Selasa, 14 September 2021

PERUBAHAN LINGKUNGAN DAN KEKHAWATIRAN TERJEREMBAB DI LUBANG YANG SAMA

Ketika dunia belum usai dilanda pandemic global oleh sebuah virus Covid 19, tanda–tanda hadirnya ancaman baru segera tiba, yakni perubahan iklim global. Sejumlah tanda-tanda alam itu satu per satu mulai bermunculan di berbagai belahan dunia, seperti matinya ribuan burung pipit secara tiba-tiba di Cirebon sebagaimana terjadi sebelumnya di Gianyar Bali, serbuan ribuan monyet liar di Martapura Kalimantan, mencairnya gunung es di kutub, badai Ida di Amerika Serikat, perubahan cuaca yang tidak menentu, dan lain sebagainya. Dua fenomena tersebut adalah tanda geliat mikrokosmos yang diwakili oleh pandemic Covid 19 dalam tubuh manusia dan makrokosmos yang diwakili oleh tanda-tanda terganggunya keseimbangan alam. Jauh sebelumnya, peradaban manusia yang dilabeli fase modern dan bahkan sudah masuk era postmodern begitu jumawa dengan kedigdayaan manusia sebagai subyek peradaban. Dari geliat makrokosmos dan mikrokosmos tersebut manusia diingatkan bahwa bagaimanapun manusia adalah bagian dalam jagat cilik dirinya sendiri dan butiran debu dari semesta alam makrokosmos yang begitu besar dan luas ini. Manusia memang spesies manusia paling cerdas di antara makhluk hidup lainnya yang karenanya memiliki kemampuan menciptakan peradaban, namun manusia tetaplah menjadi bagian dari kesemestaan yang mestinya selaras dan melestarikan. Manusia harus bersatu padu menyelamatkan dirinya dan kehidupan bersama di atas kesadaran bahwa hidup ini sementara dan dalam kesementaraan itu berbaik-baiklah dengan tubuh kita sendiri dan alam semesta. Segala apa yang dikreasi oleh manusia, sejak dari keyakinan, ilmu pengetahuan, kesenian dan lain sebagainya diorientasikan untuk kelestarian alam dan keselamatan hidupnya. Begitu pula segala entitas sosial yang dikonstruksi umat manusia sejak dari adat istiadat, intisusi agama, negara, dan sistem global kesemuanya diciptakan untuk melindungi segenap tumpah darah penduduk bumi agar lestari. Jika terbukti benar prediksi para pengamat bahwa gelombang perubahan lingkungan global itu akan membawa dampak global yang lebih dahsyat daripada pandemic global Covid 19 maka ada beberapa catatan penting yang perlu diwaspadai sebagai sebuah bangsa. Sudah menjadi rahasia umum bahwa ketika pandemi Covid 19 melanda dunia posisi bangsa ini berposisi sebagai konsumen vaksin terbesar mengingat jumlah penduduk negara terbesar ke-4 di dunia. Setelah sekian lama berdebat sedari awal memahami hakikat apa itu virus corona toh pada akhirnya bangsa ini menjadi konsumen vaksin. Jangan sampai ketika dampak perubahan lingkungan itu semakin nyata dalam jarak terdekat dimana kita berdomisili bangsa ini kembali saling berdebat menafsir-nafsirkan hakikat bencana, sumbernya, dan maknanya namun tidak melakukan apapun untuk mitigasi bencana, antisipasi, dan sejumlah perencanaan terukur supaya jumlah korban bisa diminimalisir. Jika itu terjadi maka bersiap-siaplah bangsa ini terjerembab di lubang yang sama untuk kali kesekian sebagai pasar produk-produk negara maju dalam penanggulangan bencana, seperti teknologi prakiraan cuaca, alat penyelamatan, alat evakuasi, transportasi, hingga konsumsi bahan makanan, dan lain sebagainya. Dan…sebagaimana biasanya kembali corong-corong tempat ibadah menyerukan ratapan doa belas kasihan Tuhan, pertaubatan massal, sambil menuding sana sini sebagai penyebab terjadinya bencana seakan begitu yakin bahwa Tuhan berpihak padanya. #bilik.renung.episode_150921# Ditulis oleh Saifudin Zuhri
Share:

0 comments:

Posting Komentar