KEHADIRAN YANG TAK TERGANTIKAN; Mudik dalam Perspektif Budaya
KEHADIRAN YANG TAK TERGANTIKAN
Mudik dalam Perspektif Budaya
Oleh Saifudin Zuhri
Tatapan bang Thoyib di senja itu menerawang jauh memandangi sang mentari yang beranjak sirna di ufuk barat langit Jakarta. Walau langit ibukota kala senja tak selalu jingga, keteguhan hati dan fikiran pria paroh baya itu mampu menembus batas cakrawala menjadi seolah jingga walau tak peduli itu sebuah ilusi. Rindu yang terpendam itu tak kuasa dibendung lagi walau raga yang menopangnya tak sekuat ketika pertama kali menginjakkan kakinya di tanah para jawara.
Ya dua tahun sudah bang Thoyib memendam perih tak bisa berjumpa dengan sanak saudara dan sawah ladangnya di desa. Datangnya pagebluk bernama asing Covid-19 itu bukan hanya telah menyirnakan ribuan nyawa dan mengacaubalaukan periok nasinya, namun yang lebih menikam ulu hatinya adalah dirampasnya paugeran budaya adiluhung yang selama ini membuatnya kuat bertahan di tengah kerasnya ibu kota.
Budaya adiluhung yang sudah lama tertanam dalam benak jiwanya itu tidak lain adalah tradisi “berkumpul”. Walau “berkumpul” adalah sebuah kata sederhana namun nilai inilah yang memuncaki hierarkhi kebutuhan dasar manusia Jawa (dan juga bangsa ini pada umumnya), selain sandang, pangan, dan papan. Tidak berlebihan jika ada adagium dalam masyarakat Jawa “mangan ora mangan, sing penting kumpul”. Maksud dari semboyan tersebut adalah bahwa makan atau tidak itu tidak penting, yang terpenting adalah bisa berkumpul.
Berkumpul adalah sebuah energi yang bisa mengalahkan segalanya. Rasa takut bisa sirna dan rasa lapar bisa tak terasa ketika manusia bersatu padu dalam kebersamaan bukan atas nama apapun namun sebagai manusia semata. Tradisi bekumpul tidak sekedar bertemu namun lebih dari itu adalah berjumpa. Ada perbedaan antara keduanya; bertemu cukup ditandai dengan terkoneksinya antar dua orang atau lebih dalam sebuah proses pertukaran kepentingan, sementara berjumpa adalah kehadiran dengan segenap keterlibatan jiwa dan raga.
Di genggaman tangan bang Thoyib memang ada telpon pintar yang bisa mempertemukan kepentingannya dengan berbagai pihak termasuk sanak saudaranya. Kecanggihan teknologi itu memang bisa mengkoneksikan handai tolan dan bahkan bisa menggambarkan suasana desanya dalam tangkapan kamera. Namun kehadiran takkan pernah bisa digantikan oleh apapun dan siapapun. Berjumpa mensyaratkan kehadiran yang akan menumpahkan sejuta makna yang takkan dapat terwakili oleh teknologi.
Walau smartphone menyajikan sejumlah aplikasi yang dapat menampilkan gambar diri, namun takkan pernah bisa mewakili tatapan mata, getaran suara yang masuk ke rongga dada, dan pelukan raga yang begitu hangat. Tidak ada yang sanggup menjadi delegasi suara hati kecuali oleh dirinya sendiri yang hadir tanpa kompromi. Nuansa batin itu begitu kompleks, rumit, dan dalam sehingga tak ada kata yang sanggup mengemasnya kecuali oleh perjumpaan.
Penantian panjang bang Thoyib untuk berjumpa dengan sanak saudara dan desanya sudah membayang ketika pemerintah memperlonggar mudik lebaran tahun ini. Kerinduan tampil sebagai manusia biasa, sebagai sanak saudara, dan sebagai warga desa dalam sebuah perjumpaan adalah panggilan hati nurani. Di kota mesin-mesin produksi dan birokrasi telah menggilas hati nurani dalam beribu wajah penuh hipokrisi. Memang dalam kota kosmopolit tersedia banyak predikat untuk disandang sejak dari birokrat, professional, pegawai kantoran, pedagang, buruh, pembantu rumah tangga, hingga pengimis dan pengamen. Namun diam-diam semua warga kota dan kaum urbannya memendam rasa rindu terhadap hati nuraninya sendiri.
Dan ketika senja mulai sirna dan lampu-lampu ibu kota mulai bercahaya, bang Thoyib membalikkan tubuhnya melangkah ke pasar membeli sekaleng biscuit Khong Ghuan untuk dibawa pulang ke kampung halamannya. Dia tahu bahwa roti yang dibelinya itu sebenarnya juga tersedia di Indomart dan Alfamaret yang berjejer di kota kecil kecamatannya, namun maknanya berbeda ketika sekaleng biscuit legendaris itu dibawa langsung menyertai kehadirannya.
Demikian halnya sanak saudanya yang setia menunggu di desa. Kehadiran pahlawan keluarga ini dinantikan bukan karena uang dan oleh-oleh yang dibawanya, namun lebih dari itu yang dibutuhkan adalah penawar rasa rindu yang terdalam untuk berkumpul sebagai sesama saudara sedarah dan sedesa.
Hati-hati di jalan ya bang Thoyib……….
#bilik.renung.episode_250422#
0 comments:
Posting Komentar