Senin, 09 Mei 2022

RELIGIOSITAS MUDIK; Mudik dalam Persepektif Agama

RELIGIOSITAS MUDIK Mudik dalam Persepektif Agama Oleh Saifudin Zuhri Tidak ada bangsa manapun yang begitu terbuka terhadap nilai-nilai baru dari luar (termasuk agama) tapi di sisi lain juga begitu kreatif bernegosiasi sehingga nilai-nilai baru itu yang alih-alih ditelan mentah-mentah namun justru dilakukan komodifikasi sesuai dengan nilai asali budayanya. Itulah bangsa Indonesia. Tradisi mudik lebaran adalah bukti keberhasilan negosiasi penduduk lokal terhadap imperasi norma agama. Genealogi bangsa agraris-maritim yang menjunjung tinggi komunalisme (kebersamaan) termanifestasi dalam tradisi mudik yang menyemai dalam akulturasi harmonis antara anjuran agama untuk saling memaafkan di hari fitri dengan kegemaran berkumpul masyarakat komunal. Secara istilah mudik berasal dari bahasa Jawa yang terdiri dari dua kata “mulih” (artinya pulang) dan “dilik” (artinya sebentar). Merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mudik artinya pulang ke kampung halaman. Dikutip dari Surat Edaran Nomor 13 Tahun 2021, mudik adalah kegiatan perjalanan pulang ke kampung halaman selama bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Secara substantif arti mudik betitik temu dengan istilah “religi” yang berasal dari bahasa Latin “religare” yang berarti “berarti “perbuatan bersama dalam ikatan mengasihi”. Konteks mudik yang terkait dengan momentum bulan suci Ramadhan dan Idul Fitri memiliki makna spiritual dari sekedar pulang kampung. Mudik bukan hanya peristiwa budaya, namun menyiratkan makna kembalinya nilai-nilai kefitrahan dalam diri manusia untuk kembali dipulangkan ke tempat asalnya. Dalam konsepsi Islam pada dasarnya manusia itu fitroh atau suci. Kesucian ini didasarkan pada sebuah keyakinan bahwa ketika ruh ditiupkan oleh Tuhan ke janin (sebagaimana termaktub dalam QS. Al-A’raf: 72) pada dasarnya berasal dari Allah dan akan kembali ke Allah. Karena itu ketika orang meninggal dunia diucapakan kalimat “innalillah wainna ilaihi roji’un” (sesungguhnya kita semua milik Allah dan kepada-Nya kita akan dikembalikan). Seiring dengan pertumbuhan anak manusia menjadi dewasa maka akan berkembang potensinya untuk mengembara (merantau) semakin jauh, baik dalam pengertian fisik maupun rohani. Dalam pengembaraan itu akan banyak aral melintang yang menghalangi perjalanan. Dalam menghadapi aral melintang itu aka ada berbagai kemungkinan bagi sang pengembara; ada yang tetap eling lan waspodo dengan asal mula keberadaannya sehingga tetap ingat jalan untuk kembali, namun juga tidak sedikit yang terlena sehingga semakin jauh dari nilai-nilai asali sebagai hamba Allah. Mudik adalah semacam rekayasa budaya untuk mengembalikan manusia ke nilai-nilai asali dari sejauh apapun dia pergi. Dalam mudik sang pengembara diingatkan kembali jati dirinya sebagai manusia ciptaan Tuhan yang harus kembali kepada-Nya. Noda dosa dan khilaf yang mengotori di sepanjang perjalanan hidupnya diberi momentum untuk disucikan kembali melalui perajutan kembali tali sillaturrahmi antar sesama manusia. Kampung halaman yang menjadi tempat kembali bagaikan rahim seorang ibu yang melahirkan anak kandungnya. Kampung sebagai tempat kelahiran bukan sekedar ruang fisik nama sebuah desa, namun adalah suasana batin yang masih murni. Karena itu kerinduan para pemudik terhadap kampung halaman adalah juga kerinduan terhadap kesucian batinnya sendiri yang dulu masih besih dan belum banyak dosa yang menodai ruhnya hingga nyaris lupa jalan pulang. Nantikan saja berbagai upload status media sosial ketika kaum urban itu sudah mudik di tanah kelahirannya nanti, akan banyak berkonten tentang kenangan masa kecil mereka yang masih lugu, suci, dan lurus lengkap dengan background tempat-tempat dimana dulu berbolang ria bersama kawan-kawan lama di desa . Itulah masa-masa indah yang dirindukannya. #bilik.renung.episode_280422#
Share:

0 comments:

Posting Komentar