Minggu, 08 Mei 2022

KESUNYIAN YANG DIRAMAIKAN

KESUNYIAN YANG DIRAMAIKAN (Ramadhan Edisi 2) _Oleh Saifudin Zuhri_ Semua jenis peribadatan dalam agama memiliki bentuk dan kharakter yang didisain berbeda-beda. Ada jenis ritual yang didisain untuk ranah individual ada yang sosial, ada yang tata caranya rumit ada yang praktis, ada yang bersifat rahasia (_sirri_) ada yang vulgar (_syi’ar_). Belum lagi dilihat dari aspek syarat, rukun, dan tujuannya, dll maka akan muncul berbagai jenis macam peribadatan. Di antara berbagai macam jenis ibadah dalam Islam, seperti sholat, zakat, dan haji, maka ibadah puasa adalah jenis ritual yang didisain secara lain dan khusus. Tradisi puasa sebenarnya tidak bisa diklaim hanya milik umat Islam, di dalam ajaran agama lain pun terdapat tradisi puasa walaupun dengan format yang berbeda-beda. Dalam agama-agama besar dunia seperti Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Yahudi, Konghucu, Kunfusionisme, Sikh, dll terdapat tradisi puasa. Demikian halnya dalam agama yang berbasis kearifan lokal seperti di Jawa terdapat jenis-jenis puasa, seperti _poso mutih, pati geni, ngrowot, poso ngrame, poso mbisu_, dan lain sebagainya. Dari beragam jenis puasa tersebut ada substansi yang sama untuk berjumpa, yakni puasa sebagai cara penghentian sejenak dari otomatisasi mekanistik hukum-hukum biologis manusia dan hasrat-hasrat stimulus-respon naluri manusia. Puasa adalah sebuah instrument untuk penjedaan dan penjarakan antara subyek dan obyek, stimulus dan respon, sebab dan akibat, dan lain sebagainya. Penjedaan dan penjarakan ini penting untuk menegaskan kedirian manusia supaya menjadi subyek sadar yang benar-benar otonom sebelum merespon stimulus di luar dirinya. Adanya rasa lapar dan dahaga tidak secara otomatis harus segera makan dan minum, hasrat libido seksual tidak lantas bersenggama, layak berfoya-foya namun tetap sederhana, sah berkuasa namun tidak lantas semena-mena, kaya tidak lantas jumawa, layak marah harus menahan diri untuk marah, adanya kesempatan untuk membalas lawan tidak selalu menggunakannya untuk membalas dendam, mentang-mentang mayoritas tidak lantas menjadi tiran, dan lain sebagainya. Puasa mendidik manusia untuk mempertimbangkan setiap tindakan sekecil apapun adalah kesadaran dan pilihan jernih. Puasa mengajarkan tentang kehati-hatian dan kewaspadaan walaupun itu sah untuk dilakukan. Puasa adalah alat untuk penghentian sejenak dalam batas yang terukur untuk menguatkan kembali ruh yang suatu saat pergi meninggalkan badan wadagnya. Puasa adalah media melatih diri untuk tidak selalu tergantung secara otomatis dari tuntutan mekanistik tubuh kita sendiri. Dengan puasa diharapkan penunainya mampu menembus batas melampaui dirinya sendiri. Karena misi khusus yang berdimensi esoteric dan transcendent inilah agama mendisain khusus ibadah ini benar-benar sunyi, rahasia, dan misterius. Mestinya ibadah ini menjadi jenis ibadah paling hening, bening, dan lembut. Berbeda dengan jenis ibadah lain seperti sholat, zakat, dan haji yang dalam pelaksanaanya kasat mata, eksplisit, vulgar, dan bahkan massal, ritual puasa lebih diorientasikan ke dalam. Namun demikian disain ritual puasa tersebut tidak terkorelasi dalam realitas sosialnya. Ibadah puasa Ramadhan adalah justru menjadi ibadah yang paling ramai, hiruk pikuk, bising, dan agresif. Lihatlah bagaimana frekuensi udara dipenuhi rambatan suara toa masjid, surau, dan musholla yang meraung-raung bersahut-sahutan dalam radius yang sangat rapat. Belum lagi media sosial dengan kecepatan tinggi mengunggah naiknya tensi religiusitas pribadi ke ruang-ruang public media baru ini. Ghirroh dan semangat religi ini pun tidak tahan untuk diekspresikan hanya karena ada warung makan buka di siang hari. Jika itu yang terjadi maka Tuhan pun kecelik mendisain jenis ibadah ini. Mungkin. _#Bilik.Renung.Episode_030422#_
Share:

0 comments:

Posting Komentar