Rabu, 31 Agustus 2022

MUSIK DANGDUT DAN KEJUJURAN SELERA

MUSIK DANGDUT DAN KEJUJURAN SELERA. Oleh Saifudin Zuhri. Tak seperti biasanya perayaan HUT RI ke-77 ini. Pada tahun-tahun sebelumnya pasca upacara bendera biasanya yang menjadi pusat perhatian adalah pasukan Paskibraka (Pasukan Pengibar Bendera Pusaka), namun ada fenomena menarik kali ini yakni tampilan dangdut koplo dengan judul lagu “Ojo Dibandingke” karya ciptaan Abah Lala yang dibawakan penyanyi cilik asal Banyuwangi Farel Prayoga. Tidak cukup sampai di situ, irama lagu dangdut itu memaksa jujur selera bangsa ini untuk menggoyangkan tubuhnya mengikuti ritmik kendang koplo dan orkestra yang dimainkan para musisi mengiringi syair-syair lagu tersebut yang diujung salah satu baitnya digubah oleh sang penyanyi cilik itu dengan diksi “pak Jokowi”. Mendadak seluruh hadirin yang hadir setelah mengikuti upacara yang begitu menegangkan dan militeristik itu cair dalam suasana riang gembira. Sejumlah menteri hingga ibu negara turut bergoyang dangdut, ada yang fasih berjoget, ada yang heboh, ada yang sekedar menggerak-gerakkan jari tangannya, dan ada pula yang gerakan tubuhnya tampak kaku dan wagu. Hadirnya musik dangdut koplo di momen upacara resmi kenegaraan memang sebuah fenomena baru, namun ada dua hal yang menjadi perhatian bilik renung ini, yaitu: 1) bagaimana perjalanan sejarah musik dangdut koplo menjadi genre baru dalam industri music di Indonesia, dan 2) bagaimana jenis music yang sebenarnya hasil akulturasi budaya ini merepresentasikan selera bangsa ini. Pertama, secara historis musik dangdut saja sudah merupakan wujud akulturasi budaya yang bercampur baur antara India, Melayu, dan Jawa. Arti kata “koplo” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah kop.lo [Jw a] "dungu". Ketika kata tersebut digabungkan menjadi “dangdut koplo” adalah sebuah sub aliran dalam musik dangdut, dengan ciri khas irama yang cepat dari gendangnya. Aliran ini dipopulerkan oleh grup musik orkes melayu atau yang biasa disingkat dengan OM. Dangdut koplo adalah inovasi dari musik dangdut itu sendiri dengan cirikhas ketukan kendang yang ritmenya menjadi lebih cepat dan menghentak-hentak. Peralatan yang digunakan dalam liran musik ini diantaranya, gendang; drum set; suling; tamborin; gitar (akustik atau elektrik), dan terompet. Pertama kali (sekitar tahun 90-an) jenis aliran ini muncul di daerah pantai utara (Pantura) seperti Gresik, Lamongan, Tuban, Sidoarjo, Rembang, dan juga Kediri. Jenis aliran musik ini menarik untuk diamati dari perspektif sosiologis dalam industri musik di Indonesia. Sebelum tahun 90an industri musik dangdut didominasi artis-artis ibukota dan Sunda. Kalaupun ada penyanyi dangdut dari daerah jika ingin popular maka harus berhijrah ke ibukota karena di Jakartalah pusat-pusat dapur rekaman dan manajemen artis itu berada sehingga sangat menentukan populeritas seorang penyanyi. Ketika arus demokratisi menguat di akhir 90an dan berpuncak pada pelengseran Presiden Soeharto dari tampuk kepemimpinannya maka pemusatan segala hal di Jakarta memudar dan diikuti oleh diversifikasi sumber-sumber ekonomi yang tidak lagi memusat di Jakarta, termasuk industry music dangdut. Potensi penyanyi dangdut yang ada di daerah yang sebenarnya tidak kalah kualitasnya dengan penyanyi ibukota semakin mendapatkan momentum untuk berkembang ketika bertemu teknologi media rekaman jenis baru sehingga bisa memproduksi secara mandiri. Indikator itu terjadi pada fenomena kemunculan Inul Daratista yang popular di penghujung tahun 90an dengan ikon “goyang inul” yang menghebohkan itu. Inul yang notabene artis lokal memproduksi karya seninya dari live panggung hajatan warga dari kampung ke kampung dalam sebuah kepingan CD sebagai media baru yang sebelumnya menggunakan kaset. Kepingan CD itu dipasarkan secara mandiri dari pasar ke pasar dan meledaklah era baru industri musik dangdut koplo. Berdasar deskripsi singkat sejarah kemunculan fenomena tersebut merupakan perlawanan daerah terhadap dominasi ibukota yang telah puluhan tahun memonopoli dan mendominasi dalam hal apapun di negeri ini, sejak dari politik, ekonomi, hingga industri musik. Seiring semakin canggihnya teknologi media rekaman dan masifnya penggunaan platform media sosial di era masyarakat rezomatik sekarang ini memperlebar peluang siapapun mengorbit dalam sekejap. Darimana asal penyanyi dan dimana proses produksi dilakukan tidak lagi penting karena di era digital ini mesin-mesin algoritma (viralitas) menjadi penentunya. Kedua, berjogetnya para tamu yang terhormat adalah sebuah kejujuran selera. Walaupun dangdut koplo adalah sebuah hiburan namun bisa menggambarkan fenomena bawah sadar bangsa ini. Kharakter jenis music ini adalah memadukan dari berbagai macam unsur jenis music dari berbagai aspeknya. Akulturasi budaya itulah kata kunci yang mewakili kharakter dasar bangsa ini yang memang multikulturalisme. Dengan ketukan kendang yang menghentak-hentak membuat pendengarnya bergoyang secara instingtif mengikuti gerak ritmiknya. Ritme irama kendang dibuat lebih dinamis mendobrak irama kendang sebelumnya yang dihitung secara kaku, demikian halnya nada suaranya dibuat meliuk-liuk menerjang kepakeman nada-nada suara yang dalam genre musik pop dan mozart yang begitu elitis dan mriyayeni itu. Pun pula isi dari bait-bait lagu dangdut koplo yang walaupun berkisah tentang percintaan selalu diungkapkan dalam diksi vulgar, apa adanya, dan biasanya ungkapan tentang kepahitan hidup dan kekalahan. Racikan dari semua itu dangdut koplo adalah representasi dari kenyataan hidup bangsa. Ada kalanya hidup ini harus serius, formal, dan sesuai aturan protokol, akan tetapi ada satu bilik di relung hati manusia Indonesia bahwa sesekali hidup ini juga butuh relaksasi, lentur, dan luwes mengikuti irama kehidupan yang kadang tidak pasti. Nampaknya lantunan suara Farel di depan istana negara kemarin memaksa siapapun untuk jujur tanpa basa basi. Ekspresi memang bermacam-macam, ada yang luwes berjoget, atraktif, hingga sekedar menggerak-gerakkan tangan. Ibu negara pun tidak kuasa menahan hasrat begoyang walau sedang berada di samping sang Kepala Negara, ibu Sri Mulyani yang tiap hari begitu serius dan berkutat dengan rumus-rumus akuntingnya pun dipaksa jujur turun dari panggung hanyut dalam goyangan massa, begitupun Kemenhan Bapak Prabowo yang belum lama ini mengumumkan “nawaetu”-nya maju kembali dalam Capres 2024 untuk kali ke-4 juga ikut begoyang walau dengan gerakan yang agak sedikit kaku, begitu pula Bapak Kapolri Listyo Sigit Prabowo yang walau aura wajahnya nampak murung karena institusinya sedang dirundung prahara ikut juga bergoyang walau sekedarnya. Itulah Indonesia, selalu saja ada ruang untuk menjadi manusia. DIRGAHAYU INDONESIA-ku. #Bilik.Renung.Episode_180822#
Share:

0 comments:

Posting Komentar