BUKBER, HAMPERS, DAN GAYA BERAGAMA KELAS MENENGAH
BUKBER, HAMPERS, DAN GAYA BERAGAMA KELAS MENENGAH
Edisi Ramadhan
Oleh Saifudin Zuhri
Ada fenomena baru yang beberapa tahun belakangan ini semakin ramai kala Ramadhan tiba, yakni fenomena “bukber”. Bukber adalah singkatan dari dua kata “buka bersama”, sebuah aktivitas berbuka puasa yang dikemas dalam acara gathering anggota kelompok yang terikat dalam berbagai bentuk komunitas, seperti rekan sekantor, reuni sekolah, teman sehobby, sosialita, dan lain-lain. Tempat acara bukber itu biasanya mengambil tempat mewah dan enak, seperti buffee hotel berbintang, resto, atau kuliner yang sedang viral. Untuk menambah nuansa elit, bergaya, dan terkesan kompak tidak jarang dalam undangan sudah disosialisasikan untuk menggunakan dresscode dengan warna yang telah disepakati anggota komunitas.
Ketika menjelang senja dekat dengan waktu berbuka, undangan bukber itu datang dengan stylish busana mewah lengkap dengan aseories sejak dari make-up glowing, perhiasan, sepatu, dan tas branded yang selalu diposisikan di depan. Di meja-meja bundar itu sudah terhidang berbagai menu makanan prasmanan yang beragam dari chef professional.
Sambil menunggu buka tiba tidak lupa untuk foto selfie bersama dengan pose bibir tersenyum manis, tas berada di posisi depan, dan sepatu yang diperlihatkan merknya walau kain menjuntai hingga mata kaki. Mereka saling berceloteh tentang cerita sukses dirinya atau keluarganya hingga ghibah sesama mereka yang kebetulan tidak hadir. Ketika adzan maghrib berkumandang sebagai tanda buka puasa terlebih dahulu aktifitas utama adalah memfoto makanan yang ada di hadapannya supaya bisa segera diunggah di media-media sosial mereka. Memfoto makanan lebih didahulukan sebelum menyantap makanan daripada berdoa dan dan merenungi makna puasa yang baru saja ditunaikannya.
Dalam suasana bukber seperti itu jangan berharap ada perenungan hikmah puasa bagaimana rasa lapar yang diderita kaum miskin papa tanpa jeda, padahal syari’ah agama mengajarkan hanya 1 bulan puasa saja. Dalam suasana penuh kenikmatan itu agak susah merohanikan aktivitas makan dan minum supaya menjadi pilihan sadar yang ilahi. Bagi mereka puasa bukanlah ibadah sunyi untuk menjalin keintiman dengan Sang Khalik, namun menjadi media baru untuk aktualisasi diri dan ekspresi gengsi.
Cerita dari tetangga sebelah lain lagi walau dengan esensi yang sama. Di sebuah kompleks perumahan nan mewah ada sebuah tradisi baru yang mewarnai suasana Ramadhan di kalangan kelas social ekonomi mapan ini, yakni saling berkirim hampers antar penghuninya. Setelah hampers sampai di pintu rumah tak lupa sang penerima harus segera mengunggah dan ditag ke jaringan media sosial group mereka sehingga secara tidak langsung menuntut untuk saling berbalas kiriman.
Sebenarnya saling memberi (giving) antar tetangga merupakan tradisi lama yang secara sosiologis memang menjadi budaya masyarakat komunal yang selalu berbagi. Namun yang menggelikan adalah munculnya tradisi baru untuk diunggah me media social sebagai ritual baru, sebagaimana menu bukber yang difoto-foto sebelum dimakan, bahkan hingga lupa berdoa sebelum menyantapnya.
Inilah fenomena baru dalam perilaku kelas menengah di Indonesia. Apapun bisa menjadi media untuk unjuk eksistensi diri dan flexing tentang status sosialnya. Bahkan ibadah puasa Ramadhan dengan berbagai amalan sunnah yang melingkupinya yang hakikatnya didisain oleh Allah sendiri sebagai ibadah paling sunyi dan intim (bilik.renung.episode_030422), pun dikomodifikasi oleh kelas menengah menjadi bagian dari cara gaya beragama baru yang penuh glowing dan glamour.
#bilik.renung.episode_290422#
0 comments:
Posting Komentar