Sang Guru Itu Akhirnya Gagal
Dulu saya sempat berharap di tengah kehadiran covid-19 yang begitu menyentak dan memporakperandakan tatanan yang telah dibangun umat manusia sekian lama akan ada hikmah yang dapat di petik. Mengambil hikmah itulah sikap positif daripada berkeluh kesah dan berputus asa.
Aku tak peduli apakah pandemi global ini rekayasa atau faktual, namun yang jelas dampak daya terjangnya merubah tatanan kehidupan umat manusia. Di tengah upaya berbagai pihak menemukan vaksin yang diharapkan menjadi penawarnya sikap positif adalah menumbuhkan harapan siapa tahu ada hikmah di balik musibah ini.
Dulu saya pernah berharap hikmah di balik tragedi ini adalah:
1) Manusia semakin sadar akan kesehatan dengan menata ulang pola hidup sehat, termasuk rajin berolah raga.
2) Menyatupadukan umat manusia dari beragai latar belakang yg berbeda karena fokus pada musuh yang sama yakni virus covid-19.
3) Menyeimbangkan tanggung jawab pendidikan anak sekolah, bukan hanya dibebankan guru dan lembaga sekolah, namun juga orang tua lebih peduli pada buah hatinya dan anakpun diproses dalam pendidikan lingkungan masyarakatnya.
4) Adanya pola konsumsi masyarakat lebih memprioritaskan kebutuhan primer dan pokok daripada luxary comsumption.
5) Aparatur dan birokrasi pemerintahan bekerja lebih keras, cerdas, dan ikhlas dalam memberi pelayanan publik khususnya dlm penanggulangan pandemi ini dan dampaknya. Bukan justru sebaliknya menjadikan program ini sebagai komoditas mendapat tambahan pendapatan apalagi korupsi.
6) Memilih pemimpin dan wakil rakyat karena kompetensinya, dan bukan karena politik uang, transaksi pragmatis, dan ikatan-ikatan primordial (suku, ras, agama, dan keluarga).
7) Beragama menjadi lebih private, kontekstual, dan bahkan rasional, daripada berdimensi afektual, ortodoks, dan dogmatis.
Merubah cara berpikir lebih induktif dan berdasarkan data empirik daripada opini, postruth, apalagi hoax.
Dan berbagai harapan lain....
Namun sekian lama sang guru Corona berjalan tak kunjung jua harapan hikmah tersebut bisa dipetik. Pola konsumsi kita kalaupun sedikit berubah lebih karena trend. Tak ada jaminan kesamaan musuh menjadikan kita kompak bersatu, bahkan kita saling serang dan menghardik satu sama lain.
Alokasi waktu anak-anak yang lebih banyak di rumah daripada di sekolah tak serta merta menumbuhkan keintiman orang tua terlibat mendidik buah hatinya, terkadang rasa gabut dan kepusingan justru melanda.
Menyurutnya industri hiburan, hedonisme, dan happiness bukan karena pertaubatan gaya hidup konsumtif untuk lebih hemat, namun lebih karena keterpaksaan sambil menunggu memontum balas dendam ketika kesempatan tiba.
Dalam pilkada, mobilisasi massa, goyang dangdut, strategi pencitraan dan berapa jumlah uang yg dimasukkan amplop sebagai mahar politik lebih menguras kapital calon pimpinan daerah dan wakil rakyat daripada konsentrasi membuat program nyata untuk rakyat. Begitu juga bagi pemegang suara jumlah uang dlm amplop yang diterima lebih menggiurkan daripada menjatuhkan pilihan atas dasar kompetensi.
Agama nampaknya belum beranjak dari tidur panjangnya yang lebih dipahami secara fanatik dan jumud oleh pemeluknya daripada sebagai ajaran yang mencerahkan dan membebaskan. Bahkan di tengah mausibah pandemi ini kadang agama justru pelipur lara tanpa solusi nyata dengan hiburan takdir dan kabar syurga.
Kecanggihan teknologi informasi memang menganugerahi kecepatan dan keluasan namun dalam media itu khalayak gagal mentradisikan data, kebiasaan fitnah dan curiga justru merajalela.
Dan tuan guru corona mengelus dada mengapa sang murid tak beranjak dewasa. Barangkali masih perlu waktu untuk mengeja walau terbata-bata.
#bilikrenungeps29
Penulis oleh: saifudin zuhri
Pada tangga : 11/11/11
0 comments:
Posting Komentar