BANGSA YANG MENYIA-NYIAKAN MOMENTUM UNTUK BELAJAR BERNEGARA
Memang sudah lama kita merdeka sebagai negara yang berdaulat, jika dihitung sejak diproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 maka usia bangsa Indonesia sudah 76 tahun, sebuah usia yang mestinya sudah cukup dewasa dalam bernegara. Namun ada sebuah istilah bahwa “tua itu pasti, tapi dewasa itu pilihan”. Di sepanjang usia tersebut kita sudah pernah dipimpin oleh 7 (tujuh) presiden dan sudah pernah melakukan 12 (dua belas) kali Pemilu. Sejak pertama didirikan bangsa Indonesia pun sudah sepakat sebagai negara berbentuk republik, bersistem demokrasi, dan diatur secara konstitusional.
Dari serentetan data tersebut di atas seharusnya cukup bagi bangsa ini untuk mengerti bagaimana bernegara; seperti mengapa aparatur negara harus tegas dan adil, mengapa harus membayar pajak, bagaimana cara memilih pemimpin yang tepat, bagaimana cara menyampaikan aspirasi, bagaimana menyelesaikan masalah dengan jalur hukum, bagaimana proses regulasi, bagaimana seharusnya partai politik bekerja, bagaimana beragama di negara Pancasila, bagaimana bermedia social, apa perbedaan antara kewenangan lembaga pemerintah, parpol, ormas, dan lain sebagainya.
Namun apa yang seharusnya (das sollen) tersebut masih berkesenjangan dengan apa yang senyatanya (das sein). Memang fakta tersebut bukan terjadi dengan sendirinya. Di periode awal kemerdekaan Indonesia bangsa ini masih uforia dengan kemerdekaan dan memanasnya perang dingin antara blok Barat yang liberal-kapitalis dengan blok Timur yang sosialis-komunis menjadikan negeri ini terjebak dalam semangat nafsu politik dengan melupakan basis dasar pembangunan ekonomi. Rakyat terpesona dalam agitasi politik Soekarno yang menggebu-gebu hingga lupa memahami bagaimana membangun sistem bernegara di masa-masa awal. Negara memang baru saja terlepas dari penjajahan secara fisik namun sistem antitesisnya sebagai negara yang merdeka tidak kunjung dibelajarkan kepada rakyatnya sendiri.
Begitu juga pada masa Orde Baru. Ambisi politik Soeharto untuk mempertahankan kekuasaan meninabobokkan kesadaran rakyat untuk berpartisipasi dalam proses-proses politik kenegaraan sehingga antara rakyat dan negara kian berjarak. Bahkan pada masa itu untuk memilah pembagian kekuasaan dalam skema trias politica (eksekutif-legislatif-yudikatif) saja tidak mampu dilakukan karena segalanya memusat pada figure Soeharto. Keberhasilan Orde Baru membangun stabilitas keamanan, politik, dan pertumbuhan ekonomi merupakan realitas semu karena pada hakikatnya menisbikan partisipasi rakyat yang lazim dipersyaratkan dalam sistem negara demokrasi.
Demikian halnya pasca lengsernya Soeharto yang popular disebut dengan era Reformasi. Terbukanya kran kebebasan sebagai sintesa baru dari otoriterianisme sistem sebelumnya menjadikan negara sebagai panggung terbuka untuk aktualisasi diri baik dalam skala kelompok maupun individu. Disinilah politik pencitraan menjadi sedemikian kuat di tengah iklim kebebasan demokrasi yang sebenarnya kondusif untuk dikembangkan. Namun hasrat nafsu politik pencitraan oleh kelompok atau elit individu ini membuang momentum pendidikan politik kewargaan (citizenship) bagi rakyat Indonesia.
Dari ketiga periode type kekuasaan di Indonesia (Orde Lama, Orde Baru, dan Era Reformasi) telah menyia-nyiakan momentum bagi kita semua untuk bagaimana belajar bernegara secara baik dan benar. Orde lama telah membuang momentum semangat 45 lepas dari penjajahan, Orde Baru menisbikan momentum stabilitas pembangunan baik global maupun nasional, dan era Reformasi menyia-nyiakan momentum suasana kebebasan yang sudah sedemikian melimpah ruah di tengah kecanggihan teknologi yang semakin pesat.
Walhasil sekian lama bangsa ini bernegara banyak hal yang akhirnya gagal dipahami oleh para para elit bangsa ini maupun rakyatnya sendiri. Oleh sebab itu adalah pemandangan yang lumrah jika di masa pandemic ini kebijakan apapun tak pernah efektif berjalan, apakah mau digas (diperlonggar demi pertumbuhan ekonomi) atau direm (PSBB, PPKM, hingga lockdawn sekalipun) tetap saja melahirkan kebisingan komentar baik di dunia nyata maupun di dunia maya. embuhlah…….
#bilikrenungeps60
Penulis oleh: saifudin zuhri
Pada tangga : 11/11/11
0 comments:
Posting Komentar