PIALA EURO 2020, COPA AMERIKA, DAN RASA CEMBURU KITA
Bagi penggemar sepak bola hari-hari ini disuguhi tontonan mengasyikkan di layar televisi yang begitu lama dirindukan, yakni piala Euro 2020 dan piala Copa Amerika. Kedua perhelatan jenis olah raga dengan jumlah penggemar terbanyak sejagat ini tentu menarik untuk diperbandingkan. Perbandingan tersebut bukan dari aspek kualitas permainan dari kedua benua tersebut yang memang dalam kasta sepakbola menduduki peringkat pertama dan kedua, namun bagaimana performance industri hiburan itu disuguhkan.
Di tengah pandemic global Covid 19 piala Copa Amerika diselenggarakan tanpa kehadiran penonton di stadion, sedangkan piala Eropa 2020 mampu diselenggarakan secara sempurna dengan dihadiri ribuan penonton tim masing-masing. Dalam sebuah pertandingan supporter bernilai penting sehingga membuat atmosfir pertandingan menjadi lebih seru dan penuh semangat, karena itu penonton lazim disebut sebagai pemain kedua belas.
Yang lebih menarik untuk diamati dalam piala Euro 2020 adalah kehadiran ribuan penonton yang menyaksikan secara langsung di stadion itu terlihat di layar televisi tanpa masker dan tanpa jaga jarak yang di masa pandemic ini tentu saja menjadi pemandangan yang aneh, miris, dan sekaligus mengundang rasa cemburu. Atas perbedaan fenomena tersebut memunculkan tanda tanya besar di benak khalayak penggemar bola di tanah air. Jika dipetakan terdapat dua jenis pertanyaan atas fenomena perbedaan tersebut.
Pertama, pertanyaan yang bernada gugatan dan iri hati, seperti mengapa mengapa di piala Euro 2020 diperbolehkan dihadiri penonton bahkan tanpa masker dan jaga jarak sedangkan di Copa Amerika tidak, demikian halnya piala liga di Indonesia pun akan diselenggarakan tanpa kehadiran penonton. Nada pertanyaan ini jika diletakkan dalam konteks pandemic berkorelasi dengan pertanyaan ontologis apakah pandemic benar-benar ada atau sebuah konspirasi untuk kepentingan kekuatan tertentu sebagaimana kecurigaan sebagian orang selama ini?
Kedua, pertanyaan yang bernada apresiatif dan instropektif, seperti mengapa Euro 2020 mampu menghadirkan ribuan penonton, bagaimana caranya? Syarat apa yang telah berhasil dipenuhi negara-negara Eropa hingga merasa baik-baik saja dan begitu asyik menikmati sepak bola secara langsung di stadion tanpa rasa khawatir tertular virus corona? Bagaimana manajemen pertandingan sepak bola di stadion negara-negara Eropa? Bagaimana kapasitas sistem negaranya? Bagaimana kultur kedisipilinan masyarakatnya? Bagaimana kecanggihan teknologinya yang sedemikian valid dan akurat dalam menscreening ribuan orang yang hadir ke stadion, dan lain sebagainya. Deretan nada pertanyaan tersebut sekaligus menohok diri kita sendiri bagaimana kualitas bangsa kita dalam menangani pandemic selama ini.
Saya sendiri lebih concern membahas pertanyaan yang kedua, walaupun pertanyaan kategori pertama tetap diperlukan sebagai perspektif kritis, karena membahas pertanyaan kategori kedua akan lebih produktif dan solutif.
Terlepas adanya opini sebagian masyarakat yang masih saja menyangsikan keberadaan Covid 19 dan terlepas atas ketidakadilan ekonomi politik dalam globalisasi, fakta yang tak dapat dipungkiri adalah penyebaran Covid 19 semakin merajalela. Periode setelah mudik lebaran kemarin dan munculnya varian baru Delta yang diduga dari India menghasilkan jumlah korban terpapar virus ini selalu menembus angka yang melampaui statistic hari-hari sebelumnya. Data tersebut ditunjukkan dengan indikatornya banyaknya rumah sakit di beberapa daerah menuju situasi kolaps dan penggali kubur mulai kewalahan memakamkan jenazah. Indonesia sedang tidak baik-baik saja.
Virus ini memiliki hukum-hukum biologis yang bersifat universal. Virus ini akan menjalankan titahnya sesuai dengan elan vital dan sistemnya tanpa memandang siapapun. Begitu juga cara penghentian virus ini juga ada dalam sistem hukum-hukumnya yang harus ditaati oleh siapapun. Sejauh ini cara penghentian, atau setidaknya memperlambat penyebarannya adalah dengan physical distancing, penggunaan masker, dan mencuci tangan sebersih mungkin. Daya serang virus ini juga ditentukan sejauh mana sistem imun tubuh dibangun, seperti makan yang sehat, istirahat cukup, olah raga teratur, berjemur, dll. Upaya pengobatan sejauh ini baru menjangkau dalam bentuk vaksin dan itupun sebenarnya bukan obat tetapi penguat imun tubuh.
Dengan demikian untuk menjalankan itu semua membutuhkan pola pikir rasional, kultur disiplin tinggi, kerja keras, kemampuan ekonomi, sistem tatanegara yang efektif, kecanggihan teknologi, industri farma, dll. Fluktuasi data pandemic di sebuah negara akan sangat ditentukan sejauh mana usaha-usaha tersebut dapat diakumulasi sebuah bangsa. Melihat fenomena penonton di piala Euro 2020 akan lebih produktif dan fair diletakkan dalam takaran logika tersebut.
Jika bangsa ini tidak mampu berpikir reflektif dan instropektif dan lebih memilih untuk mencurahkan energinya hanya untuk saling mencaci maki dan iri hati, namun di satu sisi tidak tunduk pada hukum-hukum titah corona maka bisa jadi pandemic global ini menjadi mesin seleksi bangsa mana yang akhirnya tetap bisa bertahan hidup di planet ini dan bangsa mana yang akhirnya punah sebagaimana jenis spesies tertentu yang sekarang hanya tinggal cerita masa lalu dalam galian arkeologi.
#bilikrenungeps56
Penulis oleh: saifudin zuhri
Pada tangga : 11/11/11
0 comments:
Posting Komentar