Jumat, 27 Agustus 2021

Politik yang Semakin Binal dan Agama Yang Semakin Instrumental

Akhir-akhir ini khalayak disuguhi adegan berkualitas rendah di panggung politik. Muncul diksi-diksi yang menandakan bagaimana kualitas mental pengujarnya. Sebenarnya ingin saya mengambil salah satu kata sebagai contoh betapa semakin kasar dan rendahnya akhlak penyeru akhlak itu sendiri, aahhh...tak sampai hati aku menirukannya di sini. Budaya bangsa yang begitu soft, anggun, dan bermartabat terdegradasi oleh banalitas politik kekuasaan. Ungkapan bahasa bangsa ini menjadi semakin kasar, vulgar, dan rendah. Agama, ya agama sebuah pranata nilai yang dipercaya pemeluknya sebagai sumber kesucian dan keberadaban tiba-tiba sangat mudah dimanipulasi oleh sekelompok penafsir menjadi bagian dari kepentingan kekuasaan. Dalam tafsir kelompok ini agama semakin jauh dari kesan yang menyejukkan. Pesan-pesan agama lebih sering disuarakan dengan nada tinggi, emosional, dan fejoratif. Bahkan kalimat pujaan pengagungan Tuhan juga diteriakkan dengan nada beraroma dendam dan kebencian kepada lawan. Agama menjadi kian bernarasi rasionalitas instrumental daripada rasionalitas value. Di dalam suasana adegan panggung yang kian panas, para pembuat skenario berharap penonton menjadi hanyut emosinya terbawa oleh tujuan dan kepentingannya. Namun pembuat skenario tidak sadar bahwa di dalam ruang publik terdapat hukum sosial yang hakikatnya bersifat alamiah. Bangsa ini memiliki collective conciousness yang suatu saat nanti terjelma dalam collective action dalam format konstitusional dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Itulah mekanisme demokrasi yang menjungjung tinggi kedaulatan rakyat sebagai penghakim sahnya. Volk populi volk dei. Selamat menikmati apisode selanjutnya dari drama panggung politik nusantara ini. Sebagai penonton sesekali boleh tersenyum atau bahkan tertawa terpingkal-pingkal ketika dalam sebuah adegan sang pemeran terkadang sulit menyembunyikan watak aslinya. Meminjam istilah para tiktoker's "tidak ada akhlak", hih...!!! #bilikrenungeps30 Penulis oleh: saifudin zuhri Pada tangga : 11/11/11
Share:

0 comments:

Posting Komentar