Senin, 30 Agustus 2021

"VAKSIN oh VAKSIN” Antara Gembira dan Nestapa

Setelah sekian lama dunia dilanda corona umat manusia menghadapi kekhawatiran akan keberlangsungan populasinya di dunia ini. Begitu juga di negeri ini, dampak pandemic yang semakin menjadi-jadi dan mengalami perluasan eskalasi menjadikan bangsa ini dibayangi rasa frustasi. Datangnya import vaksin dan mulai didistribusikan ke sejumlah pelosok negeri memberi secercah harapan. Di satu sisi, gerak cepat pemerintah menghadirkan vaksin memang layak diapresiasi, ditengah keterbatasan jumlah vaksin di dunia. Tidak banyak negara di dunia ini yang memiliki kemampuan memproduksi vaksin yang ditunggu-tunggu itu. Di tengah keterbatasan tersebut, pemerintah Indonesia bisa mengimport secara cepat adalah prestasi tersendiri yang untuk sementara layak dihargai. Namun di satu sisi apakah vaksin menjadi solusi fundamental dalam menghadapi pandemi? Bagaimana implikasi import vaksin terhadap kedaulatan bangsa ini? Apa kabar jenis vaksin yang diproduksi dari anak negeri sendiri? Mari berlogika secara sederhana. Untuk itu kita ingat kembali sebuah semboyan cukup popular semasa kita sekolah dasar, yakni “mencegah lebih baik daripada mengobati”. Semboyan ini nampak sederhana dan sering diremehkan di tengah determinasi gaya hidup modern yang cenderung instan, hedonis, dan berciri culture of spectacle. Semboyan sederhana tersebut mengajarkan bahwa kesehatan adalah hasil dari investasi panjang pola hidup sehat. Imun tubuh diperoleh sebagai hasil proses panjang gaya hidup sehat yang dilakukan secara rutin, konsisten, dan disiplin. Pola makan sehat dan tepat waktu, istirahat cukup dan teratur, olah raga rutin dan terukur, berjemur matahari di pagi hari, dan cara berpikir positif dan seimbang adalah contoh investasi kesehatan yang harus ditanam secara sistematik dan tersencana. Stamina dan daya tahan tubuh tidak bisa dibentuk secara instan dengan minum suplemen dan obat kuat secara seketika. Vaksin akan semakin efektif gunanya jika investasi kesehatan sudah lama ditanamkan dalam tubuh kita. Namun jika kita malas dan tidak istiqomah dalam berinvestasi kesehatan sejak lama maka vaksin ibarat pemadam kebakaran ketika kobaran api sudah mengepung kita. Memang bisa menyelamatkan namun bukanlah sikap fundamental. Jika terlalu mengandalkan vaksin sejatinya kita membalik semboyan luhur tersebut menjadi “mengobati lebih baik daripada mencegah”. Import vaksin juga berimplikasi terhadap bagaimana posisi bangsa ini di tengah industri teknologi farmasi ini. Sebagaimana yang lalu-lalu negeri ini selalu terjebak dalam sistem ketergantungan pasar global, yang dalam hal ini adalah industri vaksin. Ada logilka hukum pasar di sini. besarnya jumlah penduduk Indonesia tentu ini menjadi ceruk pasar yang menggiurkan bagi Negara produsen vaksin. Memang dalam hukum pasar ada rumus suplay and demand, transaksi, dan pertukaran. Namun dengan berposisi sebagai pasar tentu bangsa ini menjadi tergantung dan menjadi ladang pengerukan keuntungan bisnis negara produsen atau korporasi kapitalisme global. Sayup-sayup terdengar bahwa anak negeri ini sudah berhasil membuat vaksin sendiri memang menjadi angin syurga dan kabar gembira. Vaksin yang dinamai “Merah Putih” memberi semacam secercah harapan bahwa di tengah pandemic bangsa ini berhasil memproduksi vaksin sendiri. Vaksin yang dilabeli dengan jiwa nasionalisme dan patriotism itu konon berbasis riset dari sebuah perguruan tinggi. Prestasi para akademisi patut disyukuri dan dan harus diapresiasi. Namun jangan sampai prestasi baik itu pada akhirnya mandeg di tengah persaingan pasar dan tuntutan lapangan. Kebutuhan vaksin inti harus mencover seluruh negeri ini yang begitu luas, berpenduduk besar, dan berwilayah pulau-pulau. Oleh sebab itu prestasi ini jangan sampai terhenti hanya pada fase discovey atau penemuan semata, namun dituntut memiliki kemampuan menjawab tuntutan mekanisme hukum pasar, seperti kehandalan manajemen produksi, kemampuan distribusi, daya saing harga, jaminan sustainabilitas, dukungan regulasi, inovasi teknologi, dan lain-lain. Jika persoalan itu tidak mampu dijawab oleh anak-anak pintar negeri ini maka dikhawatirkan vaksin Merah Putih pada akhirnya senasib dengan temuan teknologi anak negeri yang lalu-lalu, seperti pesawat terbang Nortanio, mobil Esemka, dll. Dan..akhirnya hasil penelitian anak-anak pintar bangsa ini teronggok di rak-rak buku perpustakaan kampus, dan ruang-ruang laboratorium yang hanya gegap gempita ketika dilounching dan dipublikasi, namun mati suri dan bertekuk lutut di pasar negeri sendiri. Jika ini yang terjadi maka kembali langit negeri ini akan lebih dihiasi oleh lengkingan doa pasrah diri. #bilikrenungeps35 Penulis oleh: saifudin zuhri Pada tangga : 11/11/11
Share:

0 comments:

Posting Komentar