Senin, 09 Mei 2022

KHONG GHUAN DAN RENGGINANG; Mudik dalam Perspektif Ekonomi

KHONG GHUAN DAN RENGGINANG Mudik dalam Perspektif Ekonomi Oleh Saifudin Zuhri Kebjakan pembangunan yang bias kota dan memarginalkan desa menyebabkan ketimpangan ekonomi antara masyarakat rural dan urban tak terhindarkan. Menyemutnya orang-orang desa merantau ke kota-kota besar merupakan akibat dari menumpuknya gula-gula di perkotaan. Realitas seakan membenarkan semboyan “ada gula ada semut”. Walaupun akhir-akhir ini arah kebijakan pembangunan direorientasikan ke pedesaan dengan indikator meningkatnya alokasi dana desa yang begitu besar, namun pengaruh globalisasi dan modernisasi tetap saja menjadikan desa suborditaf dari kota baik dalam pengertian produksi, distribusi, bahkan konsumsi. Terutama pada sector konsumsi desa telah dieksploitasi secara habis-habisan. Bagimana tidak, di desa yang mood of production berbasis pada cara-cara kerja tradisional namun sektor mood of consumption sudah berubah ke arah masyarakat konsumen dan bergaya hidup modern. “Kegedhen empyak kurang cagak”, besar pasak daripada tiyang. Istilah itulah untuk membari gambaran gamblang bagaimana ketimpangan antara pendapatan dengan pengeluaran. Selain peningkatan alokasi dana desa yang cukup signifikan, penggalakan pembangunan insfrastruktur yang dilakukan pemerintahan sekarang di pedesaan yang berorientasi pada peningkatan produksi juga sudah sedemikian lebih progresif jika dibandingkan dengan era sebelumnya, seperti pembangunan akses jalan, bendungan, irigasi, dan lain-lain. Namun semua itu tidak secara otomatis mampu memangkas ketimpangan antara kota dan desa. Desa tetap saja tertinggal, miskin, dan terpinggirkan. Mengapa hal ini tetap terjadi? Upaya pemerintah memberdayakan desa patut diapresiasi, namun ada satu hal yang perlu dikritisi dan bukan hanya tanggung jawab pemerintah namun menuntut keterlibatan masyarakat yakni tentang budaya konsumerisme dan gaya hidup yang sudah kadung merasuki ke tulang sumsum masyarakat desa. Besarnya pengaruh globalisasi dan ketamakan kapitalisme global telah menjadikan warga desa sebagai obyek perluasan pasar korporasi kapitalis. Fakta itu bisa dilihat bagaimana pola konsumsi warga desa yang sudah berubah, sejak dari makanan, fashion, hiburan, perabotan rumah tangga, dan alat transportasi dan komunikasi menjadi lebih konsumtif, hedonis, dan menjadikan gaya hidup modern sebagai transetternya. Memang masih tersisa kearifan lokal yang coba dipertahankan namun perubahan lebih massif tak kuasa dibendung. Dalam situasi seperti ini lagi-lagi warga desa memiliki fungsi laten dalam perantauannya. Sektor produksi yang coba ditingkatkan warga desa dengan menukar tenaganya dengan upah murah mampu menghasilkan uang. Walaupun pada akhirnya uang yang dikumpulkan itu muaranya untuk konsumsi namun setidaknya mudiknya mereka ke kampung halaman mampu mendistribusikan rejeki ke pedesaan. Bersamaan dengan arus mudik yang terjadi bukan hanya mobilisasi manusia secara massal ke pedesaan namun juga mengalirkan dana dari kota ke desa. Para ekonom memprediksi perputaran uang dari aktivitas mudik pada periode Lebaran 2022 tembus Rp 8.000 triliun. Angka itu tercatat tumbuh 4,26 persen dibanding perputaran uang pada bulan-bulan biasanya, yakni Rp7.672,4 triliun berdasarkan data Bank Indonesia (BI). Angka itu diperoleh dari perhitungan total pemudik lebaran tahun ini yang disurvei Kementerian Perhubungan mencapai 80-an juta orang, baik lewat perjalanan darat, udara, maupun laut. Jika benar prediksi tersebut maka akan memberikan dampak besar terhadap perputaran uang di daerah. Prediksi angka tersebut cukup fantastis bukan hanya dari jumlah namun secara fungsi juga positif untuk memeratakan ekonomi ke pelosok desa. Walapun pada akhirnya mengalirnya dana tersebut bermuara pada sector konsumtif namun setidaknya orang desa mampu menjadi subyek walau sementara dan semu. Lain dari itu, nilai kearifan local yang masih tersisa mampu mengembalikan uang sebagai alat tukar semata untuk mengembalikan posisi komoditas budaya sebagai nilai tertingginya. Uang bisa dicari namun kekeluargaan, kebersamaan, persaudaraan, dan perkumpulan tidak dapat dipertukarkan dengan apapun termasuk uang. Ada sebuah adagium kearifan local yang berbunyi “tuno sathak bathi sanak”, yang artinya kurang lebih; rugi secara finansial tidak apa-apa namun mendapatkan ganti untung berupa rekatnya persaudaraan. Karena itu jangan heran jika nanti biscuit Khong Ghuan bersanding harmonis dengan rengginang, bahkan kalengnyapun kadang bergantian isi, roti rukun berdampingan dengan jadah, cucur, marning, madu mongso, wajik, manggleng, ongol-ongol, nogosari, dan lain-lain. Begitu juga mobil avanza, xenia, livina, jazz, yaris, expander, innova, pajero dan lain-lain dipaksa parkir di halaman rumah tabon simbah yang sebenarnya tidak dikonstruksi untuk garasi. Begitulah bangsa ini membuat orkestra kehidupan yang begitu indah dan warna warni. Walau perlu waspada dengan kalimat penutup: “pulang kece balik memble”. #bilik.renung.episode_270422#
Share:

0 comments:

Posting Komentar