Jumat, 20 Mei 2022

PANDEMI YANG TERKENDALI DAN PEMBELAJARAN YANG TERABAIKAN.

PANDEMI YANG TERKENDALI DAN PEMBELAJARAN YANG TERABAIKAN. Oleh Saifudin Zuhri. Pesta pora perayaan hari raya yang menghadirkan jutaan pemudik, konon tidak kurang 85 juta orang, telah usai. Di tengah pandemi Covid-19 yang belum usai ada perasaan was-was menerka resiko mudik jutaan orang ke kampung-kampung halaman, apalagi ada pelonggaran protokol kesehatan. Namun setelah perayaan itu usai kekhawatiran meledaknya kembali covid-19 tidak terjadi. Hingga hari ini data Covid 19 relatif terkendali, dari laporan gugus Covid 19 datanya cenderung semakin menurun. Data Covid 19 di Indonesia yang terkendali itu berbanding terbalik dengan data penyebaran covid 19 di beberapa negara lain yang justru meningkat dan mengkhawatirkan, seperti di Korea Utara, Korea Selatan, Taiwan, Jepang, China, dan beberapa negara di Eropa. Melihat perbandingan data tersebut menarik untuk diajukan pertanyaan; apa penyebabnya? Apa persepsi warga Indonesia sendiri terhadap terkendalinya covid-19? Sejauhmana kemampuan belajar masyarakat dalam memetik hikmah Covid 19? Sejauhmana pengetahuan dan kapasitas masyarakat dalam merawat kesehatannya sendiri? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang hendak dibahas dalam tulisan pendek ini. Belum lama ini pemerintah mengumumkan pelonggaran penggunaan masker di ruang-ruang publik dan pelonggaran protokol kesehatan dalam perjalanan. Kebijakan pelonggaran itu diambil pemerintah didasarkan pada data penurunan paparan virus Covid-19. Data tersebut bisa disimpulkan sementara bahwa penanganan pandemi Covid 19 di Indonesia relatif terkendali dan berhasil, bahkan bisa dikatakan terbaik jika dibandingkan dengan negara-negara tersebut di atas. Jika dirunut ke belakang, keberhasilan pengendalian pandemi ini bukan terjadi dengan sendirinya. Ada sejumlah proses dan bentuk-bentuk kebijakan yang bisa menjelaskan keberhasilan tersebut. Kecepatan pemerintah memesan vaksin dan manajemen distribusinya, ketepatan mengambil langkah PSBB dan PPKM daripada lock dawn, aplikasi Peduli Lindungi, dan penegakan protocol kesehatan di ruang-ruang publik adalah daftar kebijakan pemerintah yang layak diapresiasi dan senyatanya berhasil. Proses dan kebijakan tersebut menjadi premis empiric yang bisa diuji secara ilmiah atas simpulan bahwa penanganan pandemic di Indonesia berhasil. Namun demikian, premis tersebut tidak serta merta dipahami khalayak banyak. Terdapat berbagai persepsi yang muncul di masyarakat dalam menilai kenyataan menurunnya pandemic Covid 19, sejak dari yang bernada ignoren, mispersepsi, hingga narasi negatif. Ignorensi itu terlihat dari sikap acuh dan abai masyarakat atas proses yang telah dilalui sehingga keberhasilan sekarang ini tidak mampu dipahami kausalitasnya dengan proses-proses itu dan terjadi begitu saja. Kelompok yang mispersepsi membangun pandangan bahwa pandemic Covid 19 terkendali karena faktor-faktor di luar kontrol manusia, seperti keyakinan bahwa apapun adalah takdir, nasib, blessing in disguise, atau diyakini faktor kekuatan gaib atau mistik yang sulit dijelaskan secara rasional. Bagi kelompok oposan penurunan data covid 19 di negeri ini ditanggapi secara minor dan bernada penyangkalan dengan mengkontruksi narasi negatif, seperti tuduhan bahwa pandemic Covid 19 hanyalah akal-akalan bisnis vaksin di lingkaran kekuasaan. Paling banyak mendapat tuduhan adalah sang Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Indonesia yang sekaligus coordinator PPKM Darurat Jawa –Bali, Bapak Luhut Binsar Pandjaitan. Keragaman persepsi dan sikap masyarakat terhadap fakta penurunan pandemi ini menggambarkan ada keragaman pola pikir dan tingkat ilmu pengetahuan yang beragam dalam kelompok-kelompok sosial di masyarakat. Dalam pada itu, jenis persepsi itu akan terkorelasi dengan hikmah apa yang mampu dipetik oleh masing-masing kelompok. Terlepas dari keragaman tersebut di atas, semestinya pandemi global yang melanda dunia ini bisa dipetik hikmahnya secara produktif dan konstruktif. Pandemi ini memberi pelajaran banyak hal dalam kehidupan manusia, baik sebagai individu maupun sosial. Ketidakmampuan mengkorelasikan antara hasil dan proses dan mengabaikan usaha-usaha empirik yang terukur membawa bangsa ini menyia-menyiakan kesempatan untuk belajar. Pembelajaran yang kemarin sempat digiatkan walau terpaksa akan dilupakan kembali. Para pejabat publik malas untuk melatih diri bagaimana menjadi pelayan rakyat yang trengginas dan ikhlas, para peneliti dan akademisi berhenti melanjutkan menemukan vaksin yang diproduksi negeri sendiri, agama kembali kehilangan sentuhan rasionalitasnya, dan para orang tua mulai pasrah bongko'an pendidikan putra putrinya kepada sekolah dan les private. Kemana gerangan orang-orang yang dulu sadar membudayakan hidup bersih, kemana gerangan orang-orang yang dulu tiba-tiba gemar berolah raga dan berjemur di pagi hari, dan kemana gerakan makan sayur, buah, minum empon-empon, dan lain-lain sebagainya. Semua pelajaran baik sebagai hikmah pandemi itu sekarang dilupakan dan diabaikan. dan ketika suatu hari musibah sejenis ini datang lagi (semoga tidak) lagi-lagi bangsa ini menjadi pasar untuk menjajakan apa saja kemudian antar anak bangsa ini saling berseteru, menghujat, atau lari dari kenyataan dan kembali hanya mengandalkan ratapan do'a-do'a. #bilik. renung.episode_200522#
Share:

0 comments:

Posting Komentar