Jumat, 27 Agustus 2021

POLEMIK RUU HIP ADALAH INVOLUSI

Tentang Rancangan Undang-Undang (RUU) Haluan IdeologiPancasila (HIP) yang mencuat akhir-akhir ini menuai polemik. Dari sekian alasan, RUU tersebut pada intinya dianggap sebagian kelompok masyarakat dapat mendistorsi subtansi dan makna nilai-nilai Pancasila. Apakah benar demikian? Aspek mana yang perlu dipersoalkan? Apakah relevan polemik tersebut di tengah ancaman pandemic covid-19 ini? Menurut hemat saya kekhawatiran akan distorsi Pancasila apalagi dengan menghembuskan isu PKI bangkit kembali agak berbau kepentingan politik daripada fakta. Saya tidak yakin bahwa isu kebangkitan PKI itu faktual. Bahwa perlu waspada atas ancaman latent itu harus, namun menghembuskan isu tersebut patut dicurigai agenda kepentingan politik kelompok tertentu di belakangnya. Yang justru lebih dipersoalkan menurut saya adalah sebagai berikut: 1) Pancasila sebagai ideologi bangsa mengapa dimasukkan dalam RUU. Padalah dalam hierarkhi hukum di Indonesia Pancasila menduduki posisi terntinggi sebagai sumber hukum dari segala hukum di Indonesia, mengapa ditarik ke bawah menjadi Rancangan Undang-undang,. Pancasila adalah ideologi, falfasah, pandangan hidup, dan dasar negara tidak semestinya direduksi menjadi rancangan undang-undang. 2) Membuat polemik di kala bangsa ini menghadapi ancaman serius pandemic global covid-19 adalah kurang tepat dan tidak elok. Mestinya sekarang adalah momentum bagaimana menghadapi problem pandemik dan dampaknya. Kalaupun toh dikaitkan dengan ideologi adalah bagaimana ideologi Pancasila menjadi semangat dan dasar dalam penyelesaian. Bukan mempersoalkan idologi itu sendiri. Problem utama ideologi Pancasila sejak dulu ada pada implementasi, bukan pada diskursusnya. Karena Pancasila secara konseptual sudah final. Coba kita lihat dalam konteks melawan corona bagaimana bangsa-bangsa lain di dunia sudah tidak peduli apa ideologi masing-masing negara, namun lebih krusial pada bagaimana efektifitas tata kelola dan sistem operasional di negara tersebut efektif menyelesaikan persoalan pandemic ini. Nah kita ribut lagi masalah ideologi. Ini adalah involusi dan mundur ke belakang. Di kala dunia sudah meninggalkan apa itu ideologi dan beranjak bagaimana menemukan cara menata kelola kehidupan warga menjadi lebih aman, adil, dan sentosa, maka berakhirlah ideologi dalam bentuknya yg utuh seperti dulu. Kalaupun ideologi diperlukan hanya sebagai fungsi untuk menyatukan, memotivasi, dan bagaimana mencari formula terbaik bagi kepentingan bangsa dan negara. Inilah era "the end of ideology", "the end of history" dan "the dead of nation-state". Itulah mengapa hari ini China tak sepenuhnya berwajah sosialis-komunis krn mendiang Deng Xioping pernah mengatakan: "bagi China kucing itu tidak penting apakah berwarna merah atau kuning, yg penting bisa menangkap tikus". Begitu pula Amerika negara dedengkot liberalisme-kapitalisme dan promotor utama pasar bebas. Namun lihatlah negara paman sam itu sangat protektif dengan ekonomi dalam negerinya. Begitu juga negara-negara skandinavia dan Eropa Barat. Semua berselebrasi dalam berbagai cross-cuting ideologi, ada nilai dan konsep yg saling disatupadukan. Semuanya demi pengelolaan terbaik buat rakyatnya masing2. Nah kita di negeri ini hingga hari ini sibuk dengan jargon2 sejarah yang tidak pernah kita baca baik2 dengan cermat. Dan....lagi-lagi kita meributkan sesuatu yg kita pun tidak tahu pasti apakah keributan itu berguna bagi manusia kebanyakan. Saling tuduh PKI dan tidak Pancasilais muncul mewarnai polemik RUU HIP. Sementara wabah pandemic covid-19 tak ada tanda-tanda mereda, apalagi berhenti, namun energi bangsa ini dikuras dengan meributkan sesuatu yg entah siapa mendulang keuntungan di tengah situasi ini. Saya jadi memahami mengapa orang-orang di desaku segera memindah channel televisinya ke siaran sinetron picisan, drakor, film mistik, dangdutan, daripada menyimak para politisi berdebat mengisi ruang publik di media massa. Saya pun jadi paham mengapa generasi milennial lebih sibuk main game online, bermain tiktok dll daripada mendengarkan petuah orang-orang tua yang asing di telinga mereka. #bilikrenungeps16 Penulis oleh: saifudin zuhri Pada tangga : 11/11/11
Share:

0 comments:

Posting Komentar