Senin, 09 Mei 2022

KARTINI YANG MENEMBUS BATAS KEGELAPAN

KARTINI YANG MENEMBUS BATAS KEGELAPAN (Edisi Ramadhan) Oleh Saifudin Zuhri “Habis gelap terbitlah terang”, hasil goresan tinta emas Kartini itu menggambarkan kemampuan menembus batas struktur patriarkhi yang begitu kuat kala itu. Patriarki adalah sebuah sistem sosial yang memposisikan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan mendominasi dalam peran kepemimpinan politik, otoritas moral, hak sosial dan penguasaan properti. Dalam struktur keluarga, figur bapak memiliki otoritas terhadap perempuan, anak-anak, dan harta benda. Walaupun konteks yang dihadapi Kartini adalah struktur patriarkhis namun apa yang dilakukannya bisa menginspirasi gerakan di berbagai sistem sosial lainnya, seperti politik, pendidikan, budaya, bahkan agama. Hakikat gerakan Kartini adalah bagaimana menembus batas struktur yang menindas nilai-nilai kemanusiaan dan membelenggu kebebasan manusia itu sendiri. Pembatasan sejarah Kartini hanya pada persoalan gender akan mereduksi esensi dari pemikiran besar yang digagas oleh Kartini. Manusia memang makhluk ambigu, di satu sisi kebutuhan untuk bertahan dan berkembang mendorong manusia untuk membuat struktur sosial, namun pada gilirannya struktur itu pula yang membelenggu manusia untuk berkembang. Ketika struktur sosial tersosialisasi dalam jangka panjang dan akhirnya mapan maka akan menjadi sangkar besi yang menghegemoni struktur kesadaran individu yang menjadi anggota masyarakat tersebut. Ada beragam struktur yang diciptakan manusia untuk himpunan sosialnya seperti sistem politik, ekonomi, sosial budaya, hingga struktur kesadaran individu seperti cara pandang, keyakinan (agama), ideologi, dan lain-lain. Kesemua struktur itu akan dipertahankan terutama oleh kelompok dominan untuk menjamin kemapanannya. Jika tidak ada upaya pengkritisan (biasanya lama-lama menjelma jadi gerakan pemberontakan) maka struktur itu akan menjadi sangkar besi yang membelenggu kebebasan manusia sendiri. Manusia selain berdimensi sebagai makhluk sosial sehingga terikat oleh sistem struktur yang ada adalah juga berdimensi makhluk individu sehingga berpotensi memiliki otonomi untuk mengembangkan diri. Dari individu yang otonom inilah yang akhirnya menjadi inisiator (agency) perubahan masyarakatnya. Struktur patriakhi yang kala itu memaksa Kartini menaati apa yang menjadi perintah bapaknya akhirnya didobrak walau dengan goresan-goresan tinta di secarik kertas yang dilayangkan sahabatnya di negeri kincir angin sana. Walau pada akhirnya Kartini tetap saja menjalani hidup nyatanya dalam struktur patriarkhi namun secara pemikiran Kartini mampu menembus batas kegelapan strukturnya sendiri. Pada konteks kekinian ruh Kartini ini mestinya menginspirasi kita semua untuk punya keberanian mengkritisi kembali struktur di sekitar hidup kita bahkan dalam struktur kesadaran kita; adakah pemikiran, sistem sosial, pranata, dan apapun yang kita yakini dan taati selama ini membuat kita tampil sebagai manusia atau justru membelenggu kita dalam bungkus-bungkus yang kita buat sendiri? Untuk konteks puasa Ramadhan, ada pertanyaan kritis yang dianalogikan dari semangat Kartini di atas, yaitu mampukah kita menembus struktur norma puasa itu sendiri, seperti menahan makan, minum, seks, dan sejumlah asesories bulan Ramadhan seperti ibadah taraweh, tadarus Al-qur’an, buka puasa bersama, mudik lebaran, dll. Jika para shoimin merasa sudah selesai dengan itu semua maka sejatinya masih terperangkap dalam struktur yang membelenggunya. Makna sejati puasa adalah ketika mampu menembus batas dirinya sendiri dan norma-norma puasa itu sendiri untuk kemudian selebihnya diserahkan pada Tuhan. Itulah keikhlasan. “Selamat HARI KARTINI, habis gelap terbitlah terang” #bilik.renung.episode_210422#
Share:

0 comments:

Posting Komentar