BALADA NEGERI DUM-DUMAN
BALADA NEGERI DUM-DUMAN
Edisi Ramadhan
Oleh Saifudin Zuhri
Genealogi bangsa Indonesia memang unik, bahkan ketika merdeka menjadi nation-state modern sekalipun jenis kebangsaan kita adalah “bangsa bentukan”. Bangsa bentukan adalah bangsa yang kelahirannya melalui proses, dinamis, dan keberadaannya tergantung dengan eksistensi negara itu sendiri. Sebagai bangsa bentukan maka imajinasi menjadi sumber inspirasi dalam mengkontruksi kesadaran apa yang disebut bangsa, itulah yang oleh Benedict Anderson diistilahkan dengan “Imagined Communities”. Berbeda dengan jenis “bangsa alami” yang menjadi bangsa lebih karena factor genetik yang tidak membutuhkan proses penyadaran sebagai sebuah bangsa. Contoh dari bangsa alami adalah bangsa Arab, Yahudi, China, dan India.
Negara bangsa bentukan idealnya diselenggarakan secara impersonal sehingga ideologi negara, konstitusi, hukum, birokrasi, dan sistem ketatanegaraan lebih dominan daripada kehadiran personal. Namun pada praktiknya di negeri ini tampilnya sosok personal lebih menonjol daripada sistem itu sendiri. Personalisasi kehadiran negara ini pada akhirnya memposisikan sistem ketatanegaraan termasuk pelayanan publiknya tersubordinasi oleh performance individu pemegang kekuasaan.
Kehadiran negara dalam sosok personal dalam berbagai tingkatannya semakin mengentalkan pola hubungan patron-klien antara publik dengan penyelenggara kekuasaan. Hubungan patron-klien merupakan hubungan pertukaran antara dua orang yang melibatkan persahabatan instrumental dimana seorang individu dengan status sosio-ekonomi yang lebih tinggi (patron) menggunakan pengaruh dan sumberdaya yang dimilikinya untuk menyediakan perlindungan atau keuntungan bagi seseorang (masyarakat) yang lebih subordinatif. Pola hubungan ini walaupun bersifat vertikal atas-bawah namun kedua belah pihak bersimbiose mutualisme.
Dalam konteks politik pemegang kekuasaan sebagai patron miliki sumber daya kekuasaan untuk dialokasikan untuk menjamin stabilitas kekuasaannya, sementara bagi klien yakni publik yang dilayani membutuhkan perlindungan dan bantuan dari patron. Legitimasi dan citra pemerintah sebagai patron sangat ditentukan oleh intensitas dalam memberi atau membantu kepada warga negara, walau dalam bentuk simbolik sekalipun. Pola hubungan patron-klien inilah yang mendominasi dalam penyelenggaraan kekuasaan di negeri ini. Fenomena pola relasi patron-klien ini merupakan distorsi dan anomali di negara republik yang sudah sepakat menjadikan demokrasi sebagai sistem pengelolaan kekuasaan dan konstitusi sebagai kontruksi ketatanegaraan.
Menjelang libur lebaran 2022 pemerintah akan memberi paket bantuan sosial (bansos) kepada masyarakat dalam dua bentuk, yakni Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dan Bantuan Langsung Tunai (BLT) Minyak Goreng. Implementasi pola hubungan patron-klien bukan hanya dalam formula kebijakan namun dalam tindakan personal presiden Jokowi ketika berkunjung atau audiensi dengan masyarakat dengan memberi hadiah sepeda dalam sebuah acara atau melempar bingkisan dari dalam mobil kepresidenan kepada warga yang berjejer di tepi jalan menyambutnya penuh histeria dalam sebuah kunjungan.
Dalam tradisi masyarakat patron-klien semacam ini pemberian (dalam bahasa jawa disebut dengan dum-duman) adalah indikator utama yang bisa dijadikan alat ukur masyarakat menilai citra baik-buruknya pemerintah di mata masyarakat secara langsung dan sederhana. Bagi pemegang kekuasaaan tradisi dum-duman atau bagi-bagi ini dipelihara karena menjadi simbol efektif membangun citra dan bahkan legitimasi, sementara bagi masyarakat dum-duman ini menjadi simbul kehadiran negara sekaligus rejeki nomplok yang dengan gembira ria diterima.
#bilik.renung.episode_180422#
0 comments:
Posting Komentar