Kamis, 26 Agustus 2021

HIKMAH CORONA

Covid-19 Mengajarkan Hal-hal Sederhana yang Terlupakan Sadarkah kita bahwa manusia modern sering melupakan hal-hal sepele dan simple dalam hidup namun tidak menyadari betapa akibatnya sungguh fatal dan beresiko tinggi bagi peradaban. Di balik adanya pandemic corona yang membawa dampak begitu rumit dan kompleks, namun di sisi lain ada hal-hal sederhana yang diajarkan kepada umat manusia. Walaupun sederharna namun justru nilai-nilai tersebut mendasar dan prinsip dalam kehidupan manusia. Berikut hal-hal sederhana yang dapat kita ambil hikmah atau pelajaran berharga untuk kehidupan kita semua. Berikut diantaranya: A. Budaya 1. Mencegah lebih baik daripada mengobati. Dengan adanya corona kita dituntut memiliki budaya kesehatan seperti cuci tangan sebelum makan, cuci kaki sebelum masuk rumah, mandi, rutin ganti baju, menutup mulut jika bersin, dll 2. Sebagai negara tropis kita mendapat sinar matahari yang begitu melimpah tiap hari. Corona menyadarkan kita untuk mensyukuri nikmat tersebut dengan berjemur 3. Rumah adalah tempat mengembangkan cinta kasih antar sesama anggota keluarga. Corona menyadarkan manusia modern bahwa rumah adalah sebaik-baik tempat untuk kembali dan berdiam diri B. Sosial 1. Manusia adalah makhluk social karena itu pasti berinteraksi dengan orang lain. Corona menyadarkan manusia untuk peduli dan bekerja sama dengan orang lain. 2. keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat harus peduli dengan pendidikan anak karena dialah generasi penerus. Corona memaksa para orang tua peduli dengan pendidikan dan intens mendampingi anaknya dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah. 3. Globalisasi membawa hubungan antar manusia melintasi batas apapaun. Corona menanamkan nilai bahwa manusia harus tetap waspada dan hati-hati dengan orang lain. 4. Pada dahulu kala (masyarakat primitive) masnusia berkumpul untuk bertahan hidup, seperti berburu dan bercocok tanam. Pada manusia modern memodifikasi perkumpulan menjadi begitu rumit dan kompleks urusannya. Corona seakan mengembalikan ke prinsip perkumpulan paling mendasar manusia yaitu untuk menjaga kehidupan. C. Ekonomi 1. Hirarkhi kebutuhan manusia adalah primer, seconder, dan tersier. Tingkatan itu hendaknya dipenuhi secara berurutan, tertib, dan terukur. Budaya modern membuat urutan itu tak beraturan, sembrono, dan tumpang tindih. kebutuhan primer belum dipenuhi tapi sudah loncat ke kebutuhan tersier. Sandang, pangan, papan belum terpenuhi tapi alokasi anggaran untuk piknik, alat komunikasi (HP) dan alat transportasi justru diutamakan. Corona memaksa manusia memenuhi kebutuhan primernya terlebih dahulu sebelum yang lain, yaitu makan dan kesehatan. 2. Untuk konteks Indonesia sebagai negara agraris mestinya desa adalah soko guru ekonomi. Fundamen ekonomi bangsa ini mestinya berbasis di pedesaan (pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, dan kelautan), namun faktanya kebijakan pemerintah menjadikan kota sebagai pusat ekonomi. Data menunjukkan 75% penduduk Indonesia tinggal di desa namun 75% peredaran uang ada di kota. Karena itu jangan salahkan jika orang desa berurbanisasi (merantau) ke kota-kota besar bahkan ke luar negeri. Dengan corona mau-tidak mau arah kebijakan negara harus dikoreksi bahwa pemerataan ekonomi harus memprioritaskan desa sebagai pusat pembangunan ke depan. 3. Selama ini komoditas di pasar dikuasai oleh barang-barang pabrikan, seperti otomotif, alat komunikasi, fashion, dan elektronik. Perubahan pola konsumsi ke bentuk primer akan menjadikan kebutuhan terhadap pangan dan kesehatan menjadi komoditas andalan pada masa yang akan datang. Dampak corona memberi alasan kuat bahwa bahan pangan pertanian, pengolahan, dan alat kesehatan adalah komoditas paling menjanjikan dan punya prospek ke depan. D. Politik 1. Demokrasi yang hanya mengandalkan prosedur tidak selalu menghasilkan pemimpin yang bagus untuk pelayanan public dan pembangunan masyarakat, walaupun melalui proses pemilu yang dianggap demokratis sekalipun. Maka jangan heran jika uang dan ikatan primordial sempit lebih menentukan daripada kualitas kepemimpinan (sejak ari presiden, DPR, hingga pak lurah). Bencana corona menjadi alat seleksi siapa pemimpin yang berkualitas dan mana yang tidak. Ketika bencana datang dibutuhkan pemimpin yang memiliki kemampuan untuk mitigasi hingga recovery. Jika tidak maka rakyat juga yang akan menanggung akibatnya. 2. Pandemi Covid-19 ini tak mengenal batas wilayah suatu negara, jenis ideologi, dan tingkat kemakmuran atau kemajuan suatu bangsa. Negara-negara maju nan kaya pun dibuat tak berdaya, seperti Amerika Serikat, Itali, Perancis, Inggris, Perancis, Spanyol, China, Jepang, Korsel, dll. Negara-negara digdaya tersebut terpuruk bukan oleh ledakan bom, desingan peluru, lesatan rudal dan peralatan perang yang canggih lainnya, namun tak berdaya oleh virus yang begitu kecil dan tak terlihat oleh mata. Corona memberi pelajaran bahwa bangsa manapun tidak boleh sombong merasa lebih tinggi dari bangsa manapun. Nilai kemanusiaan adalah nilai yang harus dijunjung lebih tinggi daripada kepentingan apapun. E. Agama 1. Dalam metode pembelajaran agama, jauh sebelum kita diajari tentang syari’ah, ibadah, tasawuf, aqidah dan berbagai kitab lain, pelajaran paling awal adalah ngaji tentang THOHAROH, yaitu bagaimana cara menyucikan diri dari hadas kecil dan hadas besar. Pada akhir-akhir ini dakwah agama didominasi oleh wacana-wacana rumit tentang khilafah sebagai alternatif dalam sistem negara, tentang penegakan syari’ah di kehidupan masyarakat, tentang kepemimpinan yang dianggap islami, permurnian ibadah, dll. namun para pendakwah agama justru lupa mengajarkan prinsip paling dasar, yaitu bagaimana bersuci, baik suci dalam pengertian fisik (badan) maupun suci dalam pengertian hati. 2. Tempat ibadah seperti masjid, musholla, gereja, vihara dll adalah tempat dan simbul penyembahan kepada Tuhan, namun belakangan tempat tersebut justru dijadikan tempat mobilisasi kepentingan kelompok, menguasai ruang udara dengan corong-corong TOA made in Jepang dan China yang diputar ayat-ayat suci walau dengan rekaman kaset (flashdisk), mencaci maki orang yang dianggap tidak seiman atau sealiran, para pengkohtbah itu bagaikan sang hakim yang begitu terampil memilah-milah orang mana yang berhak masuk syurga dan masuk neraka, seakan-akan kita tidak boleh bersentuhan atas nama kemanusiaan hanya karena agama atau paham kita berbeda. Sebuah sikap yang tidak pernah diajarkan oleh para Rosululllah, bahkan nabi Muhammad sendiri tidak pernah membenci sekalipun terhadap orang yang terang-terangan menolak atau memerangi dakwahnya. Corona mengajarkan bahwa yang patut disembah bukan tempat ibadah itu sendiri, yang patut disucikan bukan lantai berbalut karpet dari Turki atau Tiongkok dan mimbarnya namun adalah dzat ‘azza wa jalla Allah subhanahu wata’ala. Corona membungkam kekuasaan para pengkhutbah dan memaksa mengunci pintu masjid dan gereja rapat-rapat. Bukan karena beribadah itu dilarang, namun manusia disuruh merenungi dan cerdas dalam menyembah Tuhan bahwa penyembahan tak boleh terperangkap oleh batas ruang tempat ibadah. Itu supaya dalam beribadah lebih mengedepankan kedalaman hati, konsentrasi berfikir, keintiman berhubungan dengan Sang Pencipta dengan penuh kesunyian dan keshusyukan daripada kemegahan bangunan masjid, ornamen kaligrafinya dan kesejukan udara karena AC. 3. Masjid jaman dulu bahkan pada jaman Rosulullah bukan hanya tempat sholat dan iktikaf, masjid adalah ruang public untuk kebersamaan dalam kebajikan. Maka jangan heran jika masjid di kampung-kampung jaman dulu adalah tempat untuk numpang tidur bagi para musafir sehingga tidak perlu sewa hotel yang semalam bisa ratusan ribu rupiah. Masjid jaman dulu menjadi ruang public kita untuk saling bertemu ngobrol tentang apa saja dalam kehidupan, karena berkumpul adalah kebajikan tertinggi bagi budaya mayarakat desa. Orang pergi ke masjid tidak harus pakai baju koko, pakai topi ala Mesir, ala Afghanistan, ala Turki, ala Arab Saudi. Peci hitam yang sudah lusuh hingga kuning pinggirnya dan sarung plekat yang sudah ngetril pun karena tidak distrika juga boleh masuk ke masjid. Masih ingatkan kita bagaimana celana kolor kita copot dan kumpulkan di pojok masjid ketika kita shola t berjamaah karena kita khawatir celana kolor itu tidak steril dari najis. Bahkan ibu-ibu di siang hari sambil ngeerumpi, petan, momong anak pun d masjid. Nah coba lihat tampilan masjid sekarang, bak kantor pemerinthan yang begitu megah namun semakin sunyi untuk kebersamaan yang beragam. Corona seakan menampar kita semua bahwa jangan sedangkal itu memahami rumah Tuhan. Tembuslah tembok kemegahan masjid dengan rasa kasih sayang sebagaimana nabi mengajarkan. Bahkan Rosulullah pernah melarang sahabatnya memarahi dan hendak memukul seorang badui yang tiba-tiba kencing di pojok masjid. Itu karena rosulullah menyadari begitulah resiko fasilits public. Jika tidak maka kita akan dihinakan oleh corona dipaksa mengunci pintu masjid oleh makhluk mikro yang tak kasat mata itu. Persembahan sederhana dariku #bilikrenungeps3 Penulis oleh: saifudin zuhri Pada tangga : 11/11/11
Share:

0 comments:

Posting Komentar