Senin, 30 Agustus 2021

NEGERI YANG LUPA DIRI

Pandemi global Covid 19 melahirkan kesadaran baru tentang isu kesehatan. Sebelum corona melanda dunia industri budaya meremehkan nilai penting kesehatan demi gaya hidup, hedonisme, dan perburuan happiness sebagai simbul modernitas. Walaupun munculnya kesadaran itu terlambat namun itu masih lebih baik daripada tidak sama sekali. Dalam kesadaran itulah muncul berbagai fenomena yang sebenarnya aneh bagi negeri tropis yang berada tepat di lintasan garis khatulistiwa, namun karena selama ini kita hanyut dalam industri budaya modern menjadikan fenomena tersebut seakan baru dan asing bagi kita sehingga kita harus bersusah payah melatih diri dengan kebiasaan baru yang seharusnya lazim dilakukan selama ini. Apakah fenomena baru tersebut? Berikut sebagian hal-hal baru yang terjadi akhir-akhir ini: 1) Berjemur matahari di pagi hari. Sebagai negeri khatulistiwa bangsa Indonesia dianugerahi pancaran sinar matahari yang begitu melimpah dengan durasi yang sangat ideal dalam ritme aktivitas manusia. Pembagian siang dan malam di negeri ini juga begitu ideal karena 24 jam dibagi secara merata. Coba dibayangkan bagaimana beberapa negara di belahan planet ini yang tidak kebagian sinar matahari atau tersinari matahari tapi dengan durasi yang kurang ideal (siangnya lebih lama atau lebih sedikit), seperti negara Denmark, Islandia, Norwegia, Alaska, dll. Oleh karena itu nikmat Tuhan manakah yang hendak engkau dustakan wahai penghuni negeri ini? Ada keanehan selama ini orang Indonesia justru menghindari sinar matahari dengan dalih takut rambutnya lepek, kulitnya gosong, dan lain sebagainya. Perasaan semacam ini tidak lain adalah dalih untuk promosi komoditas industri kaum kapitalis di bawah korporasi tran nasional, seperti sampho, kosmetik, whitening, pendingin ruangan, dan lain-lain, yang rata-rata berasal dari merk dagang negara-negara maju. 2) Makan sayur, buah, empon-empon, dan minum air putih (belakangan muncul anjuran minum air kelapa muda yang konon bagus untuk imun tubuh). Sebagai negara agraris adalah hal aneh dan naif ketika ada gerakan budaya makan dan minum bahan-bahan tersebut. Negeri yang begitu subur dan tanahnya begitu luas dengan dukungan iklim yang sangat ideal mestinya makan dan minum tersebut adalah hal lumrah dan menjadi budaya. Namun naifnya adalah selama ini budaya makan dan minum bahan tersebut tergerus oleh gaya hidup makan yang disublimasi oleh kapitalisme global dengan berbagai bendera korporasi raksasa seperti McD, KFC, Coca-Cola, dan berbagai jenis makanan ala ras kuning seperti dari Korea, China, dan Jepang. Bahkan di masa pandemic baru-baru ini muncul fenomena aneh anak-anak millennial keranjingan memburu makakan BTS meal hingga rela antri berjam-jam di gerai McD. Cobalah lihat generasi sekarang yang lidahnya tidak lagi doyan makan sayur, buah lokal, empon-empon, dan minum air putih. 3) Berolah raga. Sebagai negeri yang tanahnya luas dan lapang serta sistem interaksi antar warga yang begitu hangat dan komunal selayaknya gerak fisik menjadi budaya dalam aktivitas masyarakat. Anak-anak bermain berlarian di kampung-kampung, anak gembala di padang rumput, mobilitas warga menjalankan roda kehidupannya, dan para remaja yang mengolah fisiknya di lapangan kampung, dll mestinya menjadi pemandangan lumrah sehari-hari. Namun karena banjir bandang alat-alat komunikasi dan transportasi dalam kehidupan kita sekarang ini menjadikan sistem interaksi sosial masyarakat kian termediasi. Lihatlah bagaimana anak-anak itu asyik bermain game online seharian, kawula muda malas menggerakkan badannya dan lebih asyik beronline ria dengan HP yang melekat erat di genggaman tangan mereka, genk motor terbentuk di berbagai kota, dan lapangan di desa-desa itu kosong melompong sementara tempat nongkrong seperti kafe, karaoke, dan sejenisnya ramai dihadiri kawula muda yang membisu seribu bahasa. Dari ketiga fenomena naif dan ironis tersebut kehadiran virus Corona seakan menampar kita semua bahwa anugerah nikmat yang tak terhitung itu kita sia-siakan selama ini. Dan hari-hari ini kita diajari untuk belajar kembali tentang bagaimana mensyukuri matahari, menikmati hasil tani sendiri, dan merumput kembali di lapangan yang telah lama kita lupakan. Salam sehat. #bilikrenungeps59 Penulis oleh: saifudin zuhri Pada tangga : 11/11/11
Share:

0 comments:

Posting Komentar