PERCAYALAH! TIDAK MUDAH MENJADI INDONESIA
Pemberlakuan PPKM belum usai, namun beragam respon dan reaksi menyeruak di tengah masyarakat. Ada kelompok yang mendukung dan proaktif atas kebijakan tersebut, namun juga tidak jarang sebagian masyarakat ada yang mengkritik keras bahkan sampai pada tindakan memboikot dengan berbagai ekspresi. Bagi masyarakat yang mendukung maka kebijakan tersebut dipahami sebagai langkah terbaik dengan resiko minimal demi menyelamatkan korban jiwa yang semakin berjatuhan, tentu saja itupun setelah mempertimbangkan masukan dari berbagai pihak. Namun bagi pihak yang resisten, kebijakan tersebut dipandang sebagai keputusan yang tidak adil, menyengsarakan “rakyat kecil”, dan bahkan bagian dari skenario besar dibalik politik pandemic ini. Tulisan ini membatasi pengamatan terhadap pihak yang kritis dan resisten kebijakan PPKM tersebut.
Untuk menambah nilai dramatic atas dampak buruk PPKM kelompok yang tidak setuju atas kebijakan tersebut membuat perbandingan dengan negara lain dalam hal pemberian kompensasi yang diterima oleh warga sebagai konsekwensi logis pemberlakuan lockdawn, seperti di negara-negara maju semacam Amerika, Jerman, Perancis, Jepang, dan tetangga dekat kita Singapura. Di negara-negara tersebut kebijakan pemerintah diikuti oleh pemberian kompensasi yang memadahi, seperti pencairan berbargai jenis asuransi, jaminan keamanan dan ketertiban sosial, jaminan kecukupan bahan pangan setiap individu, pembebasan pajak, vaksinasi, pemberian obat-obatan, rescheduling bagi kreditur, dan lain sebagainya.
Sementara di negeri ini melalui berbagai media, baik media konvensional maupun media social, tiap hari bahkan tiap detik diblow-up dan dibombardir informasi (termasuk hoax) tentang gambaran kesengsaraan dan penderitaan rakyat kecil menerima resiko kebijakan PPKM. Di berbagai media bahkan disiarkan berulang-ulang bagaimana para petugas (Gugus Covid 19, Satpol PP, TNI/Polri) menutup paksa para PKL, memblokade jalan akses para pekerja mencari rejeki, menangkapi para pelanggar prokes, barisan korban PHK, dsb. Tidak jarang para petugas dalam menegakkan peraturan harus berjibaku, berdebat, dan berkelahi dengan masyarakat di lapangan.
Melihat rumitnya jenis penyakit Covid 19, kompleksitas masyarakat, dan kekhasan konsep nation-state Indonesia memang bukan hal mudah menghadapi persoalan pandemic Covid 19 dengan berbagai dampaknya. Ada berbagai dilemma yang dihadapi untuk memutuskan sebuah kebijakan. Demokrasi yang belum sepenuhnya matang, literasi masyarakat yang terbatas, profesionalisme birokrasi yang masih problematik, dan kebebasan di era media baru yang berbasis online adalah beberapa factor penambah kerumitan tersebut.
Lain dari itu pandemic global sekarang ini adalah fenomena baru di dunia yang belum pernah terjadi sebelumnya, sehingga belum ada roadmap dan masterplane yang bersifat baku dan pasti bagi semua negara di dunia. Memang ada beberapa negara yang hari ini berhasil melewati Covid 19, seperti sudah diperbolehkan tidak pakai masker, tidak perlu jaga jarak, dan bahkan Piala Euro 2020 yang sedang belangsung bulan ini diselenggarakan dengan meriah dengan dihadiri penonton langsung di stadion, namun semua itu juga menghadapi ketidakpastian dan masih menyisakan kekhawatiran akan datangnya gelombang paparan virus ini melanda lagi pasca perhelatan tersebut.
Bagi bangsa ini pandemic global ini menjadi cerminan bagaimana rumitnya menjadi Indonesia, atau dengan perkataan lain kita sedang berada di persimpangan jalan yang membingungkan bagaimana menyikapi ini semua. Bagi pemegang kekuasaan (eksekutif, legislatif, yudikatif, dan lembaga-lembaga kenegaraan yang lain) ini adalah tantangan dan ancaman baru di tengah kemalasan dan kerdilnya jiwa kalian memegang amanah ibu pertiwi yang begitu luas dan besar. Bagi warga negara atau masyarakat kejadian ini adalah momentum kalian merenungkan diri dengan tulus ikhlas apakah kalian sudah menyeimbangkan antara memenuhi kewajiban dan menuntut hak.
Percayalah menjadi Indonesia itu tak mudah, negara ini dibentuk dalam proses terus-menerus yang lebih disandarkan pada imajinasi dan cinta. Kesadaran kolektif bangsa Indonesia masih begitu muda di tengah identitas suku bangsa dan agama yang sudah berumur lebih tua, bahkan Indonesia adalah bagian dari desaku. Kekuatan cinta itulah yang menjadikan kita masih bertahan dalam satu rumah yang bernama Indonesia. Entah esok hari. Salam sehat.
#bilikrenungeps58
Penulis oleh: saifudin zuhri
Pada tangga : 11/11/11
0 comments:
Posting Komentar