0 (NOL)
0 (NOL)
Edisi Ramadhan
_Oleh Saifudin Zuhri_
Di dalam matematika ada sebuah angka yang bilangannya tidak bernilai namun sangat berkuasa terhadap bilangan berapapun. Bilangan angka dimaksud yakni adalah 0 (nol). Angka 0 dikalikan berapapun hasilnya tetap 0. Namun ketika angka 0 ini digunakan sebagai angka penambah (+) atau pengurang (-) maka hasilnya tidak merubah apapun.
Angka 0 sebagai pengkali memiliki kuasa yang menihilkan segalanya. Itu artinya angka 0 begitu suprematif terhadap bilangan angka berapapun, sehingga menjadikan angka-angka lain berapapun jumlah bilangannya menjadi tak bernilai dan meaningless. Angka 0 (nol) adalah angka yang membawa pada titik dimana apa yang “ada” menjadi “tiada”. Namun ketika angka 0 menjadi bilangan penambah dan pengurang maka angka ini tidak menambah apapun terhadap diri atau subyek angka yang ditambah maupun dikurangi.
Semacam rumus matematika di atas akan digunakan sebagai alat analisis terhadap eksistensi manusia, tepatnya filsafat manusia. Atau dengan kata lain apa makna dan misteri di balik bilangan angka 0 (nol) itu?
Manusia adalah makhluk paling misterius sekaligus genius. Misteri manusia terletak pada rumitnya mendefiniskan dirinya sendiri, terdapat berlapis-lapis dimensi yang coba dideskripsikan untuk memberi gambaran siapa hakikat manusia. Terdapat berbagai teori yang dikemukakan berbagai ahli untuk mencoba mengkonseptualisasi manusia. Para ahli psikologis melahirkan berbagai aliran , seperti psikoanalisa, behaviorisme, humanisme, dan transpersonal. Sementara para filosuf juga melahirkan berbagai perspektif tentang manusia, seperti materialisme, idealisme, vitalisme, dan eksistensialisme. Sejauh apapun yang dikemukakan dalam berbagai aliran tersebut tetap saja manusia menyimpan misteri.
Manusia juga makhluk paling cerdas di antara berbagai makhluk lainnya. Kecerdasan itu terbukti dengan adanya peradaban yang terus berkembang di sepanjang sejarah manusia. Akal atau rasio itulah potensi dasar yang membuat manusia begitu manusia istimewa dengan ciptaan Tuhan lainnya dan karena itu pula dia berhak menyandang predikat kholifatullah (wakil Tuhan) di muka bumi ini.
Pemberian mandat sebagai kholifatullah itu diikuti dengan penganugerahan sebagian sifat-sifat Tuhan kepada manusia, seperti kemampuan mencipta, berkuasa, mengetahui, dan lain sebagainya. Dengan bekal potensi tersebut manusia mampu melakukan pengembaraan jauh dari tempat asal jiwanya. Inilah kisah yang dimetaforkan dalam Al Qur’an dengan kisah pengusiran Adam dan Hawa dari syurga.
Namun demikian sejauh apapun pengembaraan itu dilakukan suatu saat pasti terhenti dan saatnya kembali pulang. Agama adalah salah satu sumber yang memberi peta jalan untuk pulang. Peta jalan itulah yang dikontruksi dalam berbagai bentuk sya’riah dan ritus peribadatan, seperti sholat, puasa, dan haji. Puasa merupakan ritus yang mentransformasi penunainya dalam nilai esensial sebagai manusia semata di hadapan Tuhannya. Predikat sosial apapun yang disandang dalam perjalanan pengembaraannya adalah bunga-bunga dalam kehidupan yang suatu saat pasti akan gugur akan harus digugurkan untuk kemudian kembali ke fitrah jatidirinya sebagai manusia semata. Puasa adalah angka 0 (nol) yang menihilkan keramaian dalam kesunyian ilahi.
Derajat, jabatan, profesi, kelas sosial, dan attribute apapun harus dinolkan di titik ketiadaan. Apa yang selama ini dipersepsikan “ada” sesungguhnya “tidak ada”. “Sejatine ora ono opo-opo, sing ono kuwi dudu”, artinya sesungguhnya tidak ada apa-apa, yang ada ini sebenarnya bukan. Itulah kalimat piwulang yang begitu dalam dan bermakna.
Sungguh tepat pilihan istilah yang popular untuk merepresentasikan makna hari raya Idul Fitri dengan “minal’aidin wal faizin”. Kalimat ini merupakan kreatifitas bangsa ini membangun maknanya sendiri, bahkan dari negeri asal agama inipun (Arab) tak punya perbendaharaan kata itu. Secara etimologis “minal ‘aidin” berarti sebuah pengharapan untuk kembali, yakni kembali ke nilai asali yang fitri. Sedangkan “faizin” berarti kemenangan, yakni menang atas diri sendiri yang mampu menembus batas yang manusia buat-buat sendiri.
#bilik.renung.episode_010522#
0 comments:
Posting Komentar