Senin, 09 Mei 2022

INSECURE DUNIA PENDIDIKAN INDONESIA

INSECURE DUNIA PENDIDIKAN INDONESIA (Edisi Ramadhan) Oleh Saifudin Zuhri Kehebohan dunia pendidikan kembali mengemuka ketika salah seorang guru besar dari universitas ternama di Derah Istimewa Yogyakarta UGM membuat kegaduhan di media sosial terkait komentarnya terhadap kasus pengeroyokan Ade Armando beberapa waktu yang lalu. Walau sang profesor itu berdalih komentarnya sebagai guyonan (bercanda) namun kuat dugaan yang bersangkutan terindikasi terpapar virus paham radikalisme. Fenomena semacam ini sebenarnya bukan hanya di UGM, jauh sebelumnya di beberapa kampus favorit di Indonesia, seperti IPB, ITB, dan UI juga terindikasi terpapar virus radikalisme bahkan masuk dalam struktur kampus tersebut. Di IPB penangkapan dosen Institut Pertanian Bogor berinisial AB yang diduga menyimpan puluhan bom molotov, yang siap diledakkan saat unjukrasa Aksi Mujahid 212 di Jakarta pada tahun 2019, keresahan alumni ITB hingga berkirim surat ke rektorat karena maraknya gerakan radikalisme di kampus ITB, dan struktur kampus UI yang menjadi ajang rebutan pengaruh antara kelompok nasionalis dengan paham radikal juga acap kali terjadi. Yang telah disebutkan itu adalah contoh dari daftar panjang radikalisme yang sudah masuk ke dunia Pendidikan tinggi di Indonesia. Hasil survei Setara Institut tahun 2019 menemukan bukti bahwa setidaknya ada 10 perguruan tinggi di Indonesia yang terindikasi tertpapar paham radikalisme. Membaca data dan kasus di atas memunculkan sejumlah pertanyaan sebagai berikut: mengapa dunia pendidikan tinggi yang asumsinya menjadi lembaga pencerahan dan pencerdasan justru menjadi tempat subur berkembangnya virus radikalisme? Masyarakat kampus yang dibangun atas tradisi ilmiah sehingga semestinya mengedepankan cara berpikir rasional, logik, dan membebaskan dari belenggu dogmatic tapi justru dengan mudah menerima paham radikal yang notabene irasional, emosional, dan anti peradaban? Apakah ini peristiwa ideologis dan politis semata atau ada persoalan yang jauh lebih mendasar dalam membangun paradigma keilmuan? Peradaban modern dilahirkan dari proses tesis antithesis antara cara berpikir irasional yang kala itu diintrodusir dari mistisisme, feodalisme dan juga dogma agama abad pertengahan didekonstruksi dengan tesa baru berupa cara berpikir rasional. Semakin menguatnya cara berpikir rasional ini kemudian melahirkan Abad Pencerahan (Renaissance) dimana akal sehat mendapat posisi terhormat dari dimensi manusia sehingga melahirkan ilmu pengetahuan modern hingga hari ini. Lembaga pendidikan adalah kristalisasi cara berpikir ilmiah ini. Perguruan tinggi menjadi habitus dalam pengembangan ilmu pengetahuan untuk membangun peradaban umat manusia. Bahwa kemudian tiba-tiba di perguruan tinggi menjadi habitus untuk persemaian paham radikalisme, sungguh menjadi fenomena kontradiktif dengan hakikat dasar dari masyarakat ilmiah ini. Itu semua tidak terjadi dengan sendirinya. Ada proses panjang yang dimulai sejak dari jenjang pendidikan di level PAUD, TK, SD, SMP, dan SMA. Lihatlah bagaimana sejak dini akal sehat ini ditundukkan oleh dogma keyakinan dalam melihat realita kehidupan dan alam semesta ini. Sangat popular di salah satu syair lagu TK bahwa pelangi itu lebih banyak dijelaskan sebagai ciptaan tuhan daripada dikenalkan proses hukum-hukum alamnya. Demikian halnya pada jenjang Pendidikan berikutnya, pembelajaran tentang logika, matematika, fisika, biologi dan sejumlah jenis pengetahuan ilmiah lainnya akan terkalahkan oleh adagium yang bernada spekulatif dan mistik, seperti keyakinan tentang takdir, nasib, keberuntungan, bejo, dan lain-lain. Itulah mengapa ilmu pengetahuan yang diajarkan di perguruan tinggi tak secara otomatis terkorelasi dengan realitas masyarakat. Ilmu alam dan turunannya akan kalah dengan mitos, ilmu ekonomi akan kalah dengan "rejeki ada yang mengatur", ilmu rekayasa cuaca kalah pamor dengan mbak Rara sang pawang hujan, ilmu politik akan kalah populer dengan demo jalanan nan barbar. #bilik.renung.episode_190422#
Share:

0 comments:

Posting Komentar