MUDIK DAN TRADISI TIADA HENTI
Hadirnya pandemic Covid-19 yang mengejutkan dunia dan dampaknya begitu massif dalam berbagai bidang kehidupan diyakini akan merubah tatanan lama yang selama ini ada dengan sebuah tatanan baru yang disebut dengan new normal. Dalam new normal tersebut faktor kesehatan menjadi variable dependent yang menundukkan segala hal menjadi subordinate. Tidak peduli tatanan lama itu berasal dari mana, entah dari tradisi, sistem ketatanegaraan, hingga norma agama. Semua harus tunduk dibawah kepentingan demi kesehatan dan keselamatan spesies manusia itu sendiri.
Hari-hari ini bangsa ini akan disuguhi pemandangan hiruk pikuk mudik di berbagai pelosok tanah air walaupun pemerintah sudah mengeluarkan larangan mudik. Berbagai cara ditempuh para pemudik untuk bisa berjumpa dengan sanak saudara di kampung halaman yang sudah 2 tahun ini ditinggalkan. Mudik tak bisa disederhanakan sekedar pulang kampung. Terdapat berbagai perspektif tentang mudik, sejak dari perspektif sosiologis, ekonomi, politik, budaya, dan bahkan agama.
Dalam perspektif sosiologis mudik adalah naluri manusia sebagai makhluk sosial yang selalu ingin berinteraksi dengan orang lain. Dalam struktur masyarakat agraris yang merupakan asal dari masyarakat urban (perantauan) di perkotaan, berkumpul adalah nilai tertinggi dalam hidup, apalagi dengan kelompok primer berbasis kekerabatan. Dalam berkumpul inilah masing-masing individu tampil sebagai manusia dan saudara setelah setahun lebih menjadi bagian dari alat-alat produksi di perkotaan yang melelahkan.
Dalam perspektif ekonomi, mudik menjadi cara dan mekanisme distribusi pertumbuhan ekonomi yang asalnya tersentralisasi di perkotaan mengalir ke pedesaan. Lihatlah bagaimana aliran uang milyaran ke pedesaan di setiap musim mudik tiba. Fenomena tersebut sekaligus antithesis kebijakan pemerintah dan strategi pembangunan di Indonesia yang selama ini masih terkonsentrasi di kota-kota besar.
Dalam perspektif politik, mudik adalah cara kreatif konstituen pemilih untuk merecharge perspektif politiknya. Fakta membuktikan bahwa atmosfir politik banyak dikendalikan orang-orang kota. Desa yang dihuni sebagian besar pemilih justru dihegemoni dan dikendalikan cara pandang politiknya oleh elit-elit politik perkotaan, padahal orang desa adalah pemegang sura terbanyak. Mudik adalah mekanisme menyeimbangkan hasrat-hasrat kekuasaan dengan nilai-nilai kearifan lokal pedesaan.
Dalam perspektif budaya, fenomena mudik adalah wahana untuk mengekspresikan diri manusia dalam berbagai bentuk kulturnya, walaupun selama hidup di perkotaan terkontaminasi oleh industri budaya, konsumerisme, pop culture, dll. Kembali pulang adalah jalan terbaik untuk menyadarkan ulang bahwa budaya adiluhung pedesaan adalah induk asali budayanya. Mudik adalah cara kaum urban untuk mengobati rasa rindu terhadap nilai-nilai kearifan yang menjadi pembentuk dasar kharakter kepribadianya. Dengan demikian sekuat apapun paparan modernitas sedikit bisa diseleksi dan dihambat laju gerusannya.
Dalam perspektif agama, mudik tidak bisa dilepaskan dari ritual Iedul Fitri yang mengajarkan tentang kembali kepada nilai-nilai kesucian (fitrah) setelah dalam sebulan penuh umat muslim menjalankan ibadah puasa. Bukan sekedar ibadah puasa tersebut yang penting, yang lebih substantif adalah mudik menjadi semacam puncak kemanangan manusia untuk “kembali” kepada nilai-nilai kesucian sebagai makhluk Tuhan, tidak siapa-siapa.
Melihat makna mudik yang dipaparkan dalam berbagai perspektif tersebut menyadarkan kita betapa mudik memiliki arti yang begitu kompleks dan dalam. Mudik bukan sekedar pulang kampung. Mudik bukan sekedar tradisi tanpa arti. Mudik menggambarkan siapa wajah kita sesungguhnya. Karena itu bisa dipahami jika kebijakan larangan mudik yang sudah dikeluarkan pemerintah dengan mengerahkan segenap sumber daya yang dimiliki negara, tak serta merta bisa membendung arus mudik. Besarnya jumlah penduduk yang berasal dari desa, rasa rindu bertemu sanak saudara yang begitu membuncah, luasnya Indonesia raya, banyaknya jalan-jalan yang tidak seluruhnya dibangun negara, jumlah aparatur yang terbatas plus sebagai manusia yang punya rasa lelah, merupakan akumulasi persoalan yang tidak mudah untuk diatasi dalam menegakkan kebijakan larangan mudik ini. Mudik (seakan) menjadi tradisi tiada henti.
Kita semua hanya berharap horror yang terjadi di India karena berkumpulnya jumlah massa yang begitu besar akibat perhelatan sebuah ritual di tengah pandemi yang tidak bisa dikendalikan oleh pemerintah harus dibayar mahal masyarakat India mengalami tragedi kematian massal yang tak terkendali, semoga tidak terjadi di negara tercinta Indonesia ini. Namun demikian, yang harus disadari dan diwaspadai adalah virus ini memiliki hukum-hukumnya sendiri yang tidak mau tahu apapun tradisi, sistem sosial, keyakinan dan apapun itu, terkecuali manusia sebagai makhluk paling cerdas untuk menggunakan akal sehatnya berjuang keras bagaimana menyelamatkan spesiesnya sendiri dari kepunahan.
#bilikrenungeps51
Penulis oleh: saifudin zuhri
Pada tangga : 11/11/11
0 comments:
Posting Komentar