PEMILIIK KEDAULATAN ITU PULANG KE HABITATNYA; Mudik dalam Perspektif Politik
PEMILIIK KEDAULATAN ITU PULANG KE HABITATNYA;
Mudik dalam Perspektif Politik
Oleh Saifudin Zuhri
Desa di Indonesia memiliki sejarah panjang dan berpengaruh terhadap konstruksi negara bangsa ini, sejak dari ideologi, pandangan hidup, kebudayaan, sistem ekonomi, sistem politik, hingga ketatanegaraan. Secara sosiologis desa bukan sekedar teritori adminsitratif yang berada di sebuah wilayah yang minim infrastruktur modern dan jauh dari gemerlap gaya hidup kosmopolit. Desa adalah sebuah habitus dan entitas sosial yang menggambarkan nilai budaya, norma, dan sistem kepercayaan.
Meminjam kategorisasi type masyarakat yang dikemukakan sosiolog Emile Durkheim menjadi dua type yaitu masyarakat mekanik dan organik, maka masyarakat desa adalah bertype makanik. Salah satu tanda tipe masyarakat mekanik adalah pola relasi yang didasarkan pada kesadaran kolektif (collective consciousness) sebagai komunitas yang terikat oleh norma yang diturunkan dari lingkungan hidup di desa. Nilai-nilai kebersamaan dan kekeluargaan menjadi dasar dalam membangun interaksi antar anggota masyarakat, bahkan dalam bekerja pun tak perlu melihat pembagiannya berdasar spesifikasi tertentu. Desa adalah sebuah miliu dimana komunitasnya melestarikan habitat budayanya.
Besarnya jumlah masyarakat desa di Indonesia menandakan bahwa arah bangsa ini ditentukan oleh orang-orang desa. Di tangan merekalah kedaulatan itu berada. Memang kebisingan politik praktis yang banyak diintrodusir oleh masyarakat urban (kota) diorientasikan untuk pemusatan kekuasaan dengan menjadikan konstituen di desa sebagai obyek untuk mobilisasi suara, namun para politisi lupa bahwa orang desa mempunyai parameter tersendiri untuk menentukan siapa yang dianggap layak menerima mandat kedauluatan yang ada di genggamannya.
Bagi orang desa menjatuhkan pilihan-pilihan politik tidaklah sepenuhnya bersifat rasional instrumental. Pilihan politik akan berbanding lurus dengan dengan keterwakilan batin dan budayanya. Silahkan para politisi yang nyaman hidup di kota itu membuat berbagai akrobat pencitraan, agitasi, dan bahkan provokasi di berbagai media yang begitu massif dan bising, namun keteguhan identitas pedesaan takkan tergoyahkan.
Barangkali terdapat beberapa kasus di sebuah desa seorang figur politik sukses memobilisasi suara dengan uang (money politic) , janji-janji manis, dan isu-isu bernuansa SARA yang seakan-akan menjadi atribut identitas masyarakat desa. Namun ketika dihadapakan pada pilihan yang menentukan jati diri dan eksistensi warga desa maka pilihan akan tetap dijatuhkan pada siapa yang mampu menggaransi rasa tentram dan nyaman orang desa.
Orang desa memiliki radar super sensitif untuk mendeteksi siapa yang berhak menerima wahyu cokroningrat kekuasaan. Parameter untuk menentukan tidak melulu berdasar instrumen kasat mata dari pajangan baliho di pinggir-pinggir jalan yang menampilkan wajah-wajah tersenyum yang dibuat-buat. Radar dengan presisi tinggi itu juga mampu mendeteksi mana slogan kata-kata berbisa. Serbuan agitasi bertubi-tubi bahkan hoax di media sosial takkan menggoyahkan nurani. Diamnya orang desa (sillent majority) bukannya tidak berprinsip, namun sebuah strategis cerdas supaya tidak mudah diterka lawan.
Kebijakan pembangunan selama ini memusat di kota. Lihatlah bagaimana insfrastruktur menumpuk di berbagai sudut kota. Peredaran uang 70% beredar di perkotaan. Sementara desa dibiarkan miskin dan termarginalisasi dalam proses-proses pembangunan. Desa dibiarkan dalam kesendiriannya mengembangkan dirinya. Desa adalah laksana ibu kandung bagi pemilik suara. Banalitas politik orang-orang kota memang sempat menyandra perhatian dan mempesona orang-orang desa, namun kenakalan itu usai ketika berjumpa dalam pelukan bunda di desa.
Realita masyarakat desa di atas menjadi penjelas mengapa “politik aliran” di Indonesia yang dikemukakan oleh para ahli, seperti Ruth McVey, Clifford Geertz, dan Herbert Feith tak tergoyahkan dalam lanskap politik di Indonesia hingga kini. Walau pekembangan terkini faktor uang dan ideologi agama menjadi variable yang mempengaruhi namun tidak bisa mengegser varibel penentunya, yakni desa dengan segala isinya.
Kepulangan mudik lebaran sederet nama seperti bang Thoyib, kang Samuri, pak Jumadi, mas Joko, mang Ujang, pakdhe Gito, Brodin, Wahyu, Susilo, Supardi, mbok Sutiyem, mbokdhe Markonah, dik Sri, Wati, Endang, mereka adalah prajurit desa untuk bertarung di medan “perang” kota demi sesuap nasi namun tak pernah ingkar janji dengan suara hati nurani.
#bilik.renung.episode_260422#
0 comments:
Posting Komentar