Suara dari Garis Belakang
Jika melawan pandemic global covid-19 ini diibaratkan perang maka kami berada di garis belakang di medan laga. Kami memang tidak berhadapan langsung dengan musuh bersama yg bernama virus corona namun yang jelas kami juga tak bisa menghindar dari terjangan dampak bencana.
Kami memang tidak berada di panggung depan yang jika ada peristiwa sekecil apapun menjadi menjadi headline berita media massa. Kami tak punya kecakapan bagaimana mengungkapkan perih rasa menjadi viral di media. Selain itu kami miskin tradisi mengeluhkan sesuatu yang menimpa hidup kami, karena keyakinan akan takdir bukan berarti menyerah dan putus asa, namun menjadi pelipur lara agar tetap menyisakan asa.
Kami memang tak berada di garis depan dalam perang badar menaklukkan wabah ini namun yang pasti kami juga menanggung derita dari semua ini. Kami harus berjuang bagaimana tetap berdiri layaknya laki-laki di hadapan anak istri di tengah ketidakpastian memberi makan mereka esok hari. Kami harus melipatgandakan kerja keras di sawah ladang kehidupan kami yang jika panen pun tak ada jaminan akan terbeli. Kami harus membanting tulang dan memeras keringat berlipat kali walau tak ada yang memberi tambahan honor dan asuransi karena bekerja lebih lama dan lebih berat dari biasanya.
Di garis belakang kami terbata-bata membaca keadaan. Ribuan peristiwa dan untaian kata yang jangankan memahami, mendengar istilahnya saja masih asing di telinga, sejak dari nama corona itu sendiri, covid-19, sosial distancing, physical distancing, new normal, dll. Namun yang pasti dampak pagebluk ini dengan jelas kami rasakan dampaknya.
Kami bukan tak peduli dengan semua ini, namun kadang hidup tak memberi banyak pilihan. Kami merasa tak perlu memviralkan bagaimana rasa derita kami dalam unggahan status #Indonesia.menyerah# dan lain sebagainya. Selain kami kurang cakap dalam teknologi, bagi kami hidup punya titahnya sendiri. Dan kami ditugaskan untuk menjalani dengan sepenuh hati. Dari barisan paling belakang di medan laga ini kamipun berjuang mempertahankan diri dan sekuat tenaga seirama di medan laga sambil meratap dalam doa semoga kita semua memenangkan pertempuran ini.
Kamilah para petani, para buruh, pekerja srabutan, pekerja tak jelas yang tidak tercantum dalam daftar jenis pekerjaan di KTP, pedagang kecil, dan orang-orang desa.
#bilikrenungeps13
Penulis oleh: saifudin zuhri
Pada tangga : 11/11/11
0 comments:
Posting Komentar