FIRMAN TUHAN YANG TAK PERNAH BERHENTI
FIRMAN TUHAN YANG TAK PERNAH BERHENTI
(tulisan ini dibuat untuk memperingati Nuzulul Qur’an)
(Edisi Ramadhan)
Oleh Saifudin Zuhri
Firman Tuhan termediasi dalam dua bentuk, yakni ayat-ayat qouliyah dan ayat-ayat kauniyah. Yang pertama adalah firman Tuhan yang termaktub dalam kitab suci dan yang kedua berupa hukum-hukum Allah yang menempel pada realita semesta alam dengan segala kehidupan di dalamnya. Instrumen untuk memahami makna dari ayat-ayat qouliyah adalah keyakinan dalam hati bahwa ayat-ayat itu adalah kebenaran dan petunjuk dari Tuhan sesembahannya, selain itu cara untuk mengetahui pengetahuan dari setiap kalimat, kata, bahkan huruf dalam kitab suci itu adalah dengan ilmu tafsir.
Sedangkan pada ayat-ayat kauniyah menuntut proses manusiawi dengan menggunakan potensi akal yang telah dianugerahkan Sang Maha Pencipta kepada makhluk (sekaligus kholifah) yang bernama manusia. Manusia yang hidup di planet bumi ini digelarkan realita alam semesta yang dapat dilihat oleh mata dan dirasakan dalam kehidupan nyata, baik yang berdimensi mikro-kosmos (jagat cilik, yakni tubuh manusia itu sendiri) atau berdimensi makro-kosmos (jagat gede, yakni alam raya). Mikro-kosmos dan makro-kosmos yang berjalan begitu tertib merupakan manifestasi dari kehadiran Tuhan di dunia. Untuk menangkap kehadiran Tuhan dalam konteks aya-ayat kauniyah ini adalah dengan mengoptimalkan penggunaan akal manusia, yang akhirnya melahirkan ilmu pengetahuan.
Kedua bentuk firman Tuhan ini mestinya bersubstansi sama karena berasal dari sumber yang sama, yakni Tuhan itu sendiri. Namun pada kenyataannya ada kesan bahwa hubungan antar keduanya bersifat hierarkhis bahkan konfliktual. Kesan hierarkhis ini tercermin dengan menempatkan ayat-ayat qouliyah lebih tinggi daripada ayat-ayat kauniyah sehingga firman-firman Tuhan dalam kitab suci harus lebih diutamakan daripada temuan-temuan akan fikiran manusia sebagai hasil penelitian terhadap hukum-hukum alam.
Ada juga yang memperhadapkan antara qouliyah dengan kauniyah secara vis a vis, artinya kebenaran yang diyakini dari kitab suci (walaupun sebenarnya adalah tafsir) merupakan kebenaran mutlak, sementara kebenaran yang diproses dari akal manusia dianggap tidak benar dan ditolak. Ilmu pengetahuan yang diproduk akal manusia dituduh sebagai kebenaran sementara, duniawi, dan tidak hakiki.
Ada kecenderungan ummat Islam lebih konsen pada ayat-ayat qouliyah. Sementara ayat-ayat kauniyah disepelekan dan diabaikan. Kecenderungan ini terlihat dari indikator betapa bersemangatnya umat Islam dalam membaca (tadarus/tilawah) ayat-ayat suci Al Qur’an bahkan banyak tahfidz qur’an didirikan, namun di sisi lain sangat malas bekerja keras memeras otak membangun ilmu pengetahuan yang bersumber dari penelitian terhadap hukum-hukum alam semesta dan kejadian-kejadian di dalamnya dimana Kehadiran Tuhan terjelma dalam ciptaan-Nya.
Ketidakseimbangan telaah terhadap ayat-ayat qouliyah dan kauniyah inilah barangkali yang menyebabkan keterbelakangan ummat ini dalam peradaban modern.
#bilik.renung.episode_200422#
0 comments:
Posting Komentar