Minggu, 08 Mei 2022

MACAN TERNAK (EMAK-EMAK CANTIK PENGANTAR ANAK SEKOLAH)

EMAK-EMAK CANTIK PENGANTAR ANAK SEKOLAH (Edisi Ramadhan) Oleh Saifudin Zuhri Seperti biasanya di beberapa sekolah swasta favorit di kota ini pagi-pagi barisan emak-emak cantik itu mengantar buah hatinya masuk sekolah. Antrian panjang mobil-mobil bagus itu antri berjajar masuk ke halaman depan sekolah. Di dalam mobil mewah itu selain sang anak dan sopir pribadi turut serta sang bunda. Dari jenis mobil yang dikendarai, busana, dan asesories yang kenakan menggambarkan kelas sosial ekonomi yang disandang. Maklum emak-emak itu rata-rata bersuami orang mapan, seperti pegawai BUMN bonafit, pejabat ASN, dosen, TNI/POLRI, atau pebisnis sukses. Sebagaimana biasanya emak-emak yang punya banyak waktu luang itu ngobrol ngalor-ngidul dengan sesama komunitas pengantar anak sekolah favorit berbasis Islam itu. Banyak tema yang keluar dari bibir emak-emak berlipstik branded itu, sejak dari pamer tas, model perhiasan terbaru yang baru saja dibeli, kabar destinasi wisata yang baru saja dikunjungi, kuliner lezat nan unik, pamer karir suaminya, hingga ghibah salah satu dari komunitas mereka yang kebetulan pagi itu tidak nongol batang hidungnya. Waktu luang yang tersedia cukup banyak sambil menunggu anak selesai sekolah inilah sering muncul ide-ide untuk mengisinya dengan acara-acara kreatif. Salah satu kegiatan pengisi waktu luang itu adalah ajakan mengadakan semacam pengajian, kajian, tausiah, atau halaqoh. Kegiatan kajian rohani itu bisa diinisiasi salah satu dari mereka yang kebetulan memiliki literasi agama relatif lebih baik, atau dari agen gerakan tertentu yang memang mentarget komunitas semacam ini untuk melakukan tarbiyah. Dalam forum pengajian itu disampaikan ajaran-ajaran normatif untuk menanamkan cara pandang, norma, bahkan berperilaku menurut aturan ajran agama yang benar. Indoktrinasi sistemik ini lambat laun mampu mengubah mindset emak-emak. Bagi mereka kegiatan ini selain mengisi waktu luang cukup mempesona karena banyak informasi baru tentang wawasan keagamaan dari penceramah, apalagi jika pengisinya adalah ustadz beken selebritis. Maklum latar belakang emak-emak ini secara agama adalah kurang begitu leterated karena berasal dari keluarga abangan sehingga ketika mendapat tausiah dari sang penceramah langsung menelan mentah-mentah dan menjadi semacam penawar dahaga di tengah gemerlap gaya hidup yang sudah terlewati kebutuhan primernya. Untuk menambah daya religi kegiatan ini terkadang diadakan gerakan sholat Dhuha berjama’ah, ya maklum bagi kelas sosial ini pada jam 9 atau 10 pagi yang lazim adalah jam kerja, digunakan untuk mengekspresikan ghirroh agama. Dari kegiatan pengajian inilah akhirnya mengentalkan emak-emak cantik pengantar anak sekolah ini dalam sebuah group yang semakin solid untuk konsolidasi apa saja, sejak dari diseminasi informasi tugas sekolah, referensi less bagus, sosialisasi kebijakan sekolah, undangan rapat wali murid, dan lain sebagainya. Untuk tetap mengakomodasi hasrat gaya hidup emak-emak cantik ini tidak jarang juga sesekali diwarnai dengan arisan, kuliner bareng, atau sekedar jalan-jalan ke mall. Bagi emak-emak yang tidak bergabung dalam group ini akan mendapat pengucilan dan dianggap tidak gaul, tidak kompak. Implikasi lanjutannya bukan hanya emaknya namun sang buah hati anak akan didiskualifikasi dari pergaulan teman-teman sekolahnya. Apalagi jika sang emak dan anaknya dianggap tidak berhijrah dan menaati norma-norma sesuai indoktrinasi dalam halaqoh-halaqoh tarbiyah itu. Seiring waktu intensitas pengajian dan komunikasi group medsos mereka mulai merubah (biasanya disebut dengan istilah hijrah) tentang cara pandang, perilaku, dan gaya hidup beragamanya. Jika sebelumnya tidak berhijab maka mulai mengenakannya, bagi yang sudah berhijab dengan jilbab biasa saja sebelumnya mulai menggantinya dengan hijab yang dianggap lebih syar’i. Demikian halnya cara pandang dan perilaku di medsos. Pengaruh afiliasi politik, ideologi, dan cara tafsir dalil-dalil agama yang dijejalkan secara intensif dan massif oleh para penceramah agama ini akhirnya juga mengubah secara signifikan, dan bahkan secara mengejutkan mampu bertolak belakang dengan ideologi institusi dimana suaminya bekerja. Fenomena emak-emak cantik antar sekolah di atas menjadi penjelas mengapa akhir-akhir ini muncul hal aneh dan kontradiktif yang dilakukan istri-istri pada suami yang bekerja di BUMN, ASN, dosen, pebisnis, dan bahkan TNI/POLRI. Fenomena itu pula yang mengintrodusir Islam skriptualistik dan bahkan radikal masuk ke keluarga yang semula inklusif dan nasionalis menjadi ekskusif dan garang komentar-komentar di media sosial yang bernada pedas, nyinyir, dan antipati terhadap pemerintah. Semoga puasa Ramadhan kali ini menyadarkan kita semua, aminnn…. #bilik.renung.episode_160422#
Share:

0 comments:

Posting Komentar