Senin, 30 Agustus 2021

DUA TRAGEDI PENGINGAT DIRI

Peristiwa demi peristiwa datang silih berganti, baik duka lara maupun kabar gembira. Belum usai bangsa ini tertatih-tatih melawan pandemi Covid-19, sudah dirundung duka berikutnya tragedi tenggelamnya kapal selam Nanggala 402 beserta seluruh awaknya. Walaupun kedua peristiwa tersebut adalah sebuah tragedi namun dari kedua peristiwa itu pula kita dipaksa instropeksi mengenai sisi fundamental hidup bersama dalam sebuah bungkai negara yang kita sepakati bersama. Pada kasus pandemi Covid 19 manusia harus berpikir dan berjuang keras menemukan kembali formula yang tepat bagaimana sebaiknya menjalani kehidupan bersama yang sehat, aman, dan selamat. Sejumlah sistem tatakelola negara yang selama ini diandalkan untuk melindungi segenap tumpah darah warganya harus diuji ulang kehandalannya. Begitu juga warga negara juga dituntut realistik menuntut kemampuan negara sampai sejauhmana selazimnya menjangkau cakupan kewenangan kekuasaan mengurusi warganya. Pada tragedi kedua, peristiwa tragis tenggelamnya kapan selam Nanggala 402 sebagai salah satu andalan alutista TNI Angkatan Laut (walau berumur tua) dalam mengawal marwah kedaulatan negara di wilayah lautan adalah sebuah signal penting bahwa betapa konsep geostrategi tentang pertahanan keamanan nasional salah kaprah dan salah arah jika dilihat dari fakta obyektif geopolitik Indonesia. Secara geografis wilayah Indonesia 2/3 adalah lautan. Melihat fakta tersebut sudah seharusnya konsep geostrategi negara kepulauan Nusantara ini lebih memprioritaskan pada laut. Dalam konsep NKRI laut bukanlah pemisah tapi justru penyambung yang merajut wilayah daratan ribuan kepulauan Nusantara menjadi satu kesatuan yang utuh. Di sinilah peran-peran yang mengkoneksikan antar pulau berperan central dan strategis. Dalam konteks pertahanan negara sudah seharusnya alokasi pertahanan keamanan laut lebih diprioritaskan, sejak dari alokasi anggaran, jumlah personil militer, alutista, dsb. Lain daripada itu, keberpihakan dan prioritas pada kelautan bukan hanya karena fakta obyektif geopolitik Indonesia, namun secara historis bangsa ini memiliki sejarah panjang peradaban yang berbasis kelautan. Lihatlah bagaimana sejarah lama yang menandakan jejak kekuasaan sebagai bangsa maritim, seperti jejak jalur transportasi laut di antara pulau-pulau nusantara dan sekitarnya bahkan antar benua, artefak perahu-perahu kuno, tradisi dan adat istiadat masyarakat maritim, dll. Jangan sampai fakta obyektif tersebut diingkari dan dilupakan. Tragedi Nanggala 402 seakan mengingatkan kita semua siapa sesungguhnya kita, yakni bangsa maritim. Hendaknya tragedi tersebut melecut pemegang kebijakan untuk segera mengembalikan arah identitas bangsa ini sebagai bangsa maritim, jika tidak maka salah satu lagu legendaris kala kita sekolah dasar dulu yang berjudul "Nenek Moyangku Orang Pelaut" hanya akan menjadi dongen pengantar tidur bagi generasi penerus bangsa ini. Atau dalam bentuk lain, laut hanya akan menjadi mitos yang dipenuhi monster menakutkan entah oleh mistik berbasis kearifan lokal seperti Nyi Roro Kidul dan semacamnya atau hanya cerita film kartun spombob . Sementara dalam kenyataannya laut beserta kekayaan yang dikandungnya diobok-obok dan dirompak oleh tangan-tangan jahat yang tak terjamah. #bilik.renung episode 50 ini aku persembahkan untuk para kesatria TNI AL yang gugur dalam menjaga kedaulatan laut NKRI. Jaya veva jaya mahe# #bilikrenungeps50 Penulis oleh: saifudin zuhri Pada tangga : 11/11/11
Share:

0 comments:

Posting Komentar