Jumat, 27 Agustus 2021

NEW NORMAL DAN REVOLUSI SELERA

Dengungan new normal semakin kencang dan bangsa ini seakan tak sabar memasuki era tersebut. Entah apakah setiap orang sudah memahami betul apa hakikat new normal dan apa kewajiban yang melekat di dalamnya seakan tak penting-penting amat, yang jelas gelora hasrat segera keluar rumah, memeriahkan ruang public dan beraktivitas seperti sedia kala seakan sudah di ubun-ubun semua orang. Tak ayal ruang-ruang public yang belum begitu siap infrastrukturnya dan kegamangan aparatur Negara menegakkan protocol kesehatan dengan tegas tak berbanding lurus dengan nafsu khalayak yang begitu membuncah. Lihatlah bagaimana pasar-pasar penuh sesak penjual dan pembeli, mall-mall mulai bermandikan cahaya menyambut tamu-tamu agungnya, obyek-obyek wisatapun mulai ramai dipadati pengunjung, dan rumah-rumah ibadah juga dipenuhi hamba-hamba yang rindu Tuhannya dimana rumah ibadah seakan tempat satu-satunya mengobati rasa rindu itu. Saya tak tega mengatakan apa akibat itu semua. Barangkali tinggal berharap pada herd immunity dan toh jika akhirnya bertemu ajal sekalipun kita bisa menetralisir kematian bukanlah akhir segalanya. Kita sudah sedemikian lama dan dalam tenggelam dalam gaya selera yang tidak sepenuhnya kita ciptakan. Keterbenaman kita dalam selera itu bahkan tak menyadarkan kita siapa jati diri kita sesungguhnya dan kenikmatan dalam hedonism selera itu bahkan membuat kita tak lagi jeli mana sesungguhnya kebutuhan primer, mana sekunder, dan mana tersier. Dalam mesin industri selera itu status manusia dipertaruhkan, apakah kita menjadi terhormat atau hina dina. Ketika peradaban modern ditampar oleh kehadiran wabah global yang bernama corona manusia terpaksa masuk era New Normal. Sebuah era dimana manusia mau tidak mau harus kembali pada prinsip dasar untuk melangsungkan kehidupan, yakni kesehatan. dan ekonomi. Dua aspek tersebut harus bejalan seimbang dan terukur. Namun apa boleh buat akibat terlalu lamanya manusia modern tenggelam dalam industri selera begitu berat menaati tuntutan kesehatan. Kesehatan belum menjadi paradigma hidup karena itu muncul banyak fenomena orang memakai masker, mencuci tangan, dan physical distancing dll lebih karena perintah aturan dan takut sanksi daripada kesadaran diri. Keinginan untuk memenuhi selera yang selama ini sudah kadung menjadi gaya hidup menjadi lebih penting daripada tunduk pada kebutuhan hidup sehat. Karena itu penerapan new normal akan sangat bergantung sejauh mana kita mampu merevolusi selera yang selama ini kita nikmati dan menjadikan kesehatan sebagai factor penting dalam hidup yang selama ini diabaikan. #bilikrenungeps14 Penulis oleh: saifudin zuhri Pada tangga : 11/11/11
Share:

0 comments:

Posting Komentar