MELIHAT KONFLIK ISRAEL-PALESTINA SECARA BERIMBANG
Belum sempat mengurai secara jernih hiruk pikuk arus balik mudik, ramainya obyek-obyek wisata, dan korelasinya terhadap ancaman meledaknya paparan Covid-19 di negeri ini, media massa dan media sosial kita dipenuhi trending topic berita tragedi klasik di belahan dunia negara Israel dan bangsa Palestina. Kedua belah pihak saling berbalas roket dan sejumlah alat perang lainnya. Akibatnya, jatuhlah korban jiwa di kedua belah pihak. Tidak kalah ngerinya (bahkan lebih dramatik) pemberitaan media sosial sebagai bagian dari agitasi dan propaganda memposting data korban dan framing opini.
Di group-group WA saya dan juga media sosial lainnya gemuruh ajakan untuk mendoakan dan unjuk simpati dengan memberi konstribusi apapun, minimal doa dan rasa empati terhadap tragedi kemanusiaan tersebut. Dari sekian postingan di medsos yang saya terima sebagian besar cenderung bernada ajakan berempati kepada pihak bangsa Palestina dan memposisikan bangsa tersebut sebagai pihak yang benar dan didzolimi. Dalam pada itu narasi terhadap permasalahan konflik kedua bangsa tersebut sebagai konflik agama semata.
Sementara posting di medsos dan pemberitaan media massa konvensional juga tidak memberi perimbangan informasi tentang kompleksitas permasalahan selain agama, seperti tentang perebutan tanah, diskurus sejarah, dinamika politik lokal (baik di komunitas Pelestina maupun Israel sendiri), ketimpangan ekonomi, dan konflik identitas antar suku/ras yang menjadi anasir dalam negara Israel maupun bangsa Palestina sendiri. Intinya, konflik Negara Israel dan bangsa Palestina lebih dinarasikan dan diframing sebagai konflik agama semata daripada cara pandang yang berimbang dan obyektif.
Kuatnya framing narasi tersebut masih ditambahi dengan pemberitaan media massa mainstream (baik televisi, radio, maupun media cetak) yang menyiarkan secara berulang dan terus menerus tentang jatuhnya korban jiwa di pihak Palestina dari anak-anak dan penduduk sipil yang tidak berdosa. Pun pula ekspose bagaimana tentara Israel menyerbu masjid suci kedua bagi ummat Islam di dunia dan menyerang orang—orang yang sedang beribadah di dalam masjid tersebut. Pemberitaan tersebut tidak diimbangi dengan penjelasan dari pihak Israel bahwa penyebab penyerbuan tersebut adalah adanya aksi-aksi terorisme yang terdeteksi oleh intelijen Mossad Israel bersembunyai di dalam masjid dan menjadikan tempat ibadah yang semestinya suci itu sebagai tameng untuk menutupi rencana aksi-aksi destruktifnya.
Dari paparan tersebut terlihat bahwa framing dan narasi yang diinformasikan di media massa baik medsos maupun media konvensional di Indonesia lebih bersifat one both side dan mengabaikan cover both side sebagaimana layaknya fungsi media massa yang seharusnya berimbang dan obyektif. Akibatnya, kesadaran dan persepsi public akan lebih terfragmentasi oleh narasi yang dominan tersebut.
Bahwa atas nama apapun penjajahan, perampasan tanah, pembunuhan (apalagi anak-anak, perempuan, dan penduduk sipil), dan upaya penyingkiran sebuah komunitas sebuah bangsa adalah melanggar hak asasi manusia dan tidak bisa dibenarkan, namun konstruksi dan framing narasi yang tidak berimbang dengan sekedar menayangkan tragedi dan data korban tanpa memberi penjelasan faktor-faktor kompleks yang mengitarinya juga sebuah kejahatan yang harus diluruskan.
Dalam blantika politik Indonesia sebagai negara yang berpenduduk muslim terbesar di dunia, Palestina memang menjadi isu sensitif dan menentukan citra politik penguasanya. Hal ini bisa dimaklumi karena Palestina sudah menjadi simbul dogmatic dan religi bagi umat Islam bahwa masjid Al-Aqsho adalah tempat suci kedua setelah Makkah al-Mukaromah. Kesadaran dogmatis dan religious tersebut direproduksi terus menerus dengan cara tafsir konservatif terhadap beberapa dalil dalam Alqur’an yang menyinggung permasalahan hubungan antara umat Islam dan kaum Yahudi (Bani Israil) pada zaman semasa nabi Muhammad masih hidup. Tidak ada tafsir kontemporer yang mempertimbangkan perkembangan geopolitik kekinian dalam tata dunia baru sejak berakhirnya perang dunia kedua dimana negara bangsa Israel didirikan. Terlebih dengan perkembangan terbaru di era digital sekarang ini, variable-variabel baru tidak masuk dalam cara pandang dan analisis dalam melihat hubungan negara Israel dan bangsa Palestina. Kuatnya dogma tersebut tak tergoyahkan hingga hari ini sehingga siapapun presiden Indonesia akan melanjutkan tradisi yang selama ini ada.
Jika cara pandang bangsa ini dalam melihat fenomena Palestina tidak beranjak, maka begitu pula posisi bangsa ini dalam lanskap politik global pun tidak berubah. Naifnya adalah, begitu semangatnya kita menghardik dan mengecam tindakan Israel di setiap ada fenomena konflik di tanah leluhur para Nabi agama-agama Semetik (Yahudi, Nasrani, dan Islam) namun di dunia nyata kita juga begitu getol mengkonsumsi dan tergantung dengan produk-produk bangsa Yahudi, seperti Microsoft, sistem moneter, gaya hidup modern, media social, dan berbagai jenis produk lainnya. Sementara di satu sisi energi umat Islam lebih besar dicurahkan untuk berdoa daripada mencipta.
Yawis jika beg-begitu, jangan heran jika ketika 1000 roket diluncurkan oleh militan Hamas dan 90% berhasil ditangkal oleh sistem pertahanan Israel dengan teknologi canggihnya, para pembuat narasi sibuk merayakan segelintir roket yang berhasil menembus ke pemukiman Israel namun lupa menyadari 90% yang gagal. Jika dilihat dalam sebuah perhitungan perang maka perayaan tersebut merupakan perayaan atas sebuah kegagalan. Silahkan dilogika sendiri.
#bilikrenungeps52
Penulis oleh: saifudin zuhri
Pada tangga : 11/11/11
0 comments:
Posting Komentar