MASJID MATARAMAN KINI
MASJID MATARAMAN KINI
(Edisi Ramadhan)
Oleh Saifudin Zuhri
Kusengajakan sholat tarweh keliling dari masjid ke masjid di bulan Ramadhan tahun ini biar bisa kulihat dengan kasat mata warna warni masjid negeri ini. Pada sebuah masjid yang begitu historis membawa Islam ke pedalaman Jawa dan dari masjid ini pula menggambarkan bagaimana terjadi titik temu antara kekuasaan Jawa, tradisi lokal, dan Islam bertemu. Perjumpaan di titik yang sama ini karena masing-masing entitas (baik pemegang kekuasaan Jawa, pelaku tradisi, dan Islam) sama-sama memiliki kharakter yang toleran dan inkulsif. Dari sinilah lahir prototype Islam Jawa dan akhirnya menjadi agama mayoritas di pulau Jawa bahkan nusantara.
Ada yang mengejutkan ketika pada hari keduabelas Ramadhan di antara barisan shof sholat berjamaah tarweh di masjid dimaksud tepat di depan saya salah seorang jama’ah mengenakan kaos bertuliskan “Hidup Mulia atau Mati Syahid”. Kalimat di punggung kaos tersebut bisa dilihat dari beberapa sudut pandang.
Pertama; ini adalah fenomena baru bahwa telah terjadi pergeseran tipe (jama’ah) masjid dari yang tardisional ke kosmopolit bahkan eksklusif. Fenomena ini bahkan terjadi di masjid yang menjadi episentrum budaya Jawa. Masjid tradisional yang dulu berorientasi pada lokalitas sudah terilfiltrasi gerakan-gerakan transnasional yang diintrodusir ideologi pan Islamisme seperti ikhwanul muslimin, hizbut tahrir, al kaeda, mujahidin, ISIS dan semacamnya. Diksi “Hidup Mulia atau Mati Syahid” adalah tagline yang begitu popular di kalangan mujahid dalam gerakan-gerakan organisasi tersebut.
Kedua; bisa jadi sang pemakai kaos oblong tersebut tidak tahu menahu makna dan pesan dari tulisan di punggungnya. Dia mendapatkan mungkin secara gratis dari temanmya dan pada saat itu kaos itulah yang mungkin dianggap layak untuk dipakai sholat berjamaah di masjid itu. Walaupun sang pemakai juga mengenakan peci ala mujahidin Afghanistan atau Mesir, memakai kaos itu tak ubahnya kaos lain dengan tulisan iklan toko cat atau kaos gratis pembagian salah satu parpol pada pemilu yang lalu. Tidak seserius yang pertama. Begitulah biasanya masyarakat Jawa mataraman menetralisir keketatan norma.
Ketiga; mungkin yang aneh adalah penulis sendiri melihat kaos begitu saja kok dipersoalkan. “Gitu saja kok repot”, begitulah gumam Gus Dur yang dulu begitu popular.
#bilik.renung.episode_150422#
0 comments:
Posting Komentar