PIKNIK LAGI, PIKNIK LAGI
PIKNIK LAGI, PIKNIK LAGI_
Oleh Saifudin Zuhri.
Rasanya belum lama libur lebaran berlalu, di akhir pekan ini masyarakat kembali hiruk pikuk memadati tempat-tempat pariwisata. Lihatlah bagaimana jalan-jalan menuju obyek-obyek piknik itu macet dan mengular panjang menandakan melonjaknya pengunjung di long weekend ini. Menarik untuk mencermati mengapa kebutuhan piknik menjadi konsumsi baru dalam budaya masyarakat sekarang ini? Apakah kebutuhan berwisata tersebut menjadi indikator naiknya kesejahteraan masyarakat atau hanya hasrat konsumtif semata?
Jika ditelusur awal mula lahirnya kebutuhan konsumsi piknik sebenarnya dilatari oleh adanya waktu jeda dalam konteks masyarakat industri. Kala itu seiring laju industrialisasi di Eropa dan Amerika yang didukung oleh temuan-temuan mesin produksi yang semakin canggih mendorong adanya urbanisasi ke pusat-pusat industri yang ada di perkotaan. Disinilah para pekerja (terutama kaum kapitalis) bisa mengakumulasi keuntungan sehingga surplus. Peningkatan pendapatan dan tersedianya waktu luang karena semakin efektifnya cara-cara kerja menjadi momentum untuk digunakan berpiknik. Dengan demikian aktivitas piknik kala itu merupakan akibat peningkatan kesejahteraan.
Dalam perspektif Sosiologi Ekonomi fenomena piknik masuk dalam bahasan tentang masyarakat konsumen dan gaya hidup. Masyarakat Konsumen adalah sebuah masyarakat yang cenderung diorganisasikan di seputar konsumsi ketimbang produksi barang dan jasa. Implikasi dari masyarakat konsumen ini cenderung menjadikan sebuah konsumsi sebagai parameter untuk mengukur derajat sosial seseorang.
Secara sosiologis masyarakat konsumen terlahir di era post modernisme dimana nilai tukar telah bergeser menjadi nilai tanda. Bukan lagi berdasarkan pada kegunaan suatu barang atau harga barang tapi berdasar nilai prestise dan makna simbolis. Komoditas menjadi suatu bangunan dalam hubungan sosial masyarakat. Kehidupannya merupakan kumpulan kode, tanda dan objek yang berada di sekelilingnya. Komoditas menjadi kepentingan yang memediasi hubungan antar manusia. Pentingnya kode atau tanda dalam interaksi social inilah yang menjadikan orang lebih memburu kode-kode tersebut karena akan menentukan eksistensinya daripada nilai guna.
Meminjam konsep yang dikemukakan oleh Baudrillard bahwa konsumsi membutuhkan manipulasi simbol-simbol secara aktif. Dalam kondisi semacam ini maka yang dikonsumsi bukan lagi use atau exchange value, melainkan “symbolic value”, maksudnya orang tidak lagi mengkonsumsi objek berdasarkan karena kegunaan atau nilai tukarnya, melainkan karena nilai simbolis yang sifatnya abstrak dan terkonstruksi.
Piknik sudah menjadi budaya pop yang dikonsumsi oleh masyarakat sekarang ini. Massifitas penggunaan media online dengan perangkat smart phone yang melekat di tangan setiap individu menjadi pintu masuk banjir bandang iklan yang pada akhirnya mengkonstruksi selera konsumsi. Viralnya sebuah obyek wisata baru atau kuliner baru karena unggahan di media sosial akan menjadi kode-kode baru yang diburu khalayak karena menentukan jarak kapasitas seseorang dengan kode-kode yang dikonstruksi.
Persolannya adalah ketika hasrat untuk piknik tidak didukung oleh kemampuan ekonomi seseorang. Maraknya piknik di hari-hari libur lebih sebagai fenomena pop culture yang dikontruksi oleh kepentingan kapitalis. Memang di satu sisi piknik bisa memutar roda ekonomi dan itu dibutuhkan di tengah situasi keterpurukan ekonomi akibat dampak pandemic Covid 19. Industri pariwisata memang memiliki mata rantai ekonomi yang bersifat synergistic consumption sehingga memberdayakan unit-unit bisnis lain, seperti perhotelan, jasa transportasi, jasa event organizer, kuliner, dan lain-lain.
Akan tetapi di sisi lain keranjingan masyarakat untuk berpiknik ria tanpa mempertimbangkan daya mampu ekonominya akan berakibat pada kesenjangan antara keinginan dan kemampuan. Dalam istilah Marx, ketika mode of consumption tidak berbanding lurus dengan mode of production akan berujung pada alienasi para pekerja yang secara structural subordinatif dari penguasa-penguasa ekonomi besar.
Jadi gimana, mau piknik kemana kita? Jawabannya adalah “boleh silahkan berpiknik, tapi juga dilihat isi dompet kita masing-masing”, hehehe……..
#bilik.renung.episode_150522#
0 comments:
Posting Komentar