CORONA BERKATA: “SILAHKAN SAJA, AKU AKAN TETAP MENUNAIKAN TITAHKU
Kalian berdebat apakah aku benar-benar ada atau tidak, silahkan saja.
Kalian sangsi apakah aku hasil konspirasi atau benar-benar terjadi, silahkan saja.
Kalian ragu apakah aku realitas media atau realitas nyata, silahkan saja.
Kalian bimbang mana yang harus ditaati apakah negara atau agama, silahkan saja.
Silahkan saja kalian bebas berprasangka apa saja.
Silahkan saja kalian bebas berpikiran apa saja.
Silahkan saja kalian bebas menyimpulkan apa saja.
Silahkan saja kalian bebas melakukan apa saja.
Aku adalah aku yang akan tetap menunaikan titahku.
Aku hadir sebagai hukum sebab akibat yang malas kalian pelajari, apalagi ditaati.
Aku lahir semacam rasul ilahi untuk mengingatkan jati diri kalian sendiri.
Ya diri kalian sendiri seorang, bukan karena kewargaanmu yang dibentuk negaramu.
Ya diri kalian sendiri seorang, bukan karena identitasmu yang dibentuk agamamu.
Ya diri kalian sendiri seorang, bukan karena watakmu yang dibentuk adat istiadatmu.
Ya diri kalian sendiri seorang, bukan karena gaya hidupmu yang dibentuk budayamu.
Aku akan tetap menjalankan hukum pastiku sebagaimana titahku.
Aku akan menerjang siapa saja dan apa saja tanpa pandang bulu.
Aku tak peduli apa agamamu, apa kewarganegaraanmu, apa kelas sosialmu.
Aku adalah timbangan keadilan hukum sebab akibat.
Dua tahun sudah aku hadir mengetuk pintu hati dan nurani,
namun kalian kuras energi untuk saling mencaci maki.
Kalian telah menyia-nyiakan kesempatan untuk merenungi perjalanan selama ini.
Ada hal yang perlu ditafsirkan ulang bangunan keyakinanmu selama ini.
Ada hal yang perlu dibangun ulang dalam cara bernegaramu.
Ada hal yang perlu dipertanyakan ulang budaya masyarakatmu.
Itu semua membutuhkan pemikiran jernih dan mendalam.
Itu semua membutuhkan kerja keras dan pengorbanan.
Namun nampaknya kalian lebih suka berpangku tangan atau menengadahkan tangan.
Sampai pada akhirnya aku hadir dalam tubuhmu hingga mencekik aliran nafasmu.
Dan di hembusan nafasmu yang terakhir itu baru muncul kesadaran yang datang amat terlambat, sebagaimana Fir’aun dan Kan’an yang terpaksa tunduk pada titah hukum tubuhnya kepada Sang Khaliknya.
#bilikrenungeps54
Penulis oleh: saifudin zuhri
Pada tangga : 11/11/11
0 comments:
Posting Komentar