DESAKRALISASI KEMATIAN
Kebetulan tempat dimana saya bekerja berada di tepi jalan utama sehingga lalu lalang kendaraan sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Dulu sebelum masa pandemic ketika sebuah kendaraan ambulan lewat dengan bunyi sirine meraung-raung dengan nada tertentu, entah mengangkut pasien sakit atau membawa jenazah adalah suara yang mendirikan bulu kuduk dan muncul perasaan duka entah siapapun penumpangnya. Hal ini dikarenakan dalam sehari tidak selalu ada ambulance lewat atau sangat jarang sekali sehingga raungan sirinenya selalu mengejutkan. Di awal masa pandemic intensitas lalu lalang ambulance menjadi sering, dan sekarang seiring dengan penyebaran covid 19 yang semakin massif frekuensi lalu lalang ambulance semakin meningkat pula. Akhir-akhir ini setiap hari tidak kurang 10 kali ambulance lewat depan tempat kerja saya dengan raungan sirine yang semakin keras. Karena sudah menjadi pemandangan sehari-hari maka fenomena tersebut dianggap hal yang biasa dan lumrah. Tidak ada lagi bulu kuduk yang berdiri, tidak ada rasa terkejut, dan tidak ada lagi tanda tanya siapa yang meninggal atau sakit.
Begitulah sebuah perasaan berproses dan terbentuk, sesuatu yang terjadi secara terus menerus pada akhirnya menjadi kebiasaan dan secara psikologis membuat seseorang yang ada dalam kebiasaan tersebut hilang rasa keterkejutan. Mengapa rasa sakit dan apalagi kematian menjadi hal yang mengejutkan karena kita selama ini berada dalam kondisi hidup dan sehat sehingga menganggap kehidupan dan kesehatan adalah hal yang lumrah dan biasa. Namun ketika tiba-tiba hal tersebut hilang dalam genggaman barulah kita merasa shock dan terkejut. Berbagai rasa duka dan derita akan menyelimuti kepergiaannya. Namun bagaimana jika keadaan dibalik, yaitu sakit dan kematian menjadi lebih sering daripada kehidupan dan kesehatan?
Sedikit memberi perbandingan pada masa perang dunia kedua, khususnya pada tragedi perang antara Nazi Jerman dan tentara merah Uni Soviet, dahsyatnya perang tersebut memakan korban jiwa jutaan (total kematian sebanyak 62.537.400 jiwa) jumlah terbanyak di sepanjang sejarah perang dalam peradaban umat manusia. Kala itu saking banyaknya dan seringnya kematian hingga pengusa Rusia yang bernama Joseph Stalin mengatakan “kematian hanyalah hitungan statistic”. Sekedar contoh terkini, belum lama ini terjadi horror jumlah kematian di India akibat penyebaran Covid-19 yang tidak bisa dikendalikan oleh pemerintah India dan masyarakatnya menyebabkan kematian massal tak terhindarkan. Rumah sakit yang kolaps dan ritus penghormatan terhadap arwah tak lagi sempat dilakukan. Ratusan jenazah dibuang begitu saja di sungai Gangga bagai bangkai binatang yang tidak ada gunanya. Kematian manusia begitu hina dan tak lagi mengundang rasa empati apalagi doa.
Di masa kehidupan normal kematian adalah peristiwa sakral (suci) karena menjadi fase puncak kehidupan manusia dan di situlah ditentukan nilai akhir dari kehidupannya (apakah husnul khotimah atau su’ul khotimah). Kematian adalah kepergian suci menuju sumber kehidupan dan keberadaan, yakni kembalinya ruh kepada Pencipta dan Pemilik ruh itu sendiri yakni Tuhan (innalillahi wainna ilaihi roji’un, sesungguhnya kita ini milik Tuhan dan kepada Tuhan pula kita akan kembali). Karena itu berbagai upacara diadakan sebagai rasa hormat dan pengabdian, seperti 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1 tahun, 1000 hari, dst.
Hari-hari ini di negeri ini berita kematian semakin sering terdengar di telinga kita, jika sebelumnya kita hanya mendegar melalui media massa dan media sosial kita, kian hari berita itu terdengar langsung tanpa termediasi. Fakta kematian kita dengar langsung di telinga dari teman, sahabat, dan sanak saudara kita. Jarak cerita kematian bukan lagi orang lain yang tidak kita kenal, namun temannya teman kita, tetangganya tetangga kita. Jika laju pandemic ini tak kunjung dihentikan bisa jadi lonceng kematian itu mendengung kian keras dan sering di gendang telinga kita karena semakin mendekat dengan jarak ruang dimana kita hidup. Dan jika itu terjadi, jangankan doa dan berbagai upacara penghormatan bisa dilakukan, bisa menyelamatkan diri sendiri dari kematian saja sudah merupakan perjuangan luar biasa. Sebelum masa itu tiba mari berjuang untuk mempertahankan kehidupan dengan tetap menjaga kesehatan.
#bilikrenungeps55
Penulis oleh: saifudin zuhri
Pada tangga : 11/11/11
0 comments:
Posting Komentar