Rabu, 31 Agustus 2022

MENJADI INDONESIA

MENJADI INDONESIA (Dipersembahkan untuk Memperingati HUT RI ke-77). Oleh Saifudin Zuhri. Dalam sejarah peradaban manusia muncul berbagai jenis sistem sosial yang mengatur kehidupan bersama, seperti kesukuan (tribalisme), keyakinan agama (teokrasi), dan negara-bangsa (nation state). Dari semua bentuk sistem sosial tersebut “negara-bangsa” yang paling banyak diikuti oleh mayoritas negara di dunia ini. Nation state paling banyak dipilih karena sistem ini dianggap paling kredibel dalam merespon perkembangan jumlah penduduk dunia dan temuan-temuan teknologi yang semakin pesat. Pertumbuhan demografi dan kemajuan teknologi inilah yang menyebabkan interaksi antar kelompok di seluruh belahan dunia menjadi kian kompleks dan mengglobal. Dua faktor itulah (pertumbuhan demografi dan temuan teknologi) yang meningkatkan intensifikasi dan ekstensifikasi interaksi sosial penduduk dunia dalam keragaman yang tak terhindarkan. Untuk mengelola keragaman warga negaranya dan mengatur pergaulan antar negara dalam globalisasi, sistem nation-state menggunakan demokrasi dan hak asasi manusia (HAM) sebagai pilihan. Demokrasi dan HAM menjadi prinsip dasar bagaimana sebuah kekuasaan dikelola dengan memberi perlindungan hak-hak dasar warga negara. Dalam sistem demokrasi kesetaraan, kebebasan, dan kedaulatan rakyat dijamin, walaupun faktanya tidak semua negara mampu mewujudkannya dengan sempurna, namun inilah sistem yang sejauh ini paling handal dan ideal sehingga dijadikan rujukan hampir semua negara di dunia. Demikian halnya Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang merepresentasikan bentuk nation-state tersebut. Walaupun latar belakang yang menginspirasi berdirinya Indonesia adalah respon terhadap kolonialisme, namun dalam proses kontruksi nation-state Indonesia mengalami proses dialektika dengan unsur-unsur kehidupan masyarakat yang sudah ada sebelum kemerdekaan, seperti pengaruh kerajaaan-kerajaan kuno Nusantara, kesukuan, perdesaan, dan pengaruh kepercayaan agama. Dalam perjalanan menjadi Indonesia hingga hari ini dan ke depan, bangsa ini akan terus berproses dan “menjadi” sesuai dengan kharakter khasnya. Memang tak dipungkiri dalam mengkonstruksi sistem ketatanegaraan mengadopsi beberapa hal dari negara lain, khususnya dari negara kolonial Belanda dan juga Jepang, namun setelah kemerdekaan bangsa ini memroses dirinya sendiri. Luasnya wilayah negara kepulauan, kekayaan sumber daya alam yang dimiliki, besarnya jumlah penduduk, dan keragaman budaya, adalah unsur-unsur penting ke-Indonesia-an. Indonesia bukanlah cetak biru negara-bangsa yang sudah selesai. Bangsa ini berada dalam proses “menjadi” dalam dialektika terus menerus dengan unsur-unsur pembentuk identitas nasionalnya. Jangan pernah terlalu yakin menyimpulkan bangsa ini dalam sebuah bingkai tertentu. Jangan pernah memotret bangsa ini dalam satu titik sudut kemudian terlalu yakin bahwa potret itulah satu-satunya representasi wajah Indonesia. Jika anda berhenti dalam satu sudut pandang dapat dipastikan anda akan kecewa dan kecelik. Eksistensi bangsa ini terletak dalam proses dialektika terus menerus di antara mozaik entitas budaya yang tersebar dalam bentangan ribuan pulau dari Sabang sampai Merauke. Berbagai variable secara simultan mempengaruhi pandangan hidup warganya hingga mengkonstruksi negaranya, karena itu jangan pernah berhenti pada satu titik menatap wajah Indonesia. Letak kekuatan bangsa ini ada dalam orkestra keragaman yang diproses secara terus menerus. Kharakter itu yang tidak ditangkap oleh para pengamat dunia (Indonesianis) bahkan di antara warga negara Indonesia sendiri, sehingga sering salah sangka dan gagal paham. Berhenti di satu titik dalam menerka Indonesia anda akan terperangkap dalam paradok-paradok yang membingungkan. Ada saat bangsa ini tampak begitu religius namun di saat bersamaan begitu hipokrit (munafik), ada saat bangsa ini begitu santun dan bertata krama namun terkadang perilakunya ugal-ugalan dan banal, di satu sisi bangsa ini terlihat rapuh dan inferior namun di sisi lain begitu perkasa dan digdaya yang mengejutkan dunia, ada saat negara ini terlihat sangat modern dan berkemajuan namun juga masih banyak cara pandang irasional dan terbelakang, dan lain sebagainya. Inilah Indonesia, sebuah bangsa yang berproses terus menerus dan penuh warna-warni. Di usia yang ke-77 (tujuh puluh tujuh) Indonesia terus melukis dirinya dalam kanvas peradaban dunia. Di tanah air inilah kita semua bangsa Indonesia merajut kehidupan bersama dalam keragaman hingga ajal tiba. Dirgahayu negeriku yang ke-77, kita adalah INDONESIA. #Bilik.Renung.Episode_170822#
Share:

0 comments:

Posting Komentar