Jumat, 27 Agustus 2021

NORMAL atau NEW NORMAL

Berbulan-bulan sudah dunia diporakporandakan pandemic covid-19. Beberapa negara dan korporasi mulai mengakui resesi dan bahkan beberapa hal di ambang kebangkrutan. Monopoli kapitalisme yg selama ini mendominasi pasar hampir mustahil ditumbangkan oleh persaingan yang dibayangkan sempurna itu. Namun pada akhirnya dajjal kapitalis itu lunglai bukan oleh persaingan pasar namun oleh virus yang bernama corona. Kaki tangan kapitalis itu juga mengjangkau negeri Nusantara ini. Jejak-jejak kapitalis yang mulai diintrodusir besar-besaran sejak Orde Baru tidak menyurut hingga kini. Ukuran-ukuran kesejahteraan, nilai ekonomi, dan bahkan indeks kualitas hidup dirujukkan melalui rumus pertumbuhan (growth). Wujud gamblangnya di sekitar kita adalah gaya hidup, perilaku, budaya, dan bahkan cara pandang masyarakat adalah bagian dari pemeriahan pesta pora kapitalisme. Dan berpuluh-puluh tahun negeri ini merayakan itu semua dalam ketidaksadarannya. Dampak pandemic ini merombak segalanya. Lihatlah bagaimana korporasi raksasa yang selama ini keren memoles gaya hidup modern dipaksa takluk dan mengiba-iba. Sekedar contoh Pizza Hut, Mc.D, Starbuck, dll terpaksa mengecer dagangannya pinggir jalan dengan sejumlah discount. Tak ubahnya jagung bakar, martabak, klepon yang dijual para PKL yang tangguh itu. Begitu jugal pasar modern seperti mall mulai sepi pengunjung dan mengobral dagangannya yang tak juga laku. Kebijakan manajemen merumahkan ribuan pekerjanya terpaksa dilakukan. Sementara di ruang sebelah pasar tradisional tetap berjejal pengunjung dan para PKL yang sudah terbiasa berjuang dalam kesempitan hidup justru tetap bertahan. Di dunia pendidikan. Sebelum pandemic pendidikan adalah bak pabrik mencetak anak-didik menjadi pintar dan anak sholeh yang orang tua tinggal membayar berapapun tanpa bersusah payah bagaimana terlibat dalam proses mendidik anaknya belajar mengeja huruf demi huruf, menghitung rumus matematika dasar, dan menghafal do'a-do'a mulia. Dengan uang para orang tua tinggal menunggu panen nanti anak2nya menjadi anak pintar dan sholeh. Pandemic covid-19 memaksa para orang tua untuk mengelola emosi dan berlatih kesabaran turut serta mengajari buah hatinya sendiri. Di kancah dunia politik adalah ruang transaksi di ruang publik dengan menjadikan kekuasaan sebagai komoditasnya. Para pemimpin, sejak dari presiden, DPR, DPRD, BPD, hingga lurah, semuanya menunggu modal kembali bahkan untung berlipat kali ketika investasi pada masa kampanye tempo hari. Pandemic ini membelalakkan mata bahwa seorang pemimpin dan pemegang amanah rakyat haruslah kerja keras, terukur, dan rapi dalam melayani rakyatnya. Status warna daerahnya apakah hijau, merah, kuning, dan hitam akan sangat ditentukan kapasitas kepemimpinannya. Dalam beragama pun demikian. Sekian lama indoktrinasi agama melambung jauh melangit-langit hingga lupa bahwa pemeluknya menginjak bumi. Mimbar-mimbar dakwah agama bertemakan ide-ide futuristik atau bahkan nostalgik. Doktrin agama mengalami komodifikasi yang semakin jauh dari misi sucinya sendiri. Para penda'i lupa bahwa bab awal dalam kitab-kitab suci itu adalah membahas tentang kesucian (thoharoh), baik suci diri atau suci hati, sebelum lebih jauh melangkah pada rukuk dan sujud, dst. Pandemic corona adalah bak tentara Allah yg memaksa kaum beragama kembali ke bab awal dalam beragama, yakni bersuci dan bersih diri. Pandemic covid-19 yang kunjung mereda dianggap melahirkan perilaku NEW NORMAL, namun hakikatnya justru mengembalikan sisi-sisi kehidupan kita yang selama ini tidak normal menjadi NORMAL. Sesungguhnya kita sedang transisi menuju NORMAL dalam makna yang hakiki. Sebagai negara agraris-maritim dibuat normal menjadi agraris-maritim dengan sistem ekonomi gotong royong. Tanggung jawab pendidikan dinormalkan peran keluarga untuk turut serta terlibat mendidik putra putrinya. Pemimpin yg bak pedagang menunggu untung dinormalkan untuk lebih ikhlas mengabdi dan melayani masyarakatnya. Pemahaman agama dikembalikan pada misi sucinya yakni bersih hati dan suci diri. Inilah NORMAL yg sesungguhhya. Pandemic ini memanggil negeri ini kembali ke jati diri. #bilikrenungeps19 Penulis oleh: saifudin zuhri Pada tangga : 11/11/11
Share:

0 comments:

Posting Komentar