Jumat, 27 Agustus 2021

ADA SAAT MANUSIA MENJEDAKAN DIRI

Atmosfir peradaban modern begitu cepat berputar. Kehadiran teknologi menjadikan hidup manusia kian mudah dan praktis, namun juga semakin kompleks dan rumit. Lembaga-lembaga sosial, sistem budaya, dan pranata sosial sebagai hasil kreasi manusia dalam hidup bersama pun berada dalam laju arus percepatan dan kompleksitas tersebut. Teramat sulit berhenti sejenak di satu titik untuk sekedar menghela nafas dan merenungi hakikat siapa diri kita sesungguhnya dan untuk apa kita hadir dalam kehidupan ini. Norma-norma primordial, entah yang bersumber dari agama dan juga adat istiadat sebenarnya memiliki segenap perangkat untuk menjedakan waktu supaya mampu mengambil jarak dengan obyek sehingga manusia tidak terjebak dalam putaran rutinitas hidup sehari hari, baik sebagai individu maupun makhluk sosial. Itulah mengapa ada kewajiban puasa supaya memutus rutinitas makan, ada zakat supaya memutus rasa kepemilikan, sholat untuk menjedakan manusia dari aktivitas kerja. Begitu juga kepercayaan-kepercayaan lokal pun kaya dengan pranata semacam itu, sejak dari semedi, topo ngrame, pati geni, poso, sumeleh, dll. Penjedaan itu hanyalah metode untuk manusia kembali ingat kepada jati dirinya bahwa suatu saat nanti kita akan keluar dari rutinitas yang saat ini masih kita kendalikan sendiri, yakni kematian. Ya kematian adalah puncak kepasrahan manusia pada kodrat ilahi walau ditentang sekalipun ketika raga masih kuasa. Lihatlah bagaimana Fir'aunpun harus tunduk pada hukum ketidakabadian jasadnya walau ketika masih perkasa dan berkuasa mentahbiskan diri sebagai tuhan. Mengapa manusia perlu sejenak merenung dan menghayati dirinya sendiri? Tak lain supaya manusia mampu menjangkau makna tertinggi dalam hidupnya di tengah keterbatasan dan ketidakpastian. Kesadaran tentang makna dan hakikat itulah walau subyektif sifatnya setidaknya bisa mentralisir kecemasan di tengah kegaduhan dan kebisingan hidup. Oleh sebab itu ambil porsi sejenak dalam waktumu yang masih melimpah dengan mensunyikan diri. Barangkali di situlah makna diri bisa ditemukan. Untuk apa kita hadir di dunia ini dan seberapa jauh bisa memberi arti bagi sesama dan semesta. #bilikrenungeps28 Penulis oleh: saifudin zuhri Pada tangga : 11/11/11
Share:

0 comments:

Posting Komentar