PARADOKS RAMADHAN 1: Kesunyian yang Diramaikan
Di antara berbagai jenis ibadah, ritual puasa Ramadhan didesain menjadi ibadah paling misterius dan sunyi. Itulah mengapa dalam sebuah Hadist Nabi disabdakan bahwa jika semua ibadah pahalanya kembali kepada hamba pengamalnya, maka lain halnya ibadah Ramadhan yang nilai pahalanya hanya menjadi hak prerogatif Tuhan. Sang Khaliklah yang akan mengkalkulasi sendiri derajat nilai dan kualitas orang yang berpuasa Ramadhan. Hal ini menandakan bahwa ritual tersebut diformat sebagai jenis ibadah yang bersifat intim, lembut, sunyi, dan misterius.
Namun demikian justru ibadah yang menggunakan metode penekanan dan penjarakan hasrat biologis (makan, minum, dan seks) sebagai media untuk olah batin ini justru menjadi ritual paling semarak, meriah, dan hiruk pikuk. Hanya karena masa pandemic Vovid-19 ibadah puasa Ramadhan dengan serentetan ritual yang menyertainya, seperti tadarus, sholat tarweh berjamaah, takjilan, dan suara kultum para penceramah bersaut-sautan di corong-corong masjid dan musholla agak sedikit berkurang.
Secara sosiologis fenomena semarak Ramadhan adalah bagian dari ekspresi dan komodifikasi budaya masyarakat komunal dalam menginovasi dan menawar norma Islam dalam konteks budaya lokal ke-Indonesiaan. Lain dari itu, kesemarakan dimaksud juga bisa dimaknai sebagai ekspresi rasa semangat menggebu-gebu menyambut datangnya bulan suci yang digambarkan menawarkan berbagai bonus ampunan, rahmat, dan pembebasan dari api neraka itu. Dalam konteks tersebut sah-sah saja bahkan bagian dari bagaimana kreatifitas entitas budaya bangsa ini dalam menawar kehadiran norma-norma Islam.
Akan tetapi jangan lupa di tengah paradox tersebut ada hikmah Ramadhan yang perlu dipetik, yaitu bagaimana ibadah ini menghasilkan mutu kemanusiaan yang menembus batas (suku, ras, dan agama) dengan memberi manfaat bagi semua. Derajat kualitas ibadah puasa Ramadhan diukur dari sejauhmana pengamal ibadah ini melampaui ego dirinya sendiri, pembebasan dari hasrat biologis, keluar dari perangkap struktur kesadarannya yang dibentuk entah oleh institusi agamanya, kelompoknya, ideologisnya, genetisnya dan berbagai atribut social lainnya.
Apakah ini hakikat makna Ramadhan? Belum tentu, karena lagi-lagi Tuhanlah yang punya kewenangan menilainya. Semua tafsir sok tahu, termasuk tulisan ini, hanyalah terkaan akal manusia yang sungguh terbatas, subyektif, dan terkadang naif.
#bilikrenungeps49
Penulis oleh: saifudin zuhri
Pada tangga : 11/11/11
0 comments:
Posting Komentar