ABSURDITAS DAN DRAMATURGI MIMBAR
ABSURDITAS DAN DRAMATURGI MIMBAR
Edisi Ramadhsn
Oleh Saifudin Zuhri
Ada sebuah masjid di Yogyakarta yang begitu popular dan ikonik, bahkan sekarang menjadi tujuan wisata religi dari berbagai daerah. Rasa penasaran saya mendorong untuk mengadendakan berkunjung langsung ke masjid dimaksud. Apalagi di bulan Ramadhan ini ada event khusus dengan nama KRJ (Kampung Ramadhan Jogokariyan).
Sesampai di lokasi di ujung gang sudah dijejali pengunjung, di sepanjang jalan menuju masjid itu berjejer para pedagang menjajakan beraneka ragam makanan dan minuman menjelang buka puasa, walaupun disediakan makan buka puasa gratis, para penjual tetap sibuk meladeni ramainya pengunjung membeli dagangannya. Suasana begitu semarak dan meriah yang menggambarkan antusiasme masyarakat.
Setelah berbuka dan sholat maghrib kusengaja menunggu kumandang sholat isya dan tarweh. Tepat sesuai jadwal sholat Isya’ kumandang suara muadzin terdengar nyaring di toa masjid. Tidak ada yang berubah dari pengaturan volume suara toa masjid itu sebagaimana yang diatur melalui keputusan Kemenag tentang aturan pengeras suara di masjid.
Sebagaimana masjid-masjid lain di seluruh penjuru Jogja bakda Isya diadakan ceramah atau kultum (kuliah tujuh menit) kepada para jama’ah. Dalam ceramahnya sang khotib menyitir beberapa dalil dengan tafsir yang berusaha untuk dikontekstualisasi dengan kasus-kasus kekinian. Penceramah juga menyinggung isu-isu aktual semacam demo di Jakarta beberapa hari yang lalu dengan insiden pengeroyokan Ade Armando, menyinggung tentang tuntutan Jokowi mundur, harga minyak goreng, dan bahkan menyingggung isu global walau jauh di seberang sana yakni perang Rusia Ukraina.
Dengan gaya melucu sang penceramah jelas tidak bisa menutupi kemana kecenderungan ideologis dan afiliasi politiknya. Syahwat politik itu seakan tak tertahankan dalam sindiran-sindiran ceramahnya, sejak dari uangkapan sakarsis yang mensyukuri dan bergembira atas tragedi pengeroyokan Ade Armando, nyinyir terhadap kebijakan pemerintah yang menaikkan harga pertamax, tata niaga minyak goreng yang amburadul, hingga dukungan atas serangan Rusia terhadap Ukraina yang menurut persepsi penceramah karena banyak orang Yahudi di Ukraina.
Ada beragam respon jama’ah terhadap isi ceramah itu, sebagian ada yang manggut-manggut menunjukkan persetujuan dan dukungan atas pernyataan-pernyataan sang khotib, ada yang mengantuk, ada ada pula yang yang terkesima dan sesekali ikut tertawa karena mendengar retorika penceramah yang begitu lancar, lantang, dan terkadang mengundang gelak tawa. Namun tertawanya para jamaah bisa jadi bermakna ganda, ada yang tertawa karena memang satu frekuensi dengan sang penceramah, tapi juga tidak sedikit yang tertawa karena terstimulasi sampingnya tertawa, atau tertawa karena spontan bagai nonton sebuah drama di sebuah panggung.
Sejenak saya bertanya pada salah seorang yang duduk di sebelah saya darimana berasal, dalam rangka apa, dan dengan siapa datang jauh-jauh ke masjid ini. Dengan polos orang tersebut menjawab kalau bukan dari Jogja, datang dalam rangka rasa penasaran melihat berita viral tentang semaraknya KRJ di media sosial, sekaligus pingin jalan-jalan menikmati suasana ramadhan di kota Jogja.
Barangkali sang penceramah, pengurus masjid, dan jamaah yang satu frekuensi merasa bahwa tujuan dakwah telah berhasil, namun jangan lupa sebagian besar pengunjung mempunyai niat yang beragam. Sejumlah sindiran dan antipati terhadap pemerintah belum tentu diiyakan dan disetujui semua jama’ah. Para jama’ah punya logika sendiri ketika dihadapkan pada pilihan-pilihan krusial dalam hidup, seperti partai apa yang akan dipilih dalam pemilu nanti, siapa capres-cawapres yang diidolakan pada pilpres 2024. Bahkan jika ditanya apa kesan berkunjung ke KRJ bisa jadi manisnya kolak, beraneka ragam jenis makanan, harga yang murah, dan ramainya suasana pengunjung jauh lebih menyita perhatiannya daripada agitasi dari mimbar masjid itu sendiri.
Selain secara konten isi ceramah jika dikritisi bersifat absurd, bagi khalayak yang hadir bisa jadi memiliki kesadaran yang diendapkan dalam batinnya bahwa semua ini adalah drama, dan ketika masa pilihan itu tiba maka tetap saja pilihan akan dijatuhkan pada hal-hal yang menjamin eksistensi dan habitat budayanya. Itulah mengapa politik aliran seakan abadi di negeri ini, dan tetap saja sillent mayority tetap memegang kendali di negeri ini.
#bilik.renung.episode_170422#
0 comments:
Posting Komentar