PERBEDAAN PENETAPAN AWAL RAMADHAN; Antara Perbedaan Metode, Legitimasi Negara, dan Transformasi Teknologi
PERBEDAAN PENETAPAN AWAL RAMADHAN;
Antara Perbedaan Metode, Legitimasi Negara, dan Transformasi Teknologi
(Ramadhan Edisi 1)
_Oleh Saifudin Zuhri_
Sebelum lebih jauh memaparkan topik di atas terlebih dahulu penulis mengucapkan _marhaban yaa Ramadhan_ 1443 H kepada ummat Islam bagi yang memulai hari ini Sabtu, 2 April 2022 atau yang sami’na wa atho’na atas keputusan pemerintah yang menetapkan awal puasa Ramadhan jatuh pada hari Minggu, 3 April 2022. Kelompok yang pertama notabene adalah pengikut Muhammadiyah dan mungkin beberapa kelompok lain, sedangkan kelompok kedua biasanya adalah kaum nahdhiyin, alias NU.
Fenomena perbedaan awal Ramadhan bukan hal baru, di hampir setiap tahun kala menetapkan awal puasa Ramadhan selalu dihantui oleh perbedaan. Ada beberapa pertanyaan yang diajukan untuk menganalisis fenomena tersebut, di antaranya adalah: 1) Apakah perbedaan tersebut sekedar perbedaan metode atau ada faktor lain? 2) Mengapa Muhammadiyah cenderung otonom dan berbeda dengan keputusan pemerintah, sedangkan NU hampir pasti selalu identik dengan keputusan pemerintah? 3) Jika penetapan awal bulan dalam Islam didasarkan pada hilal dan hilal adalah bagian dari sistem tata surya, itu artinya terkait dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, apa kabar perkembangan dan penguasaan iptek dalam khazanah Islam saat ini?
Berikut uraian untuk mencoba menjawab pertanyaan tersebut di atas, pertama, dalam hal penetapan awal bulan dalam Islam lazim dikenal dua jenis metode, yaitu hisab dan rukyah. Metode hisab artinya sebuah cara penentuan berdasarkan hitungan, maka nilai angka derajat menjadi parameter utama dalam mengambil kesimpulan. Sedangkan rukyah adalah metode yang didasarkan pada dimensi empirik dimana penggunaan indera penglihatan dan alat bantu teknologi pembesar obyek menjadi instrument penentunya plus faktor cuaca sebagai variable interveningnya. Dilihat dari perbedaan metode yang digunakan tersebut maka perbedaan kesimpulan bisa dipahami dan dianggap kredibel menurut perspektif dan metode masing-masing.
Kedua, kecenderungan Muhammadiyah (beberapa kelompok lain) yang berbeda dengan NU yang selalu selaras dengan keputusan pemerintah tidak bisa dilihat sekedar perbedaan metode namun memiliki akar genealogi historis bahkan politis yang memang berbeda. Memang kedua ormas tersebut secara formal non politis, namun juga tidak dapat dipungkiri bahwa bagaimana pola relasi kuasa kedua ormas tersebut dengan pemegang kekuasaan sangat menentukan sikapnya. Penentuan posisi dengan keputusan pemerintah sekaligus merepresentasikan bagaimana kedua ormas tersebut meneguhkan identitasnya dan termasuk posisi relasinya. Dan ini semua tentu memiliki akar sejarah yang jauh ke belakang.
Ketiga, hilal merupakan bagian dari fenomena alam semesta, karena itu penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi berperan sentral dan menentukan. Fakta sulitnya umat Islam mencapai kesepakatan yang sama dalam menentukan awal bulan adalah gambaran bagaimana kadar penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi itu sendiri. Memang dalam khazanah ilmu pengetahuan Islam ada ilmu Falak, sebuah warisan ilmu masa lalu Islam yang sudah relatif tua membahas tentang astronomi, namun sejauhmana ilmu itu dikembangkan lazimnya dalam diskurus ilmu pengetahuan modern, atau nasibnya sama dengan khazanah keilmuan Islam yang lain seperti Fikih, Mantiq, Tafsir, Aljabar, Nahwu, Shorof, dan lain-lain yang seakan menjadi dogma membeku dalam kemasan kitab-kitab kuning.
Untuk melihat kejumudan perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam tersebut gampang saja, coba amati produk ciptaan teknologi jarang sekali ditemukan dari jenis-jenis ilmu pengetahuan yang sebenarnya sudah lama dikaji di kalangan pembelajar Islam, baik di pesantren maupun di sekolah-sekolah formal berbasis Islam sekalipun. Peralatan teknologi yang digunakan dalam meneropong hilal adalah produk import dari produsen yang rata-rata dari negara Barat, atau bahkan sebagian masih menggunakan teropong tradisionil yang mungkin sudah usang dan tidak lagi akurat dalam mengamati presisi hilal di langit yang semakin pekat karena anomali cuaca dan polusi udara.
Dari paparan di atas bisa disimpulkan bawa perbedaan penentuan awal puasa Ramadhan memang memiliki argument masing-masing yang sah-sah saja untuk dijelaskan, namun perbedaan yang terjadi berulang-ulang itu sekaligus menggambarkan bagaimana kapasitas umat ini di bidang perkembangan iptek, kemampuan manajemen komunikasi, dan sejauhmana legitimasi pemerintah dalam persepsi entitas sosial warganya sendiri. Memang ada dalil bahwa perbedaan pendapat di antara umat Islam adalah berkah sebagai bagian dari keragaman dan kekayaan, namun sebagai bangsa komunal tentu menikmati ketupat bareng di hari yang sama dan bersama-sama kayaknya kok lebih asyik dan gayenk…..
#Bilik.Renung.Episode_020422#
0 comments:
Posting Komentar