Jumat, 27 Agustus 2021

GAS dan REM

Belakangan muncul diksi "gas dan rem" untuk menganalogikan secara sederhana bagaimana pemerintah dan warganya menghadapi pandemi covid-19 di negeri ini. Sebuah gambaran kebijakan yang ingin menyeimbangkan antara upaya memutus mata rantai penyebaran virus covid-19 dengan menjaga daya tahan ekonomi agar bangsa ini tidak terbenam terlalu dalam jurang resesi. Istilah gas dan rem tersebut menguat kembali seiring dengan semakin melonjaknya penderita dan jumlah korban pandemi ini dan tidak ada tanda-tanda menurun apalagi berhenti. Namun di sisi lain geliat aktivitas ekonomi mulai nampak kembali normal walau tidak seperti sedia kala. Di tengah situasi ngeri-ngeri sedap semacam itu publik dikejutkan dengan pengumuman gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang akan memberlakukan kembali PSBB jilid 2 di wilayah kekuasaannya sebagaimana pada masa awal pandemi ini muncul. Tak pelak kebijakan yang diandaikan menarik tuas rem secara mendadak itu dalam sekejap memunculkan reaksi pasar yg signifikan, saham-saham rontok dan konon trilyunan rupiah lenyap. Dalam bilik renung ini saya tidak hendak mempersoalkan apakah kebijakan gubernur yg tutur katanya santun dan retorikanya runtut itu efektif atau tidak. Yang lebih krusial direnungi adalah apakah segenap anak bangsa ini merasa di kendaraan yang sama sehingga semua penumpang terangkut dengan aman, nyaman, dan selamat? Jangan2 ada beberapa penumpang yang loncat keluar atau enggan masuk di kendaraan yang sama sehingga gas atau rem yang dikendalikan sang sopir pun tak berpengaruh baginya. Penumpang gelap dan bandel semacam itu mungkin akan lebih menaati sopir2 kendaraan lain yang lebih ditaati dan dihormati (pemimpin informal, komprador politik, dll). Padahal kita telah sepakat untuk berada dalam kendaraan yang sama yakni NKRI. Kalaupun kita sudah berada di kendaraan yang sama, apakah sistem pengendalian gas dan rem berada dalam satu komando pemegang otoritas tertinggi sang sopir (sang presiden)? Atau jangan-jangan di dalam mobil tersebut ada banyak gas dan rem yang bisa saja dengan mudahnya diinjak tuasnya sesuka hati para penumpang istimewa (para kepala daerah) yang duduk di muka di samping pak sopir yang sibuk bekerja? Jika itu yang terjadi walau kita berada di kendaraan yang sama tentu ritme jalannya tidak akan aman dan nyaman menuju tujuan bersama. Dari analogi-analogi tersebut di atas alangkah rumitnya mengelola negeri ini. Indonesia bukan hanya luas dan beragam namun memang rumit dan kompleks dalam pengelolaannya. Negeri yang besar dan luas ini hanya bisa dipimpin orang yang berjiwa besar, ikhlas, dan cerdik. Jika tidak adagium yang pernah muncul pada masa awal kampanye pilpres bahwa Indonesia akan punah bisa jadi menemui kebenarannya. Semoga tidak. #bilikrenungeps20 Penulis oleh: saifudin zuhri Pada tangga : 11/11/11
Share:

0 comments:

Posting Komentar