Senin, 30 Agustus 2021

Ketika PANDEMI meng-HIJRAH-kan Penduduk Bumi

Dalam khazanah sejarah Islam hijrah yang akhirnya menjadi pangkal penghitngan awal tahun baru Islam disandarkan pada peristiwa berpindahnya Nabi Muhammad beserta pengikutnya kala itu dari Makkah ke Madinah. Perpindahan tersebut bukan sekedar pergeseran teritorial namun juga menyiratkan sarat makna. Berikut beberapa makna substantif yang bisa dipetik dari tonggak sejarah baru peradaban Islam dimaksud dan bagaimana kontekstualisasi dalam optik kekinian. Pertama, secara sosiologis hijrah merupakan perubahan type masyarakat dari struktur tribalism ke struktur egaliterianisme. Tribalisme adalah sebuah bentuk masyarakat yang didominasi oleh kepala suku sebagai pusat orientasi dan sumber sistem sosialnya. Sedangkan egaliterianisme adalah type masyarakat dengan pola kesetaraan yang kala itu mengambil jargon tauhid sebagai model gerakan sosial untuk menyamaratakan anggota masyarakat. Keimananan kepada Tuhan dan kesetiaan kepada Nabi adalah satu-satunya sistem pengelompokan atau stratifikasi sosial kala itu. Kedua, secara politis hijrah merupakan gerakan revolusi sistem kekuasaan dari dominasi dan monopoli para elit yang menikmati sistem klan dan patriakhi yang menghegemoni kesadaran public dan membentuk sistem perbudakan menjadi sistem kekuasaan yang lebih terbuka dimana lagi-lagi kepercayaan kepada Tuhan dijadikan simbul gerakan politik untuk merobohkan sangkar besi kekuasaan yang dibangun para elit kala itu. Tampilnya Muhammad sebagai inisiator gerakan revolusi dan agen perubahan kala itu cukup sukses hingga pada titik dimana oleh pengikutnya ditahbiskan sebagai bagian dari sistem keyakinan dan ajaran itu sendiri (walau pada perkembangan baru saat ini keyakinan ajaran dan sosok figure Muhammad oleh sebagian pengikutnya yang terlalu fanatic menjelma menjadi kekuasaan baru yang perlu dikritisi juga). Ketiga, secara teologis hijrah merupakan pembongkaran sistem kepercayaan lama yang bersumber dari pagan-polytheistic ke monotheistic. Pagan-polytheistic adalah sebuah sistem kepercayaan yang berhasil dikonstruksi oleh para elit suku dan pelanggeng patriarkhi untuk dijejalkan dalam kesadaran keyakinan masyarakat bahwa kekuatan yang harus ditakuti adalah simbul-simbul berhala yang pada hakikatnya adalah representasi kepentingan kekuasaan para elit dan lelaki. Islam kala itu sukses membuat antithesis dengan menawarkan konsep kekuasaan abstrak yang tidak boleh disimbulkan dalam bentuk apapun dan steril dari representasi kepentingan manapun kecuali kesadaran terus menerus akan kehadiran kekuasaan Tuhan dalam hati dan fikiran setiap orang. Keempat, secara kebudayaan hijrah adalah perubahan perilaku dan gaya hidup dari hedonisme profan (dunia material) berpindah ke perilaku dan kebiasaan baru yang bernilai kualitatif, rasional, dan bermanfaat menembus sekat-sekat yang menghalangi manusia tampil sebagai “manusia” dengan nilai-nilai kemanusiaannya. Mencoba memetik hikmah dibalik hijrah sebagaimana terurai di atas membawa pada kesadaran bahwa makna tertinggi manusia adalah kemampuan untuk berubah. Dalam konteks gerakan sosial kontemporer substansi hijrah bisa ditelaah dalam berbagai gerakan sejenis walau tidak sama dengan berbagai diksi yang sering digunakan dalam lanskap politik modern seperti revolusi, reformasi, transformasi, dan lain sebagainya. Di masa pandemic yang sedang melanda dunia sekarang ini, bisa jadi merupakan awal dimana manusia dipaksa untuk berhijrah dari tatanan lama ke nilai-nilai baru (muncul istilah new normal). Tanda-tanda perubahan itu kian hari semakin menguat baik dalam skala mikro maupun makro. Akan ada banyak perubahan krusial dalam berbagai aspek kehidupan yang tak terbanyangkan sebelumnya sejak dari cara-cara hidup keseharian hingga berskala besar tatanan dunia global. Hanya saja jika dalam peristiwa Hijrah 1 Muhamarram, gerakan pencerahan (renaissance) di Eropa, revolusi politik di Perancis, revolusi Meiji di Jepang, revolusi kebudayaan di China, reformasi di Indonesia, dan lain sebagainya, subyek utamanya adalah manusia, apakah perubahan sekarang ini subyek utamanya justru bukan manusia tapi virus; apakah ini pertanda kekalahan spesies manusia oleh mekanisme hukum seleksi alam sebagaimana yang dikemukakan oleh teori Darwin. Atau ini adalah tantangan bagi segenap manusia untuk menjawabnya sehingga menjadi layak disebut makhluk paling unggul diantara makhluk-makluk lain. Jika pandemic global ini berhasil dilewati dengan kecerdasan yang dimiliki manusia maka Tuhan tidak salah pilih menyematkan manusia dengan predikat “wakil Tuhan” (kholifatullah) di muka bumi ini, namun jika gagal dan akhirnya spesies manusia musnah maka betapa kecewa dan malunya Tuhan di hadapan para Malaikat yang dulu memprotesnya ketika Tuhan melantik manusia sebagai wakil-Nya. Wallahua’lam… (Tulisan ini dibuat di tengah kegabutan masa pandemic untuk merenungkan makna tahun baru Islam 1443 H yang tiap tahun ditafsirkan begitu-begitu saja) #bilikrenungeps61 Penulis oleh: saifudin zuhri Pada tangga : 11/11/11
Share:

0 comments:

Posting Komentar