul merk Panasonic dengan baterai ABC yang nyaring di halaman sekolah SD inpresku itu…… #Bilik.Renung.Episode_310821# Ditulis oleh: Saifudin Zuhri
Share:

0 comments:

Posting Komentar