Kamis, 26 Agustus 2021

Balada Negeri Bukan INI dan bukan ITU”

Tak usah bingung dan terlalu lama menunggu kepastian di negeri ini, karena hal itu bagai menunggu sang godot atau bagai biduk merindukan bulan. Sejak awal dilahirkan bangsa ini sudah bertekad memilih untuk tidak memilih ini dan itu. Itulah mengapa tidak usah terlalu bingung melihat pemerintah yang berubah-ubah kebijakannya dan para pemimpin yang plin-plan pernyataannya. Di negeri ini inkonsistensi bukanlah lawan dari sifat mulia istiqomah, hipokrisi bukanlah kemunafikan, dan plin-plan dianggap sebagai bagian dari dinamika. Pola pikir bangsa ini tidak bersifat linearistik yang dengan lugas bisa dihitung secara serial. Kharakter bangsa ini terletak pada kelincahan menari-nari dari sudut pandang satu ke sudut pandang lain, bahkan terkadang secara bersamaan dikombinasi. Ketetatan nilai apapun yang hadir dalam bangsa ini akan ditawar dan dicairkan; panggilan agama untuk iman atau ingkar ditawar dengan singkretisme, pilihan ideologi apakah kanan atau kiri ditawar dengan sintesisme Pancasila, kiblat budaya apakah modern atau tradisional didamaikan dalam harmoni campursari, dan lain sebagainya. Di dalam catatan sejarah bangsa ini menggambarkan bagaimana founding father’s meracik dasar negara dari berbagai unsur nilai yang mewujud dalam Pancasila. Ideologi bangsa ini merupakan penjelmaan dari ramuan tiga unsur sekaligus yang disebut TRI-PRAKARA, yaitu adat istiadat, agama, dan kenegaraan. Di dalam konteks agama, para penganjurnya tak henti-henti mengkhutbahkan penegakan syari’at agama (Islam) dalam semua bidang, termasuk negara, menjalankan ajaran agama secara kaffah, toh realitanya Islam yang berbalut dengan tradisi lokal yang justru paling laku. Dalam konteks budaya, modernitas menggerus-gerus identitas bangsa ini berabad-abad lamanya namun tak juga membuat kita sanggup melepaskan sepenuhnya adat dan tradisi. Karena itu luurr…… tak usah heran mengapa politisi yang menghimpun sejumlah konsultan, peneliti, dan akademisi untuk merumuskan strategi jitu dalam setiap pemilu masih juga rajin sowan mbah dukun, para pesakitan selain berobat ke dokter dan mengandalkan teknologi medis juga mencari penyembuhan pada pengobatan alternatif, para pedagang yang sudah membuat business plan secara accountable juga menggunakan jasa penglaris, para teknokrat dan akademisi yang begitu ilmiah juga menyempatkan untuk meratap dalam do’a. Tidak ada bangsa di dunia ini yang jumlah tertawanya setiap hari melebihi orang Indonesia, apapun keadaannya. Bangsa ini selalu bisa keluar dari ruang ketatnya, bagai air yang selalu mengalir dan bahkan bisa menjelma menjadi uap menuju ruang bebas. Hanya di Indonesia orang masih sanggup nulis status “jangan lupa bahagia” di tengah penderitaan yang dialaminya. Hanya bangsa ini yang masyarakatnya bisa berjoget riang gembira sambil meneriakkan kur “cendol dawet” ketika sedang patah hati. Bahkan, ketika sekarang banyak negara yang mulai melonggarkan kebijakan lockdown akibat virus corona untuk menyelamatkan ekonominya, Indonesia lebih dulu sejak awal menghindari mengambil kebijakan ketat semacam lockdown, pemerintah lebih memilih kebijakan PSBB, sebuah kebijakan yang dianggap jalan tengah, dan itupun tidak sungguh-sungguh ditaati rakyatnya. yah begitulah gaess, sebuah balada bangsa yang bukan INI dan bukan ITU. #bilikrenungeps9 Penulis oleh: saifudin zuhri Pada tangga : 11/11/11
Share:

0 comments:

Posting Komentar