Jumat, 27 Agustus 2021

3 Fundamen Budaya Jawa yang ditohok Corona

Mengapa protap covid-19 ini begitu rumit diterapkan dalam kultur masyarakat Jawa khususnya dan Indonesia pada umumnya. Setidaknya ada 3 hal yang mendasar dalam sistem sosial masyarakat Jawa yg tertohok oleh pandemic Covid-19 ini: 1. Kultur berkumpul. Sebagai habitat masyarakat komunal perkumpulan adalah mekanisme sosial dan dengan itu problem sosial diselesaikan. Maka ada istilah "mangan ra mangan sing penting kumpul". Corona menganggap perkumpulan sbg masalah dengan menawarkan antitesanya: physical distancing dan social distancing. 2. Bentuk dan mimik wajah mencerminkan kharakter dan menentukan proses komunikasi antar individu atau individu dengan kelompok. Dari ekspresi wajah itulah menyimbulkan banyak makna yg tidak seluruhnya bisa diungkapkan dalam bahasa lisan ketika sedang berinteraksi dan berkomunikasi. Itu pula mengapa bentuk wajah dan warna air muka dipakemkan dalam tokoh-tokoh pewayangan Jawa sebagai simbul kharakternya. Corona menghadirkan atribut baru dalam wajah manusia yakni masker. Dengan memakai masker 50% wajah seseorang tertutup, dan ini tentu menghalangi sebuah interaksi. 3. Sakralitas kematian. Dalam pandangan Jawa kematian adalah suci dan fase terakhir bagi yg ditinggalkan memberi penghormatan terakhir bagi jasad yg hendak dikuburkan. Terdapat ajaran luhur "mikul duwur mendem jero", imperasi moral untuk menjunjung tinggi marwah orang yg kita hormati hingga akhir hayat. Protap covid-19 memaksa orang-orang yang ditinggalkan meratap dalam kesedihan tanpa bisa menyentuh dan memandikannya, bahkan sekedar melihat raut wajah almarhum/almarhumah untuk yg terakhir kali pun tak diizinkan. Tatanan baru yang disebut dengan new normal memang telah diwacanakan dan beberapa aspeknya telah mulai diterapkan. Namun sebagaimana sebuah perubahan budaya, apalagi menyangkut aspek fundamental dalam sebuah sistem budaya tentu memunculkan shock, guncangan, dan ketidaknyamanan. Dibutuhkan waktu untuk proses transformasi budaya yang tidak mudah ini. Dan biasanya orang Jawa menyikapi ketidakberdayaan itu dengan perlambatan, kepasrahan, eskapisme, dan melawan dalam diam. #bilikrenungeps15 Penulis oleh: saifudin zuhri Pada tangga : 11/11/11
Share:

0 comments:

Posting Komentar